Catatan Harian Anak (CHA) dan Catatan Project Anak (CPA)

Definisi mengenai portofolio sudah saya bahas di artikel sebelumnya. Di sini saya hanya akan memberikan contoh portofolio yang saya gunakan sehari hari, ada 2 catatan aktivitas dan 1 profiling. Saya hanya akan membahas CHA dan CPA yang saya gunakan. Ingat, ini adalah portofolio yang saya gunakan, jadi bentuk dan isinya sesuai dengan kebutuhan saya. Silahkan bila ingin menggunakan, atau bisa juga disesuaikan dengan selera saja.

Catatan Harian Anak (CHA)

Adalah sebuah catatan berbentuk anecdotal record yang saya buat untuk mencatat aktivitas anak – anak saya di rumah. Hal yang saya catat adalah aktivitas individual yang berkesan dan berkenaan dengan fitrahnya; contoh saat anak menanyakan Alloh (fitrah keimanan), atau saat si bungsu suka sekali perform (fitrah bakat), si sulung suka sekali bongkar pasang lego, si tengah yang sering beraktivitas dengan fisiknya.

CHA terdiri dari 2 kolom kiri dan kanan, dengan header yang berisi informasi mengenai :

  • Nama anak (Nama anak yang melakukan aktivitas)
  • Tanggal lahir/umur (untuk mendapatkan informasi diri anak, tanggal lahir dan usia)
  • Waktu/Tempat (untuk mendapatkan informasi mengenai tempat kejadian)
  • Fasilitator (untuk memberikan informasi mengenai fasilitator yang menemani saat itu)
  • No CHA (untuk memberikan identitas CHA agar lebih mudah dalam administrasi)

catatan-harian

Kolom sebelah kiri adalah kolom deskripsi aktivitas anak, ada field Fitrah yang berisi kategori aktivitas yang dilakukan berdasarkan fitrahnya. Juga tools yang digunakan (bila ada) untuk melakukan aktivitas tersebut (misalnya spidol, pensil, buku iqro’ dan lainnya). Dan apabila ada dokumentasi, cantumkan di situ. Bisa berupa foto yang ditempel atau disimpan di folder/tempat lain.

Kolom sebelah kanan adalah feedback dari fasilitator, bisa berupa tanggapan, kesimpulan, catatan kecil, hal yang mungkin perlu ditingkatkan dan lainnya, pada intinya adalah sebagai komentar atas kegiatan anak tadi.

Nomor CHA adalah sebagai pengingat apabila aktivitas tersebut menghasilkan sesuatu, contohnya menggambar, maka hasil gambar bisa ditambahkan no CHA nya sebagai pengingat (apabila disimpan di tempat lain), atau apabila dokumentasi (foto) disimpan di tempat lain, untuk mudah mencarinya maka dokumentasi (foto) tersebut diberikan tanda nomor CHA. Bisa juga hasil dan foto sekalian disatukan dengan dokumen CHA tersebut.

 

Catatan Project Anak (CPA)

Adalah sebuah catatan berbentuk anecdotal record yang saya buat untuk mencatat aktivitas anak – anak saya di rumah yang berkaitan dengan project yang mereka kerjakan, baik yang dilakukan secara sendiri maupun bersama-sama. Bisa dibilang bahwa CPA ini catatan kegiatan anak yang menggunakan konsep Project Based Learning (PBL).

CPA terdiri dari 2 kolom kiri dan kanan, dengan header yang berisi informasi mengenai:

  • Nama/Judul Project (untuk menjelaskan project yang dilakukan)
  • Tempat/Tanggal/Jam (untuk menjelaskan waktu kejadian)
  • Dilakukan oleh (untuk menjelaskan anak yang melakukan)
  • Tools yang digunakan (alat/media yang digunakan dalam project)
  • Fasilitator (untuk memberikan informasi mengenai fasilitator yang menemani saat itu)
  • CPA No (untuk memberikan identitas CPA agar lebih mudah dalam administrasi)

 

catatan-project

Kolom sebelah kiri adalah kolom yang menerangkan tentang kegiatan (project) yang dilakukan anak, bisa dengan step yang dilakukan, atau singkatnya bisa dikatakan sebagai kronologis kejadian.

Kolom sebelah kanan kolom feedback fasilitator, berisi hasil pengamatan fasilitator atas :

  • Pemahaman: Seberapa baik tingkat pemahaman anak terhadap project yang dikerjakan
  • Argumentasi: Seberapa baik alasan yang diberikan anak dalam menjelaskan persoalan-persoalan dalam project yang dikerjakan
  • Kejelasan Hasil  (tersusun denngan baik, terbentuk dengan baik)
  • Catatan Fasilitator : Menjelaskan catatan (bisa kesimpulan) dari fasilitator mengenai hasil project tersebut (bisa dengan kesimpulan bahwa kerjasama anak-anak dalam melakukan project sudah bagus, si A ternyata bagus di command dan lainnya.

Contoh CPA yang sudah diisi bisa dilihat di sini

Demikian tulisan saya terkait portofolio yang saya gunakan dalam membersamai anak-anak di rumah. Semoga bermanfaat dan selamat membuat portofolio anak anda sendiri 🙂

Assessment Anak

Apa itu assessment anak? Fungsinya apa?

Bagi saya, ini adalah sebuah milestone, dan langkah awal sebelum ke proses selanjutnya, kurikulum HE.

Assessment anak, saya pribadi lebih suka menyebutnya sebagai profiling. Saya sebut demikian karena memang fungsi dari assessment ini adalah untuk mendapatkan profile anak kita secara berkala. Maksudnya berkala di sini adalah, assesment dilakukan secara periodik, bisa 3 bulan, 6 bulan bahkan 1 tahun, dan diambil dari hasil pengamatan beberapa portofolio yang sudah ditulis. Selain sebagai catatan dokumentasi, juga untuk evaluasi tentang pencapaian dari assesment periode sebelumnya.

Memang perlu didokumentasikan ya? Karena saya adalah seorang fasilitator HS, tentu akan menjawab : perlu. Karena ini termasuk bagian dari proses yang harus dilakukan setelah dan sebelum menulis portofolio anak.

Profiling sebelum menulis portofolio digunakan untuk mendapatkan “kondisi” anak saat ini (opsional, lebih baik dilakukan). Kemudian hasilnya nanti dibandingkan dengan profiling setelah pengamatan portofolio.

Cara profiling nya bagaimana?

Ini yang menarik, sebenarnya ini erat hubungannya dengan Emisol yang dibahas kemarin, yaitu proses mengamati dan membantu memberi solusi. Hanya saja ini adalah versi dokumentasinya, jadi menulis hasil pengamatan serta menyalinnya di lembar profil anak yang sudah dibuat sebelumnya.

Sepertinya susah dilakukan ya? Apabila kita sudah menulis dan mendokumentasikan aktivitas anak ke dalam portofolio anak, maka profiling ini sebenarnya hanya “menyimpulkan” beberapa pola yang ditemukan dalam kumpulan portofolio tersebut dan menuliskan kembali ke dalam sebuah lembar assessment baru. Hal ini juga berkaitan erat dengan sejauh mana kedekatan anda dengan anak – anak, semakin erat hubungan anak dengan anda, semakin mudah profiling ini dilakukan :-).

Semakin lekat orangtua dan anak, proses profiling akan terasa semakin mudah karena hanya “memindahkan” hasil pengamatan mata, telinga, hati dan perasaan ke dalam lembaran kertas.

Ada beberapa tool yag bisa digunakan dalam usaha pendokumentasian/profiling ini; misal dengan anecdotal record, kolom isian, skema, bahkan dengan model mind mapping. Jadi, seribu jalan ke Mekkah berlaku di sini, tinggal pilih saja. Nanti akan saya sertakan contoh mind mapping untuk profiling ini agar bisa didownload beserta contohnya.

Profiling anak

Profiling kami terdiri dari 6 tema (bahasa, kemandirian, emosi, keimanan, minat, sosialisasi).

Setiap tema dibagi lagi menjadi 2 bagian: kiri (saat ini) dan kanan (penguatan aktivitas).

Sebelah kiri adalah hasil (kondisi anak) pada saat profiling. Sedangkan sebelah kanan adalah kesimpulan atau aktivitas yang direncanakan untuk mendukung hasil sebelah kiri.

Jadi, sudahkah anda tahu milestone anak anda di mana? 🙂

Design Thinking untuk anak

Makanan apa itu Design Thinking (DT)?

Tidak usah bingung, secara sederhana bisa diartikan bahwa Design Thinking (DT) adalah suatu metode memecahkan masalah yang sering digunakan dalam bisnis maupun yang lain. Titik beratnya adalah menggali informasi sedalam mungkin untuk bisa memberikan solusi terbaik dalam suatu masalah.

Prosesnya bagaimana? Bicara mengenai design thinking process, banyak metode DT yang digunakan di dunia (silahkan browsing dengan keywords: Design thinking models). Di sini saya hanya akan menjelaskan mengenai DT Emisol.

1. Tentang Emisol

Saya mengenal Emisol dari Pak Achmad Ferzal, biasa dipanggil Bang Ical. Seorang aktivis berlingkung dan kearifan lokal yang lebih suka menyebut Design Thinking ini dengan RuaNgakal, karena lebih mendekati kearifan lokal masyarakat Indonesia.

Bang Ical mempunyai slogan yang asyik: Mau-Mampu-Maju. Saya sendiri kemudian menambahkan slogan ini menjadi: Bila orangtua  MAU, pasti MAMPU untuk MAJU bersama buah hati tercinta, dalam rangka menyemangati para orang tua membersamai anak-anaknya menemukan potensi terbaiknya melalui Emisol ini.

2. Kegunaan Emisol

Jadi, Emisol ini apa? Fungsinya dalam pendidikan rumah (HE) untuk apa?

Baik, dalam khasanah dunia HE, emisol digunakan sebagai tool untuk mengamati tumbuh kembang anak beserta potensi-potensinya sehingga orangtua yang berperan sebagai fasilitator bisa memfasilitasi (baca: mengarahkan) potensi-potensi tersebut menjadi bakat yang akhirnya akan dipakai si anak berperan dalam kehidupannya. Dengan Emisol, maka bisa dirancang kegiatan yang bisa menjadi kurikulum anak yang unik. Unik di sini maksudnya adalah kurikulumnya berbeda setiap anak, dan bisa dipakai baik anak tersebut sekolah maupun tidak, karena berbasis potensi/kekuatan anak.

3. Menjalankan Emisol

Berikut adalah cara/langkah yang biasa dilakukan dalam Design Thinking menggunakan metode Emisol:

  1. Empati, adalah proses mengamati; bisa dengan pertanyaan/interview atau melihat langsung. Dalam HE, peran orangtua dalam membersamai anak sangat amat penting sekali sebagai fasilitator, oleh karena itu empati ini adalah nilai/bonus membersamai tersebut. Ketika engagement orangtua-anak sudah kuat, maka orangtua akan tahu karakteristik anaknya sendiri; baik kekuatan, kelemahan, hobi, sifat dan lainnya.Mengamati pun harus dengan hati, turunkan ego dan ambisi pribadi agar hasilnya benar. Hasil pengamatan dicatat dalam lembaran lain sebagai portofolio (akan ditulis di bagian kurikulum HE). Portofolio ini sebagai dasar merancang dan mengamati kegiatan anak selanjutnya.
  2. Imajinasi, adalah proses memikirkan/mengolah hasil empati menjadi kemungkinan – kemungkinan yang bisa dijalankan untuk mendukung potensi anak; bisa cara/konsep yang baru, alat atau bahkan metode, yang pada intinya adalah dalam rangka memastikan, menajamkan dan mengasah keterampilan anak.
  3. Solusi, ketika proses imajinasi selesai dilakukan, maka tugas kita selanjutnya sebagai fasilitator ada 2, pertama merancang kegiatan/aktivitas yang berhubungan dengan mengasah keterampilan tadi, dan hasilnya dicatat, baik dalam portofolio atau yg lain untuk di-empati kan kembali, keterampilannya meningkat atau tidak? Kedua, apabila anak sudah bisa diajak diskusi, maka bisa  menyampaikan/berdiskusi dengan anak tentang kemungkinan – kemungkinan tersebut.Kita serahkan keputusan di tangan anak, mau memakai atau tidak. Ajukan beberapa solusi. Bila ternyata solusi – solusi yang kita tawarkan ditolak, mungkin ada yang terlewat dari proses empati kita. Jadi lakukan empati sekali lagi, cari yang terlewat tersebut dan berikan solusi terbaik bagi putra putri kita.

Kegiatan ini akn terus berputar/melingkar dan mekar, mekar di sini maksudnya adalah ketika ketrampilan diasah, maka akan mekar, dan bila ditambahkan aktivitas lain yang bisa membuatnya bertambah keterampilan, inovasi, dan yang lain maka akan semakin mekar lagi. Demikian seterusnya.

Proses Design Thinking ketika solusi terbaik belum ditemukan, maka proses akan berlanjut memutar (melingkar) kembali dari awal (Empati) dan mekar.

Nah, selamat ber-emisol yaa….

 

Antara nobar dan bermain

Sabtu, 27 Agustus 2016 memenuhi undangan salah satu teman untuk melaksanakan NoBar film The Beginning of Life di LPIA dan GAMA UI Pondok Kopi, Jakarta Timur. Tidak seperti biasanya, kali ini kedatangan kami tidak Full Team, hanya saya dan ketiga pasukan yang selalu ceria dan seru plus ribut. Ya, istri saya masih masa recovery setelah sempat 7 hari dari 2 minggu sakitnya tidak bisa bangun dari tempat tidur. Beliau yang meminta saya untuk tetap melaksanakan NoBar.

Bapak’s time judulnya, tertawa bareng,bermain bareng, dan menjawab berbagai pertanyaan spontan yang kadang membikin diam untuk selanjutnya menjawab dengan kalimat pamungkas;”Bapak belum tahu, nanti sampe rumah kita cari tahu ya bareng bareng”. Hehehe

Sudah membawa bekal mainan, Alhamdulillaah di sana justru Bermain Bersama Alam (BBA), belajar menanam pohon tanpa ada yang membimbing. Ujug ujug (baca: tiba-tiba,_red) laporan kalo sudah berhasil menanam pohon kecil bersama satu temannya. EKPLORASI!

Eksplorasi

Nah, kembali ke NoBar, Alhamdulillaah NoBar #2 kali ini ada beberapa kejutan:

  1. Seorang manajer tak bergeming selama pemutaran film, dan di sesi akhir mengatakan bahwa filmnya “menampar” dia dan istrinya yang ternyata masih memilih “quality time” daripada “quantity time”
  2. Seorang guru menangis sepanjang pemutaran film
  3. Guru lain tersadar pola asuhnya selama ini
  4. Bujanghidin ada 3, sepakat ingin menjadi orang tua masa depan, orang tua yang memahami akan anak anaknya
Beginning of life

    Yang Pasti,

    1. Anak bukanlah kertas kosong yang harus kita tulisi
    2. Anak bukanlah gelas yang harus selalu kita isi
    3. Kenalkan anak akan sesuatu agar mereka mencintai dan akhirnya mempelajari, bukan “memaksa” mereka untuk belajar apa yang kita mau

    Jadi, perubahan terkadang harus melalui proses, tidak bisa seperti makan mie instant.

    #NoBar

    #TheBeginningOfLife

    #FasilitatorHS

    #HomeEducation

    #AyahNgangenin

    #BermainBersamaBapak(B3)

    #SaatnyaBerbagiDanBukanMeminta

    Metode HS apa yang terbaik?

    Pertanyaan ini terkadang muncul di sela – sela obrolan atau diskusi tentang HS. Dan saya pun selalu menjawab dengan kalimat yang sama: Tidak ada metode HS terbaik, yang ada hanya metode HS paling sesuai dengan keluarga. 

    Mengapa bisa bisa begitu? 

    Ustadz Budi Azhari pernah menyampaikan kurang lebih seperti ini : Sebuah cincin terlihat bagus dan pantas dipakai di jari manis seseorang. Namun ketika kita coba memakainya, belum tentu terlihat bagus dan pantas, itulah  tips. 

    Begitu juga dengan metode HS ini, ada bermacam metode yang dipakai oleh para praktisi HS, setidaknya yang saya ketahui ada 4 Metode: terstruktur, tidak terstruktur, adaptasi, dan customized.

    Apa dan bagaimana metode – metode tersebut digunakan? Mari kita bahas satu per satu.

    1. Metode terstruktur, adalah metode yang bisa dibilang “school at home”, atau kalau saya bilangnya memindahkan sekolah ke rumah. Hal ini karena metode ini merujuk pada kurikulum sekolah yang ada, namun diaplikasikan di rumah, jadi hanya seperti memindahkan tempat belajar dari sekolah ke rumah saja, acuan yang dipakai adalah pelajaran sekolah, dengan semua tingkatan kelas dan pelajarannya.
    2. Metode tidak terstruktur, atau lebih dikenal dengan unschooling, menitikberatkan pada potensi/bakat anak itu sendiri. Gaya belajarnya bebas, karena pada prinsipnya semua aktivitas yang dilakukan adalah belajar. Seperti yang disampaikan pencetus unschooling sendiri, John Holt. Beliau mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara hidup dan belajar. Orangtua memahami bahwa setiap anak adalah unik dan mempunyai bakat sendiri – sendiri, tinggal dicari saja bakatnya, setelah ketemu maka orangtua akan memfasilitasi bakat tersebut menjadi sesuatu yang berguna bagi hidupnya. Tidak ada buku tertentu sebagai acuan, pedomannya hanya “membaca” potensi/bakat anak – anaknya.
    3. Metode Adaptasi, mengapa saya bilang metode adaptasi? Bukan lain karena memang metode ini mengadopsi dari praktisi pendidikan rumah yang sudah terlebih dulu menjalankan. Bisa diambil dari metode luar negeri, dalam negeri, atau agama. Metode ini banyak macamnya; seperti Montessori, Charlotte Mason (CM), kurikulum berbasis aqidah, dan sebagainya (untuk mengetahui apa dan bagaimana metode – metode tersebut, silahkan browsing dengan keyword seperti di atas)
    4. Metode Customized/Personalized, sebuah metode yang digunakan sesuai dengan kebutuhan yang membuatnya. Ciri dari metode ini adalah tidak adanya kesamaan antar yang satu dengan yang lain, atau dengan kata lain, setiap keluarga akan mempunyai metode yang berbeda. Lalu apakah sama dengan unschooling? Unschooling itu gaya belajar yang bebas, sedangkan customized sudah ditentukan di awal, apa sasaran yang dituju, caranya bagaimana, dan apa yang harus dilakukan. Semua sudah direncanakan. Memang ada benang merah antara unschooling dan customized method ini, sama sama menekankan pada potensi, namun di customized curriculum, keluarga bisa “membuat” sendiri education roadmap yang akan dijalani.

    Nah, setelah mengetahui metode – metode di atas, metode mana yang akan dipakai sebagai acuan? Silahkan rundingkan dengan keluarga anda masing – masing 🙂

    Ketika Bapak Pulang

    Ada beberapa kebiasanan yang saya dan anak – anak lakukan ketika pulang kerja, salah satunya adalah curhat bebas di depan rumah. (ini terjadi kalo anak anak tahu bahwa bapak sudah di depan rumah dan mereka punya masalah untuk diceritakan).


    (Waktu kejadian: kemarin malam)

    Bayangkan, kira kira apa yang akan anda lakukan sebagai seorang Ayah ketika baru buka pager rumah, sudah diserbu anak – anak (anak saya 3 lelaki semua lho). 

    Yang gede (Mas Ozan, 7.8y) langsung curhat tadi siang ribut sama adeknya yang tengah (Mas Izzam, 6.4y). Belum selesai cerita yang sulung, Mas Izzam juga juga curhat hal yg sama (ceritanya membela diri gitu). Ini belum beres tiba tiba yang paling bungsu (Zaidan, 3.2y) minta digendong kemudian cerita juga bahwa kakinya sudah sembuh (tempo hari memang sempet jatuh). Hehehe.

    Apakah anda akan marah? Atau seneng?

    Kalo saya pasti seneng dong, berasa jadi paling penting gituh.

    Children Engagement, istilah ini yang biasanya dipakai untuk menggambarkan kedekatan kepada anak. Hal ini tentu saja tidak dapat terjadi begitu saja, perlu proses, dan saya pun masih terus berproses. Di sini saya tidak mengajari lho, hanya menceritakan pengalaman saya saja.

    Karena tema kali ini adalah curhat, maka saya pun hanya akan menceritakan pengalaman saya dengan anak tentang curhat. 

    • Saya biasa menceritakan hal hal atau kejadian yang saya lihat di jalan kepada anak anak, Misalnya; “Tau nggak mas, tadi di jalan macet karena ada kebakaran”.
    • Saya juga biasa menyampaikan alasan kenapa pulang telat, misalnya ;“Maaf yaa, Bapak pulang telat, tadi mampir dulu ke rumah Om ….). 
    • Bila malam – malam, sebelum tidur saya juga rajin nanya ke anak anak tentang kegiatan mereka sehari tadi, apakah sholat di mushola, main apa dan dengan siapa.

    Nah,dari cerita cerita yang terlihat sepele ini ternyata menimbulkan interaksi yang akhirnya membuat mereka pun akhirnya terbiasa menceritakan masalah mereka kepada bapaknya, bahkan ketika saya lagi makan malam pun anak – anak berseliweran cari perhatian.

    Indahnyaa…

    Nah, kalo anda sendiri, bagaimana? 

    #FasilitatorHS

    #ChildrenEngagement

    #AyahNgangenin

    #HomeEducation

    Pendidikan itu…

    Pendidikan bukan hanya merupakan proses belajar mengajar yang dibatasi oleh empat dinding. Tetapi merupakan proses dimana manusia secara sadar menangkap,menyerap dan menghayati peristiwa – peristiwa alam sepanjang zaman.

    “Barangsiapa tidak terdidik oleh orangtuanya, maka akan terdidik oleh zaman”

    –Ibu Khaldun–
    Dikutip dari buku Mukadimah

    Nah, melihat kutipan kitab Mukadimah di atas, sudah seharusnya kita sebagai manusia yang diamanahi anak oleh Alloh SWT, mensyukurinya dengan mendidik anak – anak kita di rumah sesuai fitrah mereka, sesuai sifat bawaan yang sudah ditetapkan oleh – Nya. Dengan begitu, ketika mereka keluar rumah, sudah berbekal imunitas yang akan menjaga mereka dari godaan zaman yang sudah banyak melenceng dari sebelumnya.

    Dari rumah, anak – anak dipersiapkan menjadi pribadi – pribadi berkarakter kuat, pribadi yang mandiri, juga pribadi yang penuh dengan rasa iman di dada. Dan semua itu berawal dari orangtua yang senantiasa mendidik anak – anak mereka. 

    Lalu, kenapa masih bingung? 

    #BermainBersamaBapak

    #AyahNgangenin

    #FasilitatorHS

    #HomeEducation

    Bermain Bersama Bapak

    Sebagai seorang bapak, apakah anda tahu bagaimana menyenangkan anak anda?

    Apakah dengan mainan? (Mungkin)
    Atau dengan uang jajan? (Bisa jadi)

    Tapi dari yang 2 di atas ada yang lebih gampang untuk dilakukan. Tanpa modal apalagi mengeluarkan biaya.

    Yup, dengan badan anda. Semua juga sudah tahu kalo ini mah, dan saya pun juga hanya menulis saja koq hehehe.

    Badan seorang bapak itu aneh lho, bisa jadi macam macam, mau tahu?

    *Bisa jadi kuda
    *Bisa jadi gorila
    *Bisa jadi macan
    *Bisa jadi kapal
    *Bisa jadi pohon
    *Bisa jadi ayunan
    *Bisa jadi yang lain (kata cak Lontong,”Mikir!”)

    Kalo itu sih tahu lah hehe.
    Memang “hanya” seperti itu untuk menyenangkan anak. Tapi yang harus dipastikan adalah lakukan semua itu dengan senyum yang tulus, dengan muka yang ceria tanpa dibuat buat.

    Ikatan/bonding/attachment antara orangtua dan anak (dalam hal ini Bapak-Anak) seharusnya terus dilakukan agar anda menjadi seorang bapak yang “Ngangenin” bagi anak anaknya.

    Pulang telat anak nanyain dan minta telpon, atau berangkat keluar rumah belum pamitan anak nyariin.

    Mau?

    #AyahNgangenin

    #TipsParenting

    #FasilitatorHS