Jadilah Teman Tumbuh Teman Belajar

Jadilah Teman Tumbuh Teman Belajar
(Seri Guru Berani, Teman Tumbuh Teman Belajar)

Saya bukan seorang guru, bila kata “guru” diartikan sebagai seseorang yang berprofesi mengajar sekumpulan anak anak sekolah.

Saya juga bukan seorang guru, bila kata “guru” diartikan sebagai seseorang yang bertugas dengan cara berdiri di depan kelas dalam proses mengajarnya.

Saya akan menyebut diri saya seorang guru, terutama untuk anak–anak saya bila kata “guru” diartikan sebagai seseorang yang bisa menempatkan diri sebagai teman tumbuh teman belajar mereka, sebagai pendamping mereka belajar hidup, saling belajar dan mengajar, saling memahami dan mengerti satu sama lain.

Itulah yang saya pahami dan sadari sejak membaca buku Seri Guru Berani, Teman Tumbuh Teman Belajar, bahkan sebelum sampai di halaman akhir.

Ya, saat ini masih banyak sekali orang yang berpikir bahwa tugas guru adalah “mengajarkan” ilmu. Dan sayangnya, “mengajarkan” di sini pun masih disamakan artinya dengan “menjejalkan” pengetahuan sebanyak mungkin ke anak dengan harapan si anak menjadi seseorang yang sama dengan apa yang diajarkan (dijejalkan) tersebut. Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah hasilnya sesuai dengan yang diinginkan? Mari sejenak kita renungkan bersama!

Memegang buku setebal hampir 500 halaman ini seakan tidak mau berhenti membaca, saya bawa ke manapun untuk dibuka dan dicorat coret atau dicatat sesuatu yang “baru” untuk saya, yang saya anggap “out of the box” padahal itu sesuatu yang memang sudah sewajarnya.

Penjelasan-penjelasan yang dihadirkan bersama kisah nyata pendampingan membuka mata saya, seorang Bapak yang mempunyai anak HS tentang bagaimana menjadi seorang fasilitator atau pendamping bagi anak-anak saya.

Walaupun isinya adalah tentang cerita pendampingan guru di sekolah, tapi sejatinya bersifat umum karena esensinya adalah menempatkan definisi guru pada tempat semestinya, sebagai seorang teman yang bertugas menumbuhkan kekuatan atau potensi anak didiknya dari dalam. Yah seperti semboyan dari True Creative Aid itu sendiri, Helping people with their own power.

Alhamdulillaah saya berkesempatan untuk bertemu dan berdiskusi dengan sebagaian penulisnya (3 dari 4 penulis buku) walaupun dengan cara-cara yang aneh. Bertemu dan mendiskusikan isi buku yang saya korelasikan dengan kehidupan sehari hari. Waktu seperti cepat sekali berjalan bila bersama mereka. Bang Ical (Achmad Ferzal), Pak Stein (Musta’ein), dan Pak Kalih Raksasewu, tiga sosok yang selalu membuat saya manggut-manggut terdiam mendengarkan antara takjub dan bingung hehehe.

Buku ini berisi catatan pendampingan yang mereka lakukan di pedalaman Nias, Poso, Keerom, dan Boven Digul.

Sebuah Best Practice, bagaimana belajar memanfaatkan kearifan lokal, bagaimana bersinergi dan mengambil hikmah dari alam, dan bagaimana membangkitkan potensi para guru menjadi sosok-sosok inspirator dan inovator bagi sekolah serta lingkungannya.

Pendampingan, bukan pelatihan. Menumbuhkan, bukan menjejali dengan limpahan pengetahuan dan ketrampilan yang bahkan tidak dapat mereka gunakan. Karena pada dasarnya, keterampilan diasah dengan gerakan/kegiatan, bukan dengan duduk dan mendengarkan, sikap ditumbuhkan dari kegiatan yang bersentuhan dengan aktivitas sehari-hari, bukan dengan teori dan hapalan. Tugas pendamping adalah menambahkan sedikit pengetahuan yang berguna sebagai bumbu pelengkap dan diberikan bila diperlukan saja, saat semuanya sesuai dengan koridor yang ada maka biarkan tumbuh meninggi untuk kemudian berkembang indah.

Semboyan yang dianut adalah, MAU-MAMPU-MAJU. Jadi yang harus diselesaikan/dibangkitkan dahulu adalah rasa MAU melakukan, baik sebagai guru maupun orangtua. Ketika hal ini sudah dilalui maka dengan sendirinya akan MAMPU berbuat dan akhrnya MAJU dengan sendirinya.

Menggunakan kearifan lokal sebagai bahan pembelajaran membuat kurikulum nasional bisa diterapkan tanpa kesulitan berarti, bahkan dijadikan sebagai rujukan membuat kurikulum baru, hal ini justru terjadi di daerah yang katanya “jauh di sana”. Pada episode ini, pembaca (khususnya saya) disajikan cara untuk membuat Kurikulum Personal, kurikulum yang khusus dirancang untuk kebutuhan pribadi atau suatu kelompok tertentu, di daerah tertentu karena prinsipnya menggunakan apa yang ada, bukan mengada-adakan, apalagi menunggu semuanya ada.

Di buku ini juga dijelaskan tentang mendengar, yang ternyata bukan hanya sebuah proses “memasang telinga”, tapi suatu cara menyerap masalah dan mengolah informasi yang digunakan untuk menemukan solusi. Disajikan dalam tulisan yang mudah dipahami.

Saya adalah seorang praktisi Home Education, juga fasilitator anak saya yang saat ini memilih jalur Homeschooling (HS). Dan buku ini adalah jawaban-jawaban dari apa yang selama banyak dicari oleh praktisi seperti saya, khususnya yang berkenaan dengan how to.

tttb
Teman Tumbuh Teman Belajar

Tumbuhkan agar kuat dan mengakar, lalu tambahkan agar semakin manis berbuah. Kenikmatan yg akan diingat ada pada proses saat tumbuh bersama, bukan pada hasilnya.
Jangan dibalik, jejalkan dan berharap kuat mencengkeram, terlihat berisi padahal kosong, terlihat tenang padahal riak bergelombang

Bekasi, Februari 2017

Portofolio anak

Kata portofolio bisa diartikan beberapa macam tergantung bidang keilmuan yang memakainya. Di sini saya tulis sebagai kumpulan catatan/dokumentasi yang berisi aktifitas perkembangan anak, yang berguna sebagai tool untuk evaluasi dan pengamatan pola; bakat, minat, karakter dll. Bisa juga sebagai catatan/kumpulan hasil karya yang digunakan dalam menyusun sebuah curriculum  vitae. Tapi di sini kita fokus membahas portofolio anak saja yaa

Portofolio ini suatu saat akan berguna ketika anak sudah mulai besar, dimana dengan melihat catatan-catatan yang terkumpul, akan didapati pola yang berulang dan bisa jadi semakin lama semakin bagus dilakukan oleh anak tersebut. Pola ini bisa jadi adalah gaya belajar, juga  potensi/kekuatan atau yang sering dibilang sebagai bakat anak. Walau tidak menutup diri bahwa ada banyak anak yang sudah terlihat bakatnya dari kecil.

Bentuk portofolio tidak ada yg baku, karena modelnya adalah Customized, jadi disesuaikan dengan keunikan setiap keluarga/orangtua. Disesuaikan di sini maksudnya adalah “cara penulisan/pencatatan/penyimpanannya” :

  1. Konvensional
  • Anecdotal record
  • Sistem kolom kiri-kanan
  • Model bisnis kanvas
  • Album Foto (bernarasi)
  1. Digital
  • Digital photo
  • Blog/website
  • Softcopy/File document
  • Media Sosial
  • Video

Orangtua menyesuaikan, mana yang sekiranya “lebih nyaman” digunakan, yg pada intinya orang lain yg melihat pun tidak akan kesulitan.

Berikut adalah isi/content yang seharusnya ada dari sebuah portofolio  :

  • Tanggal dan waktu kejadian,
  • Tempat/lokasi,
  • Usia anak pd saat itu,
  • Deskripsi/kronologis kejadian,
  • Feedback (penilaian) ortu dan lain yg sejenis.
  • Barang bukti, (bila ada)

Bila orangtua tidak biasa menulis, portofolio bisa juga dengan menambahkan narasi di bagian obyek/hasil karya anak, sedikit narasi tentang waktu kejadian dan deskripsinya. Atau paling tidak, bisa menggunakan foto yang ada watermark waktunya (tanggal/bulan/tahun), sehingga ketika fasilitator melihat poto tersebut, langsung dapat mengingat waktu kejadiannya. Hasil karya anak ini bisa juga ditempelkan di dinding sebagai bentuk apresiasi dan pengingat kepada karya anak.

Yang dicatat apakah setiap hari?

Dikembalikan ke ortunya, kalo mau silahkan saja :).

Lebih baik catat kejadian-kejadian yg berkesan, nanti dikasih feedback/catatan oleh fasilitator.

Perlu kesabaran, ketelatenan dan tentu saja pengamatan ekstra untuk mendapatkan pola/potensi anak, tapi walau bagaimanapun sebagai fasililtator yang banyak berinterakasi dengan anak tentu akan ketemu jalannya.

Sebagai contoh, berikut saya lampirkan portofolio anak saya Fauzan (7 y) dari hasil mengamati capung yang kebetulan masuk ke rumah.

Badan Capung

Dan aktivitas di atas saya bukukan dalam Catatan Project Anak (CPA). 

Catatan Project Anak

Nah, sebenarnya mudah bukan? Bentuk dokumentasi terserah bagaimana kita saja, namanya juga customized, jadi sesuai cita rasa dan selera masing – masing keluarga. Satu hal yang pasti bahwa setiap anak, begitu juga setiap keluarga adalah unik.

Terakhir, berikut saya kutip ucapan salah satu dari 4 Khalifah,

“Jika kalian melihat anakmu berbuat baik, maka puji dan catatlah, apabila anakmu berbuat buruk, tegur dan jangan pernah engkau mencatatnya.” (Umar Bin Khattab)

 

Nah, semangad mencatat!!