Merancang Kegiatan Rumahan

Apakah kegiatan bersama anak itu harus selalu direncanakan/dirancang?

Pertanyaan seperti ini sering sekali diajukan, dan selalu ada lanjutan pertanyaan; bila rancangan tidak sesuai dengan hasil, bagaimana?

Sebenarnya merancang boleh-boleh saja,bahkan dianjurkan, karena bagaimana pun sesuatu harus ada ukuran sebagai acuan. Tapi yang harus diingat adalah jangan sampai spaneng dan terobsesi hehe, dalam arti jangan menjadikan rancangan sebagai sebuah kewajiban yang harus berjalan lurus sesuai track yang diinginkan, karena hanya akan mengganggu kreatifitas saja, bikin sewot bila tidak sesuai dengan yang diinginkan. Setelah rancangan kita buat, yang harus dilakukan kemudian adalah mendampingi anak-anak berkegiatan agar bisa memaknai setiap keunikan dan kejadian yang dilakukan anak, lalu mendokumentasikan dalam jurnal, dan terakhir memfasilitasi kegiatan lanjutan yang selaras dengan apa yang sudah dimaknai tersebut agar terus melingkar dan mekar menjadikan anak memiliki kekuatan berdasarkan bakat, kelimuan dan ketrampilan yang sudah diasah tadi.

Merancang diperlukan agar kita memahami aktivitas atau kegiatan yang akan kita lakukan dengan anak. Memahami apa saja makna yang bisa diambil dari kegiatan-kegiatan tersebut, baik berupa pemahaman anak, ketrampilan maupun sikap yang mungkin bisa tumbuh dari kegiatan yang akan dilaksanakan. Merancang juga bisa sebagai dokumentasi kegiatan, karena di dalamnya ada evaluasi kegiatan yang bisa ditindaklanjuti ke step berikutnya, apakah perlu peningkatan fasilitas, atau keragaman bahkan modifikasi.

Bagaimana bila ternyata kondisi aktual tidak sesuai rancangan? Tidak usah khawatir, poin terpentingnya adalah anak-anak dapat berkegiatan dengan riang gembira, berbinar dan bisa tertawa lepas. Ambil setiap makna yang didapat, entah itu sesuai dengan rancangan atau justru menemukan “makna-makna” lain yang ternyata bisa membuat kita berseru “AHA” , ternyata…!

Sepertinya mudah yaa? Atau malah tidak terbayangkan?:p

Studi Kasus

Beberapa waktu yang lalu saya diminta oleh guru dan sahabat saya Bunda Rita Riswayati untuk membuat template dokumentasi perjalanan anak-anak komunitas HEbAT Priangan Timur ke Bandung (Boscha), dengan melewati atau mampir ke Saung Udjo.

Ada yang menarik di sini, pertama karena saya tidak ikut terlibat di dalamnya baik secara online apalagi offline. Kedua, saya harus bisa membahasakan template saya sehingga mudah digunakan siapa saja, karena bagaimanapun ini adalah karya saya, yang secara otomatis memang saya buat untuk kepentingan sehari hari di rumah.

Ada 2 template di sini, pertama adalah template merancang kegiatan dan mini jurnal kegiatan, yang kedua khusus jurnal kegiatan anak

Saya berusaha agar semua mudah dipahami, berikut penampakan kedua template yang saya maksud bersama contoh pengisian masing-masing :

1. Merancang dan Mendokumentasikan Kegiatan Rumahan

Merancang Kegiatan
Contoh merancang kegiatan rumahan

Kolom 1

Berisi nama kegiatan beserta penjelasan singkatnya :

Penjelasan/deskripsi bisa sekaligus menjelaskan kondisi anak dan fasilitatornya

Misalnya kita akan isi dengan perjalanan di atas:

Field Trip to Bandung (sebagai judul)

Pada tanggal 11-12 Agustus 2017  Fauzan (8 th) didampingi oleh Bapak ikut serta dalam acara EduTrip ke Bosscha Bandung yang diselenggarakan oleh HEbAT Priangan Timur yang melewati Saung Udjo.

Jangan lupa karena ini termasuk eksplorasi maka yang dicentang adalah Jelajah Sekitar

Kolom 2

Alat dan Bahan serta Lokasi

Alat yang perlu dipersiapkan dalam kegiatan ini apa saja?

Alat yang dibawa : 

  • Pulpen
  • Buku Tulis
  • Baju Ganti
  • Kamera
  • Makanan ringan

Lokasi : Saung Udjo dan Boscha

Kolom 3

Terhubung ke pelajaran/materi/tema :

Perjalanan ini akan terhubung ke pelajaran apa saja?

  • Science
  • Kebudayaan
  • Sejarah
Merancang Kegiatan
Contoh merancang kegiatan rumahan

Kolom 4

Pokok Pikiran (Goal)

Apa saja kira kira hikmah yang bisa dimaknai dari kegiatan ini?

Yang akan dipahami anak:

  • Budaya
  • Teknologi
  • Sejarah

Ketrampilan :

  • Berkomunikasi/sosialisasi
  • Manajemen Perjalanan
  • Berkendaraan

Sikap yang (mungkin bisa) tumbuh :

  • Mandiri
  • Sabar
  • Kecintaan kepada Indonesia
  • Kecintaan akan Alloh SWT

Kolom 5

Skenario Kegiatan

Ada 6 kotak di sana, terserah berapa kotak yang akan diisi, yang penting, sebaiknya menyangkut 3 hal : Persiapan – Aksi Utama – Penutupan

Kotak pertama :

Persiapan : Persiapkan alat : Tas, ATK, baju ganti, kamera 

Kotak kedua :

Pergi dan kumpul di Banjar : Menggunakan kereta kemudian angkot sampai berkumpul di titik temu

Kotak ketiga:

Transit di Saung Udjo, melihat pertunjukan wayang 

Kotak ke empat : Pergi ke Boscha, melihat bintang

Kotak ke lima:

Penutupan: mengisi jurnal

Kotak ke enam:

Pulang ke rumah

Merancang Kegiatan
Contoh merancang kegiatan rumahan

Kolom 6

Evaluasi dan Jurnal Kegiatan

Refleksi dari kegiatan yang sudah dilakukan, bandingkan antara goal dan hasilnya, sama atau tidak sama, yang penting hepi haha, juga jangan lupa apakah kegiatan ini berguna dalam keidupan sehari hari?

Goal tidak sama, ternyata anak lebih suka lari larian daripada antri.

Untuk khidupan sehari hari, anak-anak jadi paham bahwa bintang-bintang di langit itu sebenarnya tidak terlihat sekecil itu, dan semakin memahami Alloh Sang Pencipta. Imaji positipnya terpenuhi.

Kolom 7

Mini Jurnal Kegiatan

Berisi catatan kisah di balik perjalanan yang berhasil dimaknai oleh pendamping (orangtua)

Mas Ozan terbukti sabar, dan mau berbagai dengan teman temannya, terbukti saat ada seorang anak yang merengek minta roti padahal posisi lagi di dalam gedung, dengan antusias menyodorkan bungkusan snacknya yang kebetulan masih ada. Anaknya juga gaul. Dalam perjalanan terlihat mas Ozan antusias melihat beberapa mobil di jalan, terutama bila melihat mobil alat berat, langsung teriak kegirangan.

Kolom 8

Aksi Lanjutan

Melihat mas Ozan yang seperti terpesona dengan sang Supir, sepertinya perlu diGaendakan next trip yang berhubungan dengan kendaraan alat berat

2. Jurnal Kegiatan Anak

Berikut adalah contoh jurnal kegiatan anak yang lepas tanpa rancangan kegiatan, hanya mengamati sifat, sikap dan karakater anak,untuk kemudian dieksplorasi what’s next nya. Sudah sekalian diisi

Bila memang sudah memahami peta bakat, bagian yang dalam kotak bisa diisi dengan tema bakat terkait.

File template silahkan bila ingin digunakan dan atau dioprek sesuai dengan kebutuhan :

Merancang kegiatan rumahan bisa diunduh di sini

Jurnal Kegiatan anak bisa diunduh di sini

Demikian edisi kali ini, semoga tetap bingung hahaha.

Template – template dan tulisan saya terinspirasi oleh True Creative Aid yang digawangi oleh para guru dan inspirator saya: Achmad Ferzal (bang Ical), Musta’ien (Pak Stein), Kalih (Pak Kalih), Bu Veyida (bu Ida), juga bu Susana.

Membaca pola dalam jurnal kegiatan dan portofolio anak

pola1

Pola anak dalam sebuah portofolio dapat diketahui dengan membaca jurnal-jurnal yang sudah dikumpulkan secara periodik. Dari kumpulan jurnal (portofolio) ini, dilihat  “aktivitas atau ekspresi” berulang yang dilakukan oleh anak, baik dalam kegiatan maupun sikap/sifat keseharian. Aktivitas yang dilakukan anak dengan semangat, berbinar binar, dan selalu menanyakan kapan lagi. Atau sikap, sifat menonjol yang tampak saat anak bermain dengan teman maupun saudaranya. Pembacaan pola ini biasanya di saat anak usia 0-7 tahun, bahkan kadang bisa lebih, tergantung seberapa banyak aktivitas dan pengamatan yang dilakukan.

Contohnya bisa dilihat dalam gambar, ada beberapa bulatan yang besar dan berwarna, itulah yang saya sebut dengan pola yang harus dipahami sebagai keunikan dan potensi anak. Misalnya saat bermain bola, di posisi manakah anak merasa senang dan hebat? Atau suka mengatur, saat bermain dengan teman-temannya, apakah suka mengatur ini berlaku bila anak bermain dengan teman yang usianya lebih tua? Atau suka menghapal, ditelisik lagi; dengan gaya belajar model apa si anak bisa lebih mudah menghapal? Atau situasi bagaimana? Atau hal apa saja yang suka dihapal?, dan pertanyaan lainnya yang serupa. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang harus dilatih dalam membuat jurnal kegiatan untuk kemudian dikumpulkan dalam sebuah portofolio dengan pengamatan (profiling) periode tertentu. Atau bisa juga libatkan anak dalam membuat jurnal, bisa dengan anak menuliskan sendiri jurnalnya, atau dengan sharing, orangtua mendengarkan kemudian dicatat. Mulailah dengan yang sederhana.

Cara di atas adalah untuk membaca potensi, apakah bisa untuk mengamati yang lain? Tentu saja bisa, tinggal disesuaikan, umpamanya tentang keimanan, tentang cara berpikir dan yang lain, bisa tetap diamati dan dibandingkan dengan sebelumnya untuk mengetahui apakah ada kemajuan atau tidak, serta untuk difasilitasi apa yang dirasa kurang.

Pertanyaan yang sering diajukan kemudian adalah, what’s next? Jangan khawatir dan bingung, pola-pola yang sudah ditemukan dan ditandai tersebut bisa  diberikan kegiatan eksplorasi dan atau pengamatan yang lebih dalam  di periode berikutnya. Tugas kita sebagai fasilitator/pendamping adalah merancang dan memfasilitasi kegiatan-kegiatan anak tersebut. Bisa berbasis project ataupun hanya sebatas pengenalan.

Untuk usia di bawah 7 tahun, bisa dengan merancang kegiatan (saya sendiri lebih suka menyebut dengan merancang pengalaman) untuk memperkaya wawasan anak. Dan apabila pola sudah ditemukan, bisa dilanjut dengan merancang kurikulum personal yang bisa diterapkan untuk anak yang memilih jalur pendidikan formal (sekolah) maupun informal (Homeschooling/Home Education).

Yang diperlukan adalah kemauan dan keberanian orangtua untuk segera melangkah, menjadi teman tumbuh teman belajar anak, saling belajar dan mengajar. Tanpa adanya kemauan, yang terjadi hanya kebingungan yang semakin akut sementara teori semakin banyak ditelan mentah-mentah.

Jadi, mari bergerak bersama, bila kita sudah MAU, pasti MAMPU untuk MAJU bersama anak. Raise yourchild, raise ourselves.