Deschooling

Suatu ketika ada teman “curhat” tentang anaknya yang ingin sekolah di rumah (HS), tapi ketika sudah mulai dan diberikan jadwal belajar, anaknya berontak tidak mau sehingga teman saya ini pun bingung.Saya hanya bilang bahwa anaknya lagi fase deschooling. Apa itu deschooling? 

1. Definisi Deschooling

Setidaknya ada 2 definisi deschooling yang saya tahu; yang pertama menyebutkan bahwa deschooling adalah sebuah proses peralihan dari pola pendidikan terstruktur (sekolah) menuju pola tidak terstruktur (homeschooling). Yang kedua mengatakan bahwa deschooling  merupakan proses memperbaiki dan atau menjalin/mempererat komunikasi dan engagement antara orangtua dan anak. Tidak ada perbedaan sebenarnya, bahkan keduanya seperti saling melengkapi.

Pada fase ini seharusnya orangtua membiarkan/membebaskan anak dari rutinitas sebelumya supaya bisa beradaptasi terhadap pola yang baru.

Jadi, anaknya tidak belajar dong?

Tunggu dulu, jangan buru – buru menyimpulkan. Belajar apa maksudnya? Apakah belajar mata pelajaran? Bila yang dimaksud adalah belajar mata pelajaran sesuai dengan yang diajarkan saat sekolah sebelumnya, maka ini salah. Tetapi bila dikatakan bahwa anak belajar tentang “gaya belajar” dan kehidupan (karakter, kemandirian) dan lainnya, ini baru benar.

Deschooling, biasa juga disebut dengan masa detox  (mengeluarkan racun, dalam hal ini pola belajar terstruktur) pada dasarnya diperlukan bagi anak dan orangtua yang memulai HS. Seorang anak, bila sudah pernah merasakan sekolah, kemudian melanjutkan HS tentu harus beradaptasi dulu mengenai pola belajarnya, karena HS mempunyai prinsip dalam hal “kebebasan” belajar. Dari yang biasanya terstruktur dan terjadwal menjadi bebas dan sesuka hati (walau tentu sesuai pola/gaya masing – masing)

Demikian juga dengan orang tua, harus ikut menyesuaikan dengan kebiasaan baru. Jangan sampai orangtua kaget dan justru kebingungan ketika memulai HS yang akhirnya membuat semua berantakan. Kaget yang saya maksud adalah orangtua menjadi tidak percaya diri dengan kemampuannya menjadi fasilitator anak, yang kemudian diaplikasikan dengan cara salah;contoh membuat jadwal belajar tanpa berdiskusi dulu dengan anaknya. Bila ini yang terjadi, maka mindset orangtualah yang sebenarnya butuh deschooling

2. Proses Deschooling

Saat proses deschooling berlangsung, yang dibutuhkan orangtua dan anaknya adalah banyak melakukan kegiatan bersama sama agar ikatan (bonding/engagement)  semakin kuat. Dalam waktu membersamai inilah nanti diharapkan orangtua dapat “lebih” mengenal karakter anaknya, khususnya dalam hal gaya belajar. Ketika hal ini (orangtua menemukan/mengenali) gaya belajar anak, maka bisa dikatakan bahwa proses deschooling sudah selesai.

3. Berapa lama deschooling berlangsung?

Pak Aar dari rumah inspirasi menulis bahwa lama proses deschooling bisa dihitung dari lama masa sekolah yang sudah dijalani, dengan n tahun sekolah = n bulan deschooling, misalkan sudah menjalani sekolah selama 7 tahun, maka masa/proses deschooling sekitar 7 bulan. 

Bu Septi Peni Wulandani mengatakan, untuk memperkuat bonding/engagement antara ibu dan anak diperlukan sekitar 90 hari berinteraksi dengan melakukan banyak aktifitas bersama.Di sini yang ditekankan adalah penguatan bonding/engagement sehingga pada akhirnya orangtua dan anak menemukan pola belajar tertentu.

Bahkan ada pula yang tanpa mengalami deschooling sehingga langsung berproses. 

Nah, apakah ada di antara anda atau anak anda pernah atau sedang mengalami deschooling ini?

Assessment Anak

Apa itu assessment anak? Fungsinya apa?

Bagi saya, ini adalah sebuah milestone, dan langkah awal sebelum ke proses selanjutnya, kurikulum HE.

Assessment anak, saya pribadi lebih suka menyebutnya sebagai profiling. Saya sebut demikian karena memang fungsi dari assessment ini adalah untuk mendapatkan profile anak kita secara berkala. Maksudnya berkala di sini adalah, assesment dilakukan secara periodik, bisa 3 bulan, 6 bulan bahkan 1 tahun, dan diambil dari hasil pengamatan beberapa portofolio yang sudah ditulis. Selain sebagai catatan dokumentasi, juga untuk evaluasi tentang pencapaian dari assesment periode sebelumnya.

Memang perlu didokumentasikan ya? Karena saya adalah seorang fasilitator HS, tentu akan menjawab : perlu. Karena ini termasuk bagian dari proses yang harus dilakukan setelah dan sebelum menulis portofolio anak.

Profiling sebelum menulis portofolio digunakan untuk mendapatkan “kondisi” anak saat ini (opsional, lebih baik dilakukan). Kemudian hasilnya nanti dibandingkan dengan profiling setelah pengamatan portofolio.

Cara profiling nya bagaimana?

Ini yang menarik, sebenarnya ini erat hubungannya dengan Emisol yang dibahas kemarin, yaitu proses mengamati dan membantu memberi solusi. Hanya saja ini adalah versi dokumentasinya, jadi menulis hasil pengamatan serta menyalinnya di lembar profil anak yang sudah dibuat sebelumnya.

Sepertinya susah dilakukan ya? Apabila kita sudah menulis dan mendokumentasikan aktivitas anak ke dalam portofolio anak, maka profiling ini sebenarnya hanya “menyimpulkan” beberapa pola yang ditemukan dalam kumpulan portofolio tersebut dan menuliskan kembali ke dalam sebuah lembar assessment baru. Hal ini juga berkaitan erat dengan sejauh mana kedekatan anda dengan anak – anak, semakin erat hubungan anak dengan anda, semakin mudah profiling ini dilakukan :-).

Semakin lekat orangtua dan anak, proses profiling akan terasa semakin mudah karena hanya “memindahkan” hasil pengamatan mata, telinga, hati dan perasaan ke dalam lembaran kertas.

Ada beberapa tool yag bisa digunakan dalam usaha pendokumentasian/profiling ini; misal dengan anecdotal record, kolom isian, skema, bahkan dengan model mind mapping. Jadi, seribu jalan ke Mekkah berlaku di sini, tinggal pilih saja. Nanti akan saya sertakan contoh mind mapping untuk profiling ini agar bisa didownload beserta contohnya.

Profiling anak

Profiling kami terdiri dari 6 tema (bahasa, kemandirian, emosi, keimanan, minat, sosialisasi).

Setiap tema dibagi lagi menjadi 2 bagian: kiri (saat ini) dan kanan (penguatan aktivitas).

Sebelah kiri adalah hasil (kondisi anak) pada saat profiling. Sedangkan sebelah kanan adalah kesimpulan atau aktivitas yang direncanakan untuk mendukung hasil sebelah kiri.

Jadi, sudahkah anda tahu milestone anak anda di mana? 🙂

Design Thinking untuk anak

Makanan apa itu Design Thinking (DT)?

Tidak usah bingung, secara sederhana bisa diartikan bahwa Design Thinking (DT) adalah suatu metode memecahkan masalah yang sering digunakan dalam bisnis maupun yang lain. Titik beratnya adalah menggali informasi sedalam mungkin untuk bisa memberikan solusi terbaik dalam suatu masalah.

Prosesnya bagaimana? Bicara mengenai design thinking process, banyak metode DT yang digunakan di dunia (silahkan browsing dengan keywords: Design thinking models). Di sini saya hanya akan menjelaskan mengenai DT Emisol.

1. Tentang Emisol

Saya mengenal Emisol dari Pak Achmad Ferzal, biasa dipanggil Bang Ical. Seorang aktivis berlingkung dan kearifan lokal yang lebih suka menyebut Design Thinking ini dengan RuaNgakal, karena lebih mendekati kearifan lokal masyarakat Indonesia.

Bang Ical mempunyai slogan yang asyik: Mau-Mampu-Maju. Saya sendiri kemudian menambahkan slogan ini menjadi: Bila orangtua  MAU, pasti MAMPU untuk MAJU bersama buah hati tercinta, dalam rangka menyemangati para orang tua membersamai anak-anaknya menemukan potensi terbaiknya melalui Emisol ini.

2. Kegunaan Emisol

Jadi, Emisol ini apa? Fungsinya dalam pendidikan rumah (HE) untuk apa?

Baik, dalam khasanah dunia HE, emisol digunakan sebagai tool untuk mengamati tumbuh kembang anak beserta potensi-potensinya sehingga orangtua yang berperan sebagai fasilitator bisa memfasilitasi (baca: mengarahkan) potensi-potensi tersebut menjadi bakat yang akhirnya akan dipakai si anak berperan dalam kehidupannya. Dengan Emisol, maka bisa dirancang kegiatan yang bisa menjadi kurikulum anak yang unik. Unik di sini maksudnya adalah kurikulumnya berbeda setiap anak, dan bisa dipakai baik anak tersebut sekolah maupun tidak, karena berbasis potensi/kekuatan anak.

3. Menjalankan Emisol

Berikut adalah cara/langkah yang biasa dilakukan dalam Design Thinking menggunakan metode Emisol:

  1. Empati, adalah proses mengamati; bisa dengan pertanyaan/interview atau melihat langsung. Dalam HE, peran orangtua dalam membersamai anak sangat amat penting sekali sebagai fasilitator, oleh karena itu empati ini adalah nilai/bonus membersamai tersebut. Ketika engagement orangtua-anak sudah kuat, maka orangtua akan tahu karakteristik anaknya sendiri; baik kekuatan, kelemahan, hobi, sifat dan lainnya.Mengamati pun harus dengan hati, turunkan ego dan ambisi pribadi agar hasilnya benar. Hasil pengamatan dicatat dalam lembaran lain sebagai portofolio (akan ditulis di bagian kurikulum HE). Portofolio ini sebagai dasar merancang dan mengamati kegiatan anak selanjutnya.
  2. Imajinasi, adalah proses memikirkan/mengolah hasil empati menjadi kemungkinan – kemungkinan yang bisa dijalankan untuk mendukung potensi anak; bisa cara/konsep yang baru, alat atau bahkan metode, yang pada intinya adalah dalam rangka memastikan, menajamkan dan mengasah keterampilan anak.
  3. Solusi, ketika proses imajinasi selesai dilakukan, maka tugas kita selanjutnya sebagai fasilitator ada 2, pertama merancang kegiatan/aktivitas yang berhubungan dengan mengasah keterampilan tadi, dan hasilnya dicatat, baik dalam portofolio atau yg lain untuk di-empati kan kembali, keterampilannya meningkat atau tidak? Kedua, apabila anak sudah bisa diajak diskusi, maka bisa  menyampaikan/berdiskusi dengan anak tentang kemungkinan – kemungkinan tersebut.Kita serahkan keputusan di tangan anak, mau memakai atau tidak. Ajukan beberapa solusi. Bila ternyata solusi – solusi yang kita tawarkan ditolak, mungkin ada yang terlewat dari proses empati kita. Jadi lakukan empati sekali lagi, cari yang terlewat tersebut dan berikan solusi terbaik bagi putra putri kita.

Kegiatan ini akn terus berputar/melingkar dan mekar, mekar di sini maksudnya adalah ketika ketrampilan diasah, maka akan mekar, dan bila ditambahkan aktivitas lain yang bisa membuatnya bertambah keterampilan, inovasi, dan yang lain maka akan semakin mekar lagi. Demikian seterusnya.

Proses Design Thinking ketika solusi terbaik belum ditemukan, maka proses akan berlanjut memutar (melingkar) kembali dari awal (Empati) dan mekar.

Nah, selamat ber-emisol yaa….

 

Metode HS apa yang terbaik?

Pertanyaan ini terkadang muncul di sela – sela obrolan atau diskusi tentang HS. Dan saya pun selalu menjawab dengan kalimat yang sama: Tidak ada metode HS terbaik, yang ada hanya metode HS paling sesuai dengan keluarga. 

Mengapa bisa bisa begitu? 

Ustadz Budi Azhari pernah menyampaikan kurang lebih seperti ini : Sebuah cincin terlihat bagus dan pantas dipakai di jari manis seseorang. Namun ketika kita coba memakainya, belum tentu terlihat bagus dan pantas, itulah  tips. 

Begitu juga dengan metode HS ini, ada bermacam metode yang dipakai oleh para praktisi HS, setidaknya yang saya ketahui ada 4 Metode: terstruktur, tidak terstruktur, adaptasi, dan customized.

Apa dan bagaimana metode – metode tersebut digunakan? Mari kita bahas satu per satu.

  1. Metode terstruktur, adalah metode yang bisa dibilang “school at home”, atau kalau saya bilangnya memindahkan sekolah ke rumah. Hal ini karena metode ini merujuk pada kurikulum sekolah yang ada, namun diaplikasikan di rumah, jadi hanya seperti memindahkan tempat belajar dari sekolah ke rumah saja, acuan yang dipakai adalah pelajaran sekolah, dengan semua tingkatan kelas dan pelajarannya.
  2. Metode tidak terstruktur, atau lebih dikenal dengan unschooling, menitikberatkan pada potensi/bakat anak itu sendiri. Gaya belajarnya bebas, karena pada prinsipnya semua aktivitas yang dilakukan adalah belajar. Seperti yang disampaikan pencetus unschooling sendiri, John Holt. Beliau mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara hidup dan belajar. Orangtua memahami bahwa setiap anak adalah unik dan mempunyai bakat sendiri – sendiri, tinggal dicari saja bakatnya, setelah ketemu maka orangtua akan memfasilitasi bakat tersebut menjadi sesuatu yang berguna bagi hidupnya. Tidak ada buku tertentu sebagai acuan, pedomannya hanya “membaca” potensi/bakat anak – anaknya.
  3. Metode Adaptasi, mengapa saya bilang metode adaptasi? Bukan lain karena memang metode ini mengadopsi dari praktisi pendidikan rumah yang sudah terlebih dulu menjalankan. Bisa diambil dari metode luar negeri, dalam negeri, atau agama. Metode ini banyak macamnya; seperti Montessori, Charlotte Mason (CM), kurikulum berbasis aqidah, dan sebagainya (untuk mengetahui apa dan bagaimana metode – metode tersebut, silahkan browsing dengan keyword seperti di atas)
  4. Metode Customized/Personalized, sebuah metode yang digunakan sesuai dengan kebutuhan yang membuatnya. Ciri dari metode ini adalah tidak adanya kesamaan antar yang satu dengan yang lain, atau dengan kata lain, setiap keluarga akan mempunyai metode yang berbeda. Lalu apakah sama dengan unschooling? Unschooling itu gaya belajar yang bebas, sedangkan customized sudah ditentukan di awal, apa sasaran yang dituju, caranya bagaimana, dan apa yang harus dilakukan. Semua sudah direncanakan. Memang ada benang merah antara unschooling dan customized method ini, sama sama menekankan pada potensi, namun di customized curriculum, keluarga bisa “membuat” sendiri education roadmap yang akan dijalani.

Nah, setelah mengetahui metode – metode di atas, metode mana yang akan dipakai sebagai acuan? Silahkan rundingkan dengan keluarga anda masing – masing 🙂

Bermain Bersama Bapak

Sebagai seorang bapak, apakah anda tahu bagaimana menyenangkan anak anda?

Apakah dengan mainan? (Mungkin)
Atau dengan uang jajan? (Bisa jadi)

Tapi dari yang 2 di atas ada yang lebih gampang untuk dilakukan. Tanpa modal apalagi mengeluarkan biaya.

Yup, dengan badan anda. Semua juga sudah tahu kalo ini mah, dan saya pun juga hanya menulis saja koq hehehe.

Badan seorang bapak itu aneh lho, bisa jadi macam macam, mau tahu?

*Bisa jadi kuda
*Bisa jadi gorila
*Bisa jadi macan
*Bisa jadi kapal
*Bisa jadi pohon
*Bisa jadi ayunan
*Bisa jadi yang lain (kata cak Lontong,”Mikir!”)

Kalo itu sih tahu lah hehe.
Memang “hanya” seperti itu untuk menyenangkan anak. Tapi yang harus dipastikan adalah lakukan semua itu dengan senyum yang tulus, dengan muka yang ceria tanpa dibuat buat.

Ikatan/bonding/attachment antara orangtua dan anak (dalam hal ini Bapak-Anak) seharusnya terus dilakukan agar anda menjadi seorang bapak yang “Ngangenin” bagi anak anaknya.

Pulang telat anak nanyain dan minta telpon, atau berangkat keluar rumah belum pamitan anak nyariin.

Mau?

#AyahNgangenin

#TipsParenting

#FasilitatorHS