Menit-menit berharga

Saya yakin yang membaca sudah kenal atau familiar dengan nama Septi Peni Wulandani, jadi saya tidak akan membahas tentang “siapa” ibu hebat ini. Saya hanya akan menulis tentang pengalaman singkat saya bertemu dengan beliau.

Tidak ada yang kebetulan, semua sudah diatur

Alhamdulillah kemarin saya diberi kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan Bu Septi. Hal ini tidak pernah terpikirkan sebelumnya karena kesempatan yang saya jadwalkan adalah bulan Desember, saat IIP Bekasi mengadakan acara milad IIP dengan mengundang keluarga beliau. 

Namun ternyata Alloh menentukan lain, di saat saya kebingungan dengan CBE yang saya inisiasi di Bekasi, Alloh memberikan kesempatan itu lebih awal dari jadwal. Dan dalam satu hari itu saya mendapatkan 3 pelajaran moral : 

  1. Tidak ada yang kebetulan, Alloh sudah mengatur dan mempersiapkan semuanya.
  2. Guru/ilmu akan hadir/datang ketika murid sudah siap, tentu saja ada ikhtiar dan doa yang berperan di sini
  3. Jadwalkan prioritas, bukan prioritaskan jadwal.

Ketiga pelajaran moral di atas memang benar saya rasakan. Kemarin sebenarnya ada 3 agenda yang sudah terjadwal. Kegiatan IIP di rumah, bertepatan juga dengan event  sahabat launching project keluarganya dengan mengundang Bu Septi untuk datang ke Bekasi, juga agenda lama yang tertunda untuk menengok saudara yang melahirkan.Tapi qodarulloh kegiatan di rumah batal, tinggal 2 agenda, dan akhirnya saya memilih untuk menemui Bu Septi dengan 2 tujuan; pertama untuk sharing CBE, yang kedua memfasilitasi istri mengadakan pre-meeting milad IIP bulan Desember, karena kebetulan dia ditunjuk sebagai ketua pelaksana. Nah, bukankah semua sudah diatur rapi? 🙂

Kuliah singkat penuh makna 

Diskusi dengan Bu Septi seperti mengalir begitu saja. Banyak hal yang ternyata saya lewatkan selama ini terbuka di situ, terutama masalah komunitas dan mengerucut lagi tentang CBE. 

Walaupun tidak ikut acara KAMTASIA yang diselenggarakan Padepokan Margosari, tapi saya berasa di sana melalui pemaparan beliau yang sangat teknis tapi detil dan terstruktur sekali. Berikut adalah 3 poin CBE yang saya dapatkan langsung dari Bu Septi untuk menambah dan menambal tulisan sebelumnya :

  • Member engagement adalah yang utama, karena dari sinilah titik awal sebuah komunitas menuju kesamaan misi dan visi, hal ini bisa dilakukan dengan melakukan banyak aktivitas bersama, minimal sering berkumpul.
  • Member engagement ini biarkan berjalan apa adanya dulu, dimulai dengan jumlah keluarga seadanya. Seiring berjalannya waktu dan banyaknya aktivitas bersama, akan terbentuk rasa saling terikat dan membutuhkan satu sama lain. 
  • Komunitas bukan society, karena itu gunakan jejaring terdekat untuk memulai.

    Bila melihat poin-poin di atas, member engagement memang sangat ditekankan beliau, karena dari sini akan membentuk komunitas yang “sehati” itu sendiri yang pada akhirnya bisa bersinergi. It takes a village to raise a child, tidak akan terjadi tanpa adanya keterikatan dan tanpa adanya interaksi yang intens satu sama lain. Ketika semua sudah kenal, akan ter-mapping dengan sendirinya kekuatan dan keunikan dari masing-masing keluarga. Di situlah komunitas ini bisa disebut CBE.

    Apakah hanya itu saja? Dalam masalah CBE, memang hanya seperti itu. Tapi beberapa poin tentang keluarga pun ikut disinggung yang pada intinya hampir sama, seperti:

    • Misi keluarga, seperti halnya komunitas tidak bisa ditentukan dengan mudah. Perlu waktu untuk memetakannya. Dalam hal ini saya teringat seorang Coach yang mengatakan bahwa sebuah misi bisa ditentukan ketika sudah mengenal diri sendiri.
    • Merujuk poin di atas, cara-cara mengenai management keluarga juga bisa menjadi topik diskusi (manajemennya saja, bukan berarti kemudian ghibah tentang “dapur” keluarga masing-masing).

    Itulah sedikit banyak ilmu yang saya dapatkan dari sekitar 15 menit berdiskusi (atau lebih tepatnya kuliah) dengan bu Septi Peni Wulandani. Ya, 15 menit yang berharga

    Deschooling

    Suatu ketika ada teman “curhat” tentang anaknya yang ingin sekolah di rumah (HS), tapi ketika sudah mulai dan diberikan jadwal belajar, anaknya berontak tidak mau sehingga teman saya ini pun bingung.Saya hanya bilang bahwa anaknya lagi fase deschooling. Apa itu deschooling? 

    1. Definisi Deschooling

    Setidaknya ada 2 definisi deschooling yang saya tahu; yang pertama menyebutkan bahwa deschooling adalah sebuah proses peralihan dari pola pendidikan terstruktur (sekolah) menuju pola tidak terstruktur (homeschooling). Yang kedua mengatakan bahwa deschooling  merupakan proses memperbaiki dan atau menjalin/mempererat komunikasi dan engagement antara orangtua dan anak. Tidak ada perbedaan sebenarnya, bahkan keduanya seperti saling melengkapi.

    Pada fase ini seharusnya orangtua membiarkan/membebaskan anak dari rutinitas sebelumya supaya bisa beradaptasi terhadap pola yang baru.

    Jadi, anaknya tidak belajar dong?

    Tunggu dulu, jangan buru – buru menyimpulkan. Belajar apa maksudnya? Apakah belajar mata pelajaran? Bila yang dimaksud adalah belajar mata pelajaran sesuai dengan yang diajarkan saat sekolah sebelumnya, maka ini salah. Tetapi bila dikatakan bahwa anak belajar tentang “gaya belajar” dan kehidupan (karakter, kemandirian) dan lainnya, ini baru benar.

    Deschooling, biasa juga disebut dengan masa detox  (mengeluarkan racun, dalam hal ini pola belajar terstruktur) pada dasarnya diperlukan bagi anak dan orangtua yang memulai HS. Seorang anak, bila sudah pernah merasakan sekolah, kemudian melanjutkan HS tentu harus beradaptasi dulu mengenai pola belajarnya, karena HS mempunyai prinsip dalam hal “kebebasan” belajar. Dari yang biasanya terstruktur dan terjadwal menjadi bebas dan sesuka hati (walau tentu sesuai pola/gaya masing – masing)

    Demikian juga dengan orang tua, harus ikut menyesuaikan dengan kebiasaan baru. Jangan sampai orangtua kaget dan justru kebingungan ketika memulai HS yang akhirnya membuat semua berantakan. Kaget yang saya maksud adalah orangtua menjadi tidak percaya diri dengan kemampuannya menjadi fasilitator anak, yang kemudian diaplikasikan dengan cara salah;contoh membuat jadwal belajar tanpa berdiskusi dulu dengan anaknya. Bila ini yang terjadi, maka mindset orangtualah yang sebenarnya butuh deschooling

    2. Proses Deschooling

    Saat proses deschooling berlangsung, yang dibutuhkan orangtua dan anaknya adalah banyak melakukan kegiatan bersama sama agar ikatan (bonding/engagement)  semakin kuat. Dalam waktu membersamai inilah nanti diharapkan orangtua dapat “lebih” mengenal karakter anaknya, khususnya dalam hal gaya belajar. Ketika hal ini (orangtua menemukan/mengenali) gaya belajar anak, maka bisa dikatakan bahwa proses deschooling sudah selesai.

    3. Berapa lama deschooling berlangsung?

    Pak Aar dari rumah inspirasi menulis bahwa lama proses deschooling bisa dihitung dari lama masa sekolah yang sudah dijalani, dengan n tahun sekolah = n bulan deschooling, misalkan sudah menjalani sekolah selama 7 tahun, maka masa/proses deschooling sekitar 7 bulan. 

    Bu Septi Peni Wulandani mengatakan, untuk memperkuat bonding/engagement antara ibu dan anak diperlukan sekitar 90 hari berinteraksi dengan melakukan banyak aktifitas bersama.Di sini yang ditekankan adalah penguatan bonding/engagement sehingga pada akhirnya orangtua dan anak menemukan pola belajar tertentu.

    Bahkan ada pula yang tanpa mengalami deschooling sehingga langsung berproses. 

    Nah, apakah ada di antara anda atau anak anda pernah atau sedang mengalami deschooling ini?

    Community Based Education (CBE)

    Apakah Community Based Education?Dalam khasanah bahasa Indonesia, CBE diartikan sebagai Pembelajaran Berbasis Masyarakat (PBM). Community diartikan sebagai masyarakat, bukan komunitas. Tapi, karena saya orang yang aktif di komunitas maka yang saya pakai di sini adalah community sebagai komunitas.

    Ibu Septi Peni Wulandani dari Padepokan Margosari, Salatiga mendefinisikan CBE sebagai berikut

    Community Based Education (CBE) adalah sebuah proses pendidikan untuk mengembalikan fitrah anak. Fitrah di sini berarti menemani anak menemukan fitrah bakatnya tanpa menjejali dengan berbagai macam ilmu yang tidak diperlukan. CBE bisa  juga dianalogikan sebagai makanan organik bagi tubuh.

    Secara konseptual, pendidikan berbasis komunitas adalah model penyelenggaraan pendidikan yg bertumpu pada:


    “DARI komunitas,UNTUK komunitas,dan OLEH komunitas”

    Dari definisi di atas, maka berikut adalah penjelasannya.

    Pendidikan “DARI” komunitas artinya pendidikan memberikan jawaban atas kebutuhan komunitas.

    Pendidikan “UNTUK” komunitas artinya komunitas diikutsertakan dalam semua program yg dirancang untuk menjawab kebutuhan mereka sendiri.

    Pendidikan “OLEH” komunitas artinya komunitas ditempatkan sebagai subyek/pelaku pendidikan, bukan sebagai obyek pendidikan.

    Satu hal yang harus disadari bersama adalah bahwa sebuah komunitas, apalagi yang sudah mengarah ke CBE, member perlu diberdayakan, diberi peluang, dan kebebasan untuk mendesain, merencanakan, membiayai, mengelola dan menilai sendiri apa yg diperlukan secara spesifik di dalam, UNTUK dan OLEH komunitas itu sendiri.

    Berikut adalah prinsip – prinsip yang biasanya ada dalam sebuah CBE :

    1. Menentukan sendiri :

    • Kegiatan yang dilakukan komunitas
    • Kurikulum pendidikan
    • Tempat kumpul komunitas
    • Lain lain yang berhubungan dengan roadmap CBE itu sendiri
    • Dan lainnya

    2. Menolong diri sendiri :

    • Tempat
    • Biaya
    • Akomodasi
    • Mentor/Fasilitator
    • Dan lainnya

    3. Menerima perbedaan

    • Perbedaan karakter anak
    • Perbedaan karakter keluarga
    • Dan perbedaan lainnya

    4. CBE sekaligus juga sebagai tempat pengembangan kepemimpinan.

    Bagaimana memulai sebuah CBE?

    Memulai sebuah Community Based Education berarti seperti memulai membentuk sebuah keluarga baru, tidak semudah teori di atas. 

    Saya pribadi masih harus berdarah darah dalam membangun sinergitas di komunitas dalam kaitannya membangun sebuah CBE.

    Berikut adalah yang saya lakukan dalam komunitas mengenai CBE :

    Samakan persepsi:

    • Yakin bahwa HE adalah kewajiban, sekolah adalah pilihan.
    • Yakin bahwa sejatinya yg diperlukan adalah pendidikan Inside Out, bukan Outside In.
    • Yakin bahwa setiap anak adalah unik, diperlukan tambahan (bagi yg sekolah) kurikulum yg fleksibel.
    • Yakin bahwa tugas kita (orang tua) adalah menemani anak membangkitkan potensi fitrahnya.
    • Sadar bahwa terlalu berat bila menjalankan seorang diri.
    • Yakin bahwa diperlukan jejaring/komunitas yang satu visi

    Persepsi di atas bisa dibangun ketika  di sebuah komunitas, membermember yang ada di dalamnya berpartisipasi aktif dan berinteraksi sehingga mindset antar member nya menjadi sama. 

    CBE bisa terwujud ketika sebuah komunitas mempunyai visi dan misi yang sama tentang pola asuh, pendidikan anak, serta pendidikan keayahbundaan (parenthood), sehingga pola pengasuhan anak “A” sama dengan pola pengasuhan anak “B”, walaupun dari 2 keluarga yang berbeda. Hal ini akan berdampak ketika berkumpul bersama, anak – anak tidak akan merasa dibedakan ketika berinteraksi dengan keluarga lain. 

    Bagaimana caranya? Bisa dimulai dengan berdiskusi baik online (melalui grup) maupun offline, bermain bersama, dan juga berkumpul bersama.

    Terakhir, berikut saya ambilkan petikan kalimat penyemangat dari Pak Dodik: 

    “CBE (Community Based Education) itu semangatnya memberi, berbagi, BUKAN mengambil, apalagi menuntut”
    – Dodik Mariyanto –

    Nah, bagaimana dengan komunitas anda?