Jadilah Teman Tumbuh Teman Belajar

Jadilah Teman Tumbuh Teman Belajar
(Seri Guru Berani, Teman Tumbuh Teman Belajar)

Saya bukan seorang guru, bila kata “guru” diartikan sebagai seseorang yang berprofesi mengajar sekumpulan anak anak sekolah.

Saya juga bukan seorang guru, bila kata “guru” diartikan sebagai seseorang yang bertugas dengan cara berdiri di depan kelas dalam proses mengajarnya.

Saya akan menyebut diri saya seorang guru, terutama untuk anak–anak saya bila kata “guru” diartikan sebagai seseorang yang bisa menempatkan diri sebagai teman tumbuh teman belajar mereka, sebagai pendamping mereka belajar hidup, saling belajar dan mengajar, saling memahami dan mengerti satu sama lain.

Itulah yang saya pahami dan sadari sejak membaca buku Seri Guru Berani, Teman Tumbuh Teman Belajar, bahkan sebelum sampai di halaman akhir.

Ya, saat ini masih banyak sekali orang yang berpikir bahwa tugas guru adalah “mengajarkan” ilmu. Dan sayangnya, “mengajarkan” di sini pun masih disamakan artinya dengan “menjejalkan” pengetahuan sebanyak mungkin ke anak dengan harapan si anak menjadi seseorang yang sama dengan apa yang diajarkan (dijejalkan) tersebut. Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah hasilnya sesuai dengan yang diinginkan? Mari sejenak kita renungkan bersama!

Memegang buku setebal hampir 500 halaman ini seakan tidak mau berhenti membaca, saya bawa ke manapun untuk dibuka dan dicorat coret atau dicatat sesuatu yang “baru” untuk saya, yang saya anggap “out of the box” padahal itu sesuatu yang memang sudah sewajarnya.

Penjelasan-penjelasan yang dihadirkan bersama kisah nyata pendampingan membuka mata saya, seorang Bapak yang mempunyai anak HS tentang bagaimana menjadi seorang fasilitator atau pendamping bagi anak-anak saya.

Walaupun isinya adalah tentang cerita pendampingan guru di sekolah, tapi sejatinya bersifat umum karena esensinya adalah menempatkan definisi guru pada tempat semestinya, sebagai seorang teman yang bertugas menumbuhkan kekuatan atau potensi anak didiknya dari dalam. Yah seperti semboyan dari True Creative Aid itu sendiri, Helping people with their own power.

Alhamdulillaah saya berkesempatan untuk bertemu dan berdiskusi dengan sebagaian penulisnya (3 dari 4 penulis buku) walaupun dengan cara-cara yang aneh. Bertemu dan mendiskusikan isi buku yang saya korelasikan dengan kehidupan sehari hari. Waktu seperti cepat sekali berjalan bila bersama mereka. Bang Ical (Achmad Ferzal), Pak Stein (Musta’ein), dan Pak Kalih Raksasewu, tiga sosok yang selalu membuat saya manggut-manggut terdiam mendengarkan antara takjub dan bingung hehehe.

Buku ini berisi catatan pendampingan yang mereka lakukan di pedalaman Nias, Poso, Keerom, dan Boven Digul.

Sebuah Best Practice, bagaimana belajar memanfaatkan kearifan lokal, bagaimana bersinergi dan mengambil hikmah dari alam, dan bagaimana membangkitkan potensi para guru menjadi sosok-sosok inspirator dan inovator bagi sekolah serta lingkungannya.

Pendampingan, bukan pelatihan. Menumbuhkan, bukan menjejali dengan limpahan pengetahuan dan ketrampilan yang bahkan tidak dapat mereka gunakan. Karena pada dasarnya, keterampilan diasah dengan gerakan/kegiatan, bukan dengan duduk dan mendengarkan, sikap ditumbuhkan dari kegiatan yang bersentuhan dengan aktivitas sehari-hari, bukan dengan teori dan hapalan. Tugas pendamping adalah menambahkan sedikit pengetahuan yang berguna sebagai bumbu pelengkap dan diberikan bila diperlukan saja, saat semuanya sesuai dengan koridor yang ada maka biarkan tumbuh meninggi untuk kemudian berkembang indah.

Semboyan yang dianut adalah, MAU-MAMPU-MAJU. Jadi yang harus diselesaikan/dibangkitkan dahulu adalah rasa MAU melakukan, baik sebagai guru maupun orangtua. Ketika hal ini sudah dilalui maka dengan sendirinya akan MAMPU berbuat dan akhrnya MAJU dengan sendirinya.

Menggunakan kearifan lokal sebagai bahan pembelajaran membuat kurikulum nasional bisa diterapkan tanpa kesulitan berarti, bahkan dijadikan sebagai rujukan membuat kurikulum baru, hal ini justru terjadi di daerah yang katanya “jauh di sana”. Pada episode ini, pembaca (khususnya saya) disajikan cara untuk membuat Kurikulum Personal, kurikulum yang khusus dirancang untuk kebutuhan pribadi atau suatu kelompok tertentu, di daerah tertentu karena prinsipnya menggunakan apa yang ada, bukan mengada-adakan, apalagi menunggu semuanya ada.

Di buku ini juga dijelaskan tentang mendengar, yang ternyata bukan hanya sebuah proses “memasang telinga”, tapi suatu cara menyerap masalah dan mengolah informasi yang digunakan untuk menemukan solusi. Disajikan dalam tulisan yang mudah dipahami.

Saya adalah seorang praktisi Home Education, juga fasilitator anak saya yang saat ini memilih jalur Homeschooling (HS). Dan buku ini adalah jawaban-jawaban dari apa yang selama banyak dicari oleh praktisi seperti saya, khususnya yang berkenaan dengan how to.

tttb
Teman Tumbuh Teman Belajar

Tumbuhkan agar kuat dan mengakar, lalu tambahkan agar semakin manis berbuah. Kenikmatan yg akan diingat ada pada proses saat tumbuh bersama, bukan pada hasilnya.
Jangan dibalik, jejalkan dan berharap kuat mencengkeram, terlihat berisi padahal kosong, terlihat tenang padahal riak bergelombang

Bekasi, Februari 2017

Catatan Harian Anak (CHA) dan Catatan Project Anak (CPA)

Definisi mengenai portofolio sudah saya bahas di artikel sebelumnya. Di sini saya hanya akan memberikan contoh portofolio yang saya gunakan sehari hari, ada 2 catatan aktivitas dan 1 profiling. Saya hanya akan membahas CHA dan CPA yang saya gunakan. Ingat, ini adalah format portofolio yang saya gunakan, jadi bentuk dan isinya sesuai dengan kebutuhan saya. Silahkan bila ingin menggunakan, atau bisa juga disesuaikan dengan selera saja.

Catatan Harian Anak (CHA)

Adalah sebuah catatan berbentuk anecdotal record yang saya buat untuk mencatat aktivitas anak – anak saya di rumah. Hal yang saya catat adalah aktivitas individual yang berkesan dan berkenaan dengan fitrahnya; contoh saat anak menanyakan Alloh (fitrah keimanan), atau saat si bungsu suka sekali perform (fitrah bakat), si sulung suka sekali bongkar pasang lego, si tengah yang sering beraktivitas dengan fisiknya.

CHA terdiri dari 2 kolom kiri dan kanan, dengan header yang berisi informasi mengenai :

  • Nama anak (Nama anak yang melakukan aktivitas)
  • Tanggal lahir/umur (untuk mendapatkan informasi diri anak, tanggal lahir dan usia)
  • Waktu/Tempat (untuk mendapatkan informasi mengenai tempat kejadian)
  • Fasilitator (untuk memberikan informasi mengenai fasilitator yang menemani saat itu)
  • No CHA (untuk memberikan identitas CHA agar lebih mudah dalam administrasi)

catatan-harian

Kolom sebelah kiri adalah kolom deskripsi aktivitas anak, ada field Fitrah yang berisi kategori aktivitas yang dilakukan berdasarkan fitrahnya. Juga tools yang digunakan (bila ada) untuk melakukan aktivitas tersebut (misalnya spidol, pensil, buku iqro’ dan lainnya). Dan apabila ada dokumentasi, cantumkan di situ. Bisa berupa foto yang ditempel atau disimpan di folder/tempat lain.

Kolom sebelah kanan adalah feedback dari fasilitator, bisa berupa tanggapan, kesimpulan, catatan kecil, hal yang mungkin perlu ditingkatkan dan lainnya, pada intinya adalah sebagai komentar atas kegiatan anak tadi.

Nomor CHA adalah sebagai pengingat apabila aktivitas tersebut menghasilkan sesuatu, contohnya menggambar, maka hasil gambar bisa ditambahkan no CHA nya sebagai pengingat (apabila disimpan di tempat lain), atau apabila dokumentasi (foto) disimpan di tempat lain, untuk mudah mencarinya maka dokumentasi (foto) tersebut diberikan tanda nomor CHA. Bisa juga hasil dan foto sekalian disatukan dengan dokumen CHA tersebut.

 

Catatan Project Anak (CPA)

Adalah sebuah catatan berbentuk anecdotal record yang saya buat untuk mencatat aktivitas anak – anak saya di rumah yang berkaitan dengan project yang mereka kerjakan, baik yang dilakukan secara sendiri maupun bersama-sama. Bisa dibilang bahwa CPA ini catatan kegiatan anak yang menggunakan konsep Project Based Learning (PBL).

CPA terdiri dari 2 kolom kiri dan kanan, dengan header yang berisi informasi mengenai:

  • Nama/Judul Project (untuk menjelaskan project yang dilakukan)
  • Tempat/Tanggal/Jam (untuk menjelaskan waktu kejadian)
  • Dilakukan oleh (untuk menjelaskan anak yang melakukan)
  • Tools yang digunakan (alat/media yang digunakan dalam project)
  • Fasilitator (untuk memberikan informasi mengenai fasilitator yang menemani saat itu)
  • CPA No (untuk memberikan identitas CPA agar lebih mudah dalam administrasi)

 

catatan-project

Kolom sebelah kiri adalah kolom yang menerangkan tentang kegiatan (project) yang dilakukan anak, bisa dengan step yang dilakukan, atau singkatnya bisa dikatakan sebagai kronologis kejadian.

Kolom sebelah kanan kolom feedback fasilitator, berisi hasil pengamatan fasilitator atas :

  • Pemahaman: Seberapa baik tingkat pemahaman anak terhadap project yang dikerjakan
  • Argumentasi: Seberapa baik alasan yang diberikan anak dalam menjelaskan persoalan-persoalan dalam project yang dikerjakan
  • Kejelasan Hasil  (tersusun denngan baik, terbentuk dengan baik)
  • Catatan Fasilitator : Menjelaskan catatan (bisa kesimpulan) dari fasilitator mengenai hasil project tersebut (bisa dengan kesimpulan bahwa kerjasama anak-anak dalam melakukan project sudah bagus, si A ternyata bagus di command dan lainnya.

Contoh CPA yang sudah diisi bisa dilihat di sini

Sedangkan template CHA dan CPA bisa diunduh di sini

Demikian tulisan saya terkait portofolio yang saya gunakan dalam membersamai anak-anak di rumah. Semoga bermanfaat dan selamat membuat portofolio anak anda sendiri 🙂

Portofolio anak

Kata portofolio bisa diartikan beberapa macam tergantung bidang keilmuan yang memakainya. Di sini saya tulis sebagai kumpulan catatan/dokumentasi yang berisi aktifitas perkembangan anak, yang berguna sebagai tool untuk evaluasi dan pengamatan pola; bakat, minat, karakter dll. Bisa juga sebagai catatan/kumpulan hasil karya yang digunakan dalam menyusun sebuah curriculum  vitae. Tapi di sini kita fokus membahas portofolio anak saja yaa

Portofolio ini suatu saat akan berguna ketika anak sudah mulai besar, dimana dengan melihat catatan-catatan yang terkumpul, akan didapati pola yang berulang dan bisa jadi semakin lama semakin bagus dilakukan oleh anak tersebut. Pola ini bisa jadi adalah gaya belajar, juga  potensi/kekuatan atau yang sering dibilang sebagai bakat anak. Walau tidak menutup diri bahwa ada banyak anak yang sudah terlihat bakatnya dari kecil.

Bentuk portofolio tidak ada yg baku, karena modelnya adalah Customized, jadi disesuaikan dengan keunikan setiap keluarga/orangtua. Disesuaikan di sini maksudnya adalah “cara penulisan/pencatatan/penyimpanannya” :

  1. Konvensional
  • Anecdotal record
  • Sistem kolom kiri-kanan
  • Model bisnis kanvas
  • Album Foto (bernarasi)
  1. Digital
  • Digital photo
  • Blog/website
  • Softcopy/File document
  • Media Sosial
  • Video

Orangtua menyesuaikan, mana yang sekiranya “lebih nyaman” digunakan, yg pada intinya orang lain yg melihat pun tidak akan kesulitan.

Berikut adalah isi/content yang seharusnya ada dari sebuah portofolio  :

  • Tanggal dan waktu kejadian,
  • Tempat/lokasi,
  • Usia anak pd saat itu,
  • Deskripsi/kronologis kejadian,
  • Feedback (penilaian) ortu dan lain yg sejenis.
  • Barang bukti, (bila ada)

Bila orangtua tidak biasa menulis, portofolio bisa juga dengan menambahkan narasi di bagian obyek/hasil karya anak, sedikit narasi tentang waktu kejadian dan deskripsinya. Atau paling tidak, bisa menggunakan foto yang ada watermark waktunya (tanggal/bulan/tahun), sehingga ketika fasilitator melihat poto tersebut, langsung dapat mengingat waktu kejadiannya. Hasil karya anak ini bisa juga ditempelkan di dinding sebagai bentuk apresiasi dan pengingat kepada karya anak.

Yang dicatat apakah setiap hari?

Dikembalikan ke ortunya, kalo mau silahkan saja :).

Lebih baik catat kejadian-kejadian yg berkesan, nanti dikasih feedback/catatan oleh fasilitator.

Perlu kesabaran, ketelatenan dan tentu saja pengamatan ekstra untuk mendapatkan pola/potensi anak, tapi walau bagaimanapun sebagai fasililtator yang banyak berinterakasi dengan anak tentu akan ketemu jalannya.

Sebagai contoh, berikut saya lampirkan portofolio anak saya Fauzan (7 y) dari hasil mengamati capung yang kebetulan masuk ke rumah.

Badan Capung

Dan aktivitas di atas saya bukukan dalam Catatan Project Anak (CPA). 

Catatan Project Anak

Nah, sebenarnya mudah bukan? Bentuk dokumentasi terserah bagaimana kita saja, namanya juga customized, jadi sesuai cita rasa dan selera masing – masing keluarga. Satu hal yang pasti bahwa setiap anak, begitu juga setiap keluarga adalah unik.

Terakhir, berikut saya kutip ucapan salah satu dari 4 Khalifah,

“Jika kalian melihat anakmu berbuat baik, maka puji dan catatlah, apabila anakmu berbuat buruk, tegur dan jangan pernah engkau mencatatnya.” (Umar Bin Khattab)

 

Nah, semangad mencatat!!

Design Thinking untuk anak

Makanan apa itu Design Thinking (DT)?

Tidak usah bingung, secara sederhana bisa diartikan bahwa Design Thinking (DT) adalah suatu metode memecahkan masalah yang sering digunakan dalam bisnis maupun yang lain. Titik beratnya adalah menggali informasi sedalam mungkin untuk bisa memberikan solusi terbaik dalam suatu masalah.

Prosesnya bagaimana? Bicara mengenai design thinking process, banyak metode DT yang digunakan di dunia (silahkan browsing dengan keywords: Design thinking models). Di sini saya hanya akan menjelaskan mengenai DT Emisol.

1. Tentang Emisol

Saya mengenal Emisol dari Pak Achmad Ferzal, biasa dipanggil Bang Ical. Seorang aktivis berlingkung dan kearifan lokal yang lebih suka menyebut Design Thinking ini dengan RuaNgakal, karena lebih mendekati kearifan lokal masyarakat Indonesia.

Bang Ical mempunyai slogan yang asyik: Mau-Mampu-Maju. Saya sendiri kemudian menambahkan slogan ini menjadi: Bila orangtua  MAU, pasti MAMPU untuk MAJU bersama buah hati tercinta, dalam rangka menyemangati para orang tua membersamai anak-anaknya menemukan potensi terbaiknya melalui Emisol ini.

2. Kegunaan Emisol

Jadi, Emisol ini apa? Fungsinya dalam pendidikan rumah (HE) untuk apa?

Baik, dalam khasanah dunia HE, emisol digunakan sebagai tool untuk mengamati tumbuh kembang anak beserta potensi-potensinya sehingga orangtua yang berperan sebagai fasilitator bisa memfasilitasi (baca: mengarahkan) potensi-potensi tersebut menjadi bakat yang akhirnya akan dipakai si anak berperan dalam kehidupannya. Dengan Emisol, maka bisa dirancang kegiatan yang bisa menjadi kurikulum anak yang unik. Unik di sini maksudnya adalah kurikulumnya berbeda setiap anak, dan bisa dipakai baik anak tersebut sekolah maupun tidak, karena berbasis potensi/kekuatan anak.

3. Menjalankan Emisol

Berikut adalah cara/langkah yang biasa dilakukan dalam Design Thinking menggunakan metode Emisol:

  1. Empati, adalah proses mengamati; bisa dengan pertanyaan/interview atau melihat langsung. Dalam HE, peran orangtua dalam membersamai anak sangat amat penting sekali sebagai fasilitator, oleh karena itu empati ini adalah nilai/bonus membersamai tersebut. Ketika engagement orangtua-anak sudah kuat, maka orangtua akan tahu karakteristik anaknya sendiri; baik kekuatan, kelemahan, hobi, sifat dan lainnya.Mengamati pun harus dengan hati, turunkan ego dan ambisi pribadi agar hasilnya benar. Hasil pengamatan dicatat dalam lembaran lain sebagai portofolio (akan ditulis di bagian kurikulum HE). Portofolio ini sebagai dasar merancang dan mengamati kegiatan anak selanjutnya.
  2. Imajinasi, adalah proses memikirkan/mengolah hasil empati menjadi kemungkinan – kemungkinan yang bisa dijalankan untuk mendukung potensi anak; bisa cara/konsep yang baru, alat atau bahkan metode, yang pada intinya adalah dalam rangka memastikan, menajamkan dan mengasah keterampilan anak.
  3. Solusi, ketika proses imajinasi selesai dilakukan, maka tugas kita selanjutnya sebagai fasilitator ada 2, pertama merancang kegiatan/aktivitas yang berhubungan dengan mengasah keterampilan tadi, dan hasilnya dicatat, baik dalam portofolio atau yg lain untuk di-empati kan kembali, keterampilannya meningkat atau tidak? Kedua, apabila anak sudah bisa diajak diskusi, maka bisa  menyampaikan/berdiskusi dengan anak tentang kemungkinan – kemungkinan tersebut.Kita serahkan keputusan di tangan anak, mau memakai atau tidak. Ajukan beberapa solusi. Bila ternyata solusi – solusi yang kita tawarkan ditolak, mungkin ada yang terlewat dari proses empati kita. Jadi lakukan empati sekali lagi, cari yang terlewat tersebut dan berikan solusi terbaik bagi putra putri kita.

Kegiatan ini akn terus berputar/melingkar dan mekar, mekar di sini maksudnya adalah ketika ketrampilan diasah, maka akan mekar, dan bila ditambahkan aktivitas lain yang bisa membuatnya bertambah keterampilan, inovasi, dan yang lain maka akan semakin mekar lagi. Demikian seterusnya.

Proses Design Thinking ketika solusi terbaik belum ditemukan, maka proses akan berlanjut memutar (melingkar) kembali dari awal (Empati) dan mekar.

Nah, selamat ber-emisol yaa….

 

Antara nobar dan bermain

Sabtu, 27 Agustus 2016 memenuhi undangan salah satu teman untuk melaksanakan NoBar film The Beginning of Life di LPIA dan GAMA UI Pondok Kopi, Jakarta Timur. Tidak seperti biasanya, kali ini kedatangan kami tidak Full Team, hanya saya dan ketiga pasukan yang selalu ceria dan seru plus ribut. Ya, istri saya masih masa recovery setelah sempat 7 hari dari 2 minggu sakitnya tidak bisa bangun dari tempat tidur. Beliau yang meminta saya untuk tetap melaksanakan NoBar.

Bapak’s time judulnya, tertawa bareng,bermain bareng, dan menjawab berbagai pertanyaan spontan yang kadang membikin diam untuk selanjutnya menjawab dengan kalimat pamungkas;”Bapak belum tahu, nanti sampe rumah kita cari tahu ya bareng bareng”. Hehehe

Sudah membawa bekal mainan, Alhamdulillaah di sana justru Bermain Bersama Alam (BBA), belajar menanam pohon tanpa ada yang membimbing. Ujug ujug (baca: tiba-tiba,_red) laporan kalo sudah berhasil menanam pohon kecil bersama satu temannya. EKPLORASI!

Eksplorasi

Nah, kembali ke NoBar, Alhamdulillaah NoBar #2 kali ini ada beberapa kejutan:

  1. Seorang manajer tak bergeming selama pemutaran film, dan di sesi akhir mengatakan bahwa filmnya “menampar” dia dan istrinya yang ternyata masih memilih “quality time” daripada “quantity time”
  2. Seorang guru menangis sepanjang pemutaran film
  3. Guru lain tersadar pola asuhnya selama ini
  4. Bujanghidin ada 3, sepakat ingin menjadi orang tua masa depan, orang tua yang memahami akan anak anaknya
Beginning of life

    Yang Pasti,

    1. Anak bukanlah kertas kosong yang harus kita tulisi
    2. Anak bukanlah gelas yang harus selalu kita isi
    3. Kenalkan anak akan sesuatu agar mereka mencintai dan akhirnya mempelajari, bukan “memaksa” mereka untuk belajar apa yang kita mau

    Jadi, perubahan terkadang harus melalui proses, tidak bisa seperti makan mie instant.

    #NoBar

    #TheBeginningOfLife

    #FasilitatorHS

    #HomeEducation

    #AyahNgangenin

    #BermainBersamaBapak(B3)

    #SaatnyaBerbagiDanBukanMeminta

    Community Based Education (CBE)

    Apakah Community Based Education?Dalam khasanah bahasa Indonesia, CBE diartikan sebagai Pembelajaran Berbasis Masyarakat (PBM). Community diartikan sebagai masyarakat, bukan komunitas. Tapi, karena saya orang yang aktif di komunitas maka yang saya pakai di sini adalah community sebagai komunitas.

    Ibu Septi Peni Wulandani dari Padepokan Margosari, Salatiga mendefinisikan CBE sebagai berikut

    Community Based Education (CBE) adalah sebuah proses pendidikan untuk mengembalikan fitrah anak. Fitrah di sini berarti menemani anak menemukan fitrah bakatnya tanpa menjejali dengan berbagai macam ilmu yang tidak diperlukan. CBE bisa  juga dianalogikan sebagai makanan organik bagi tubuh.

    Secara konseptual, pendidikan berbasis komunitas adalah model penyelenggaraan pendidikan yg bertumpu pada:


    “DARI komunitas,UNTUK komunitas,dan OLEH komunitas”

    Dari definisi di atas, maka berikut adalah penjelasannya.

    Pendidikan “DARI” komunitas artinya pendidikan memberikan jawaban atas kebutuhan komunitas.

    Pendidikan “UNTUK” komunitas artinya komunitas diikutsertakan dalam semua program yg dirancang untuk menjawab kebutuhan mereka sendiri.

    Pendidikan “OLEH” komunitas artinya komunitas ditempatkan sebagai subyek/pelaku pendidikan, bukan sebagai obyek pendidikan.

    Satu hal yang harus disadari bersama adalah bahwa sebuah komunitas, apalagi yang sudah mengarah ke CBE, member perlu diberdayakan, diberi peluang, dan kebebasan untuk mendesain, merencanakan, membiayai, mengelola dan menilai sendiri apa yg diperlukan secara spesifik di dalam, UNTUK dan OLEH komunitas itu sendiri.

    Berikut adalah prinsip – prinsip yang biasanya ada dalam sebuah CBE :

    1. Menentukan sendiri :

    • Kegiatan yang dilakukan komunitas
    • Kurikulum pendidikan
    • Tempat kumpul komunitas
    • Lain lain yang berhubungan dengan roadmap CBE itu sendiri
    • Dan lainnya

    2. Menolong diri sendiri :

    • Tempat
    • Biaya
    • Akomodasi
    • Mentor/Fasilitator
    • Dan lainnya

    3. Menerima perbedaan

    • Perbedaan karakter anak
    • Perbedaan karakter keluarga
    • Dan perbedaan lainnya

    4. CBE sekaligus juga sebagai tempat pengembangan kepemimpinan.

    Bagaimana memulai sebuah CBE?

    Memulai sebuah Community Based Education berarti seperti memulai membentuk sebuah keluarga baru, tidak semudah teori di atas. 

    Saya pribadi masih harus berdarah darah dalam membangun sinergitas di komunitas dalam kaitannya membangun sebuah CBE.

    Berikut adalah yang saya lakukan dalam komunitas mengenai CBE :

    Samakan persepsi:

    • Yakin bahwa HE adalah kewajiban, sekolah adalah pilihan.
    • Yakin bahwa sejatinya yg diperlukan adalah pendidikan Inside Out, bukan Outside In.
    • Yakin bahwa setiap anak adalah unik, diperlukan tambahan (bagi yg sekolah) kurikulum yg fleksibel.
    • Yakin bahwa tugas kita (orang tua) adalah menemani anak membangkitkan potensi fitrahnya.
    • Sadar bahwa terlalu berat bila menjalankan seorang diri.
    • Yakin bahwa diperlukan jejaring/komunitas yang satu visi

    Persepsi di atas bisa dibangun ketika  di sebuah komunitas, membermember yang ada di dalamnya berpartisipasi aktif dan berinteraksi sehingga mindset antar member nya menjadi sama. 

    CBE bisa terwujud ketika sebuah komunitas mempunyai visi dan misi yang sama tentang pola asuh, pendidikan anak, serta pendidikan keayahbundaan (parenthood), sehingga pola pengasuhan anak “A” sama dengan pola pengasuhan anak “B”, walaupun dari 2 keluarga yang berbeda. Hal ini akan berdampak ketika berkumpul bersama, anak – anak tidak akan merasa dibedakan ketika berinteraksi dengan keluarga lain. 

    Bagaimana caranya? Bisa dimulai dengan berdiskusi baik online (melalui grup) maupun offline, bermain bersama, dan juga berkumpul bersama.

    Terakhir, berikut saya ambilkan petikan kalimat penyemangat dari Pak Dodik: 

    “CBE (Community Based Education) itu semangatnya memberi, berbagi, BUKAN mengambil, apalagi menuntut”
    – Dodik Mariyanto –

    Nah, bagaimana dengan komunitas anda?

    Metode HS apa yang terbaik?

    Pertanyaan ini terkadang muncul di sela – sela obrolan atau diskusi tentang HS. Dan saya pun selalu menjawab dengan kalimat yang sama: Tidak ada metode HS terbaik, yang ada hanya metode HS paling sesuai dengan keluarga. 

    Mengapa bisa bisa begitu? 

    Ustadz Budi Azhari pernah menyampaikan kurang lebih seperti ini : Sebuah cincin terlihat bagus dan pantas dipakai di jari manis seseorang. Namun ketika kita coba memakainya, belum tentu terlihat bagus dan pantas, itulah  tips. 

    Begitu juga dengan metode HS ini, ada bermacam metode yang dipakai oleh para praktisi HS, setidaknya yang saya ketahui ada 4 Metode: terstruktur, tidak terstruktur, adaptasi, dan customized.

    Apa dan bagaimana metode – metode tersebut digunakan? Mari kita bahas satu per satu.

    1. Metode terstruktur, adalah metode yang bisa dibilang “school at home”, atau kalau saya bilangnya memindahkan sekolah ke rumah. Hal ini karena metode ini merujuk pada kurikulum sekolah yang ada, namun diaplikasikan di rumah, jadi hanya seperti memindahkan tempat belajar dari sekolah ke rumah saja, acuan yang dipakai adalah pelajaran sekolah, dengan semua tingkatan kelas dan pelajarannya.
    2. Metode tidak terstruktur, atau lebih dikenal dengan unschooling, menitikberatkan pada potensi/bakat anak itu sendiri. Gaya belajarnya bebas, karena pada prinsipnya semua aktivitas yang dilakukan adalah belajar. Seperti yang disampaikan pencetus unschooling sendiri, John Holt. Beliau mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara hidup dan belajar. Orangtua memahami bahwa setiap anak adalah unik dan mempunyai bakat sendiri – sendiri, tinggal dicari saja bakatnya, setelah ketemu maka orangtua akan memfasilitasi bakat tersebut menjadi sesuatu yang berguna bagi hidupnya. Tidak ada buku tertentu sebagai acuan, pedomannya hanya “membaca” potensi/bakat anak – anaknya.
    3. Metode Adaptasi, mengapa saya bilang metode adaptasi? Bukan lain karena memang metode ini mengadopsi dari praktisi pendidikan rumah yang sudah terlebih dulu menjalankan. Bisa diambil dari metode luar negeri, dalam negeri, atau agama. Metode ini banyak macamnya; seperti Montessori, Charlotte Mason (CM), kurikulum berbasis aqidah, dan sebagainya (untuk mengetahui apa dan bagaimana metode – metode tersebut, silahkan browsing dengan keyword seperti di atas)
    4. Metode Customized/Personalized, sebuah metode yang digunakan sesuai dengan kebutuhan yang membuatnya. Ciri dari metode ini adalah tidak adanya kesamaan antar yang satu dengan yang lain, atau dengan kata lain, setiap keluarga akan mempunyai metode yang berbeda. Lalu apakah sama dengan unschooling? Unschooling itu gaya belajar yang bebas, sedangkan customized sudah ditentukan di awal, apa sasaran yang dituju, caranya bagaimana, dan apa yang harus dilakukan. Semua sudah direncanakan. Memang ada benang merah antara unschooling dan customized method ini, sama sama menekankan pada potensi, namun di customized curriculum, keluarga bisa “membuat” sendiri education roadmap yang akan dijalani.

    Nah, setelah mengetahui metode – metode di atas, metode mana yang akan dipakai sebagai acuan? Silahkan rundingkan dengan keluarga anda masing – masing 🙂

    Ketika Bapak Pulang

    Ada beberapa kebiasanan yang saya dan anak – anak lakukan ketika pulang kerja, salah satunya adalah curhat bebas di depan rumah. (ini terjadi kalo anak anak tahu bahwa bapak sudah di depan rumah dan mereka punya masalah untuk diceritakan).


    (Waktu kejadian: kemarin malam)

    Bayangkan, kira kira apa yang akan anda lakukan sebagai seorang Ayah ketika baru buka pager rumah, sudah diserbu anak – anak (anak saya 3 lelaki semua lho). 

    Yang gede (Mas Ozan, 7.8y) langsung curhat tadi siang ribut sama adeknya yang tengah (Mas Izzam, 6.4y). Belum selesai cerita yang sulung, Mas Izzam juga juga curhat hal yg sama (ceritanya membela diri gitu). Ini belum beres tiba tiba yang paling bungsu (Zaidan, 3.2y) minta digendong kemudian cerita juga bahwa kakinya sudah sembuh (tempo hari memang sempet jatuh). Hehehe.

    Apakah anda akan marah? Atau seneng?

    Kalo saya pasti seneng dong, berasa jadi paling penting gituh.

    Children Engagement, istilah ini yang biasanya dipakai untuk menggambarkan kedekatan kepada anak. Hal ini tentu saja tidak dapat terjadi begitu saja, perlu proses, dan saya pun masih terus berproses. Di sini saya tidak mengajari lho, hanya menceritakan pengalaman saya saja.

    Karena tema kali ini adalah curhat, maka saya pun hanya akan menceritakan pengalaman saya dengan anak tentang curhat. 

    • Saya biasa menceritakan hal hal atau kejadian yang saya lihat di jalan kepada anak anak, Misalnya; “Tau nggak mas, tadi di jalan macet karena ada kebakaran”.
    • Saya juga biasa menyampaikan alasan kenapa pulang telat, misalnya ;“Maaf yaa, Bapak pulang telat, tadi mampir dulu ke rumah Om ….). 
    • Bila malam – malam, sebelum tidur saya juga rajin nanya ke anak anak tentang kegiatan mereka sehari tadi, apakah sholat di mushola, main apa dan dengan siapa.

    Nah,dari cerita cerita yang terlihat sepele ini ternyata menimbulkan interaksi yang akhirnya membuat mereka pun akhirnya terbiasa menceritakan masalah mereka kepada bapaknya, bahkan ketika saya lagi makan malam pun anak – anak berseliweran cari perhatian.

    Indahnyaa…

    Nah, kalo anda sendiri, bagaimana? 

    #FasilitatorHS

    #ChildrenEngagement

    #AyahNgangenin

    #HomeEducation

    Pendidikan itu…

    Pendidikan bukan hanya merupakan proses belajar mengajar yang dibatasi oleh empat dinding. Tetapi merupakan proses dimana manusia secara sadar menangkap,menyerap dan menghayati peristiwa – peristiwa alam sepanjang zaman.

    “Barangsiapa tidak terdidik oleh orangtuanya, maka akan terdidik oleh zaman”

    –Ibu Khaldun–
    Dikutip dari buku Mukadimah

    Nah, melihat kutipan kitab Mukadimah di atas, sudah seharusnya kita sebagai manusia yang diamanahi anak oleh Alloh SWT, mensyukurinya dengan mendidik anak – anak kita di rumah sesuai fitrah mereka, sesuai sifat bawaan yang sudah ditetapkan oleh – Nya. Dengan begitu, ketika mereka keluar rumah, sudah berbekal imunitas yang akan menjaga mereka dari godaan zaman yang sudah banyak melenceng dari sebelumnya.

    Dari rumah, anak – anak dipersiapkan menjadi pribadi – pribadi berkarakter kuat, pribadi yang mandiri, juga pribadi yang penuh dengan rasa iman di dada. Dan semua itu berawal dari orangtua yang senantiasa mendidik anak – anak mereka. 

    Lalu, kenapa masih bingung? 

    #BermainBersamaBapak

    #AyahNgangenin

    #FasilitatorHS

    #HomeEducation

    Bermain Bersama Bapak

    Sebagai seorang bapak, apakah anda tahu bagaimana menyenangkan anak anda?

    Apakah dengan mainan? (Mungkin)
    Atau dengan uang jajan? (Bisa jadi)

    Tapi dari yang 2 di atas ada yang lebih gampang untuk dilakukan. Tanpa modal apalagi mengeluarkan biaya.

    Yup, dengan badan anda. Semua juga sudah tahu kalo ini mah, dan saya pun juga hanya menulis saja koq hehehe.

    Badan seorang bapak itu aneh lho, bisa jadi macam macam, mau tahu?

    *Bisa jadi kuda
    *Bisa jadi gorila
    *Bisa jadi macan
    *Bisa jadi kapal
    *Bisa jadi pohon
    *Bisa jadi ayunan
    *Bisa jadi yang lain (kata cak Lontong,”Mikir!”)

    Kalo itu sih tahu lah hehe.
    Memang “hanya” seperti itu untuk menyenangkan anak. Tapi yang harus dipastikan adalah lakukan semua itu dengan senyum yang tulus, dengan muka yang ceria tanpa dibuat buat.

    Ikatan/bonding/attachment antara orangtua dan anak (dalam hal ini Bapak-Anak) seharusnya terus dilakukan agar anda menjadi seorang bapak yang “Ngangenin” bagi anak anaknya.

    Pulang telat anak nanyain dan minta telpon, atau berangkat keluar rumah belum pamitan anak nyariin.

    Mau?

    #AyahNgangenin

    #TipsParenting

    #FasilitatorHS