Membaca pola dalam jurnal kegiatan dan portofolio anak

pola1

Pola anak dalam sebuah portofolio dapat diketahui dengan membaca jurnal-jurnal yang sudah dikumpulkan secara periodik. Dari kumpulan jurnal (portofolio) ini, dilihat  “aktivitas atau ekspresi” berulang yang dilakukan oleh anak, baik dalam kegiatan maupun sikap/sifat keseharian. Aktivitas yang dilakukan anak dengan semangat, berbinar binar, dan selalu menanyakan kapan lagi. Atau sikap, sifat menonjol yang tampak saat anak bermain dengan teman maupun saudaranya. Pembacaan pola ini biasanya di saat anak usia 0-7 tahun, bahkan kadang bisa lebih, tergantung seberapa banyak aktivitas dan pengamatan yang dilakukan.

Contohnya bisa dilihat dalam gambar, ada beberapa bulatan yang besar dan berwarna, itulah yang saya sebut dengan pola yang harus dipahami sebagai keunikan dan potensi anak. Misalnya saat bermain bola, di posisi manakah anak merasa senang dan hebat? Atau suka mengatur, saat bermain dengan teman-temannya, apakah suka mengatur ini berlaku bila anak bermain dengan teman yang usianya lebih tua? Atau suka menghapal, ditelisik lagi; dengan gaya belajar model apa si anak bisa lebih mudah menghapal? Atau situasi bagaimana? Atau hal apa saja yang suka dihapal?, dan pertanyaan lainnya yang serupa. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang harus dilatih dalam membuat jurnal kegiatan untuk kemudian dikumpulkan dalam sebuah portofolio dengan pengamatan (profiling) periode tertentu. Atau bisa juga libatkan anak dalam membuat jurnal, bisa dengan anak menuliskan sendiri jurnalnya, atau dengan sharing, orangtua mendengarkan kemudian dicatat. Mulailah dengan yang sederhana.

Cara di atas adalah untuk membaca potensi, apakah bisa untuk mengamati yang lain? Tentu saja bisa, tinggal disesuaikan, umpamanya tentang keimanan, tentang cara berpikir dan yang lain, bisa tetap diamati dan dibandingkan dengan sebelumnya untuk mengetahui apakah ada kemajuan atau tidak, serta untuk difasilitasi apa yang dirasa kurang.

Pertanyaan yang sering diajukan kemudian adalah, what’s next? Jangan khawatir dan bingung, pola-pola yang sudah ditemukan dan ditandai tersebut bisa  diberikan kegiatan eksplorasi dan atau pengamatan yang lebih dalam  di periode berikutnya. Tugas kita sebagai fasilitator/pendamping adalah merancang dan memfasilitasi kegiatan-kegiatan anak tersebut. Bisa berbasis project ataupun hanya sebatas pengenalan.

Untuk usia di bawah 7 tahun, bisa dengan merancang kegiatan (saya sendiri lebih suka menyebut dengan merancang pengalaman) untuk memperkaya wawasan anak. Dan apabila pola sudah ditemukan, bisa dilanjut dengan merancang kurikulum personal yang bisa diterapkan untuk anak yang memilih jalur pendidikan formal (sekolah) maupun informal (Homeschooling/Home Education).

Yang diperlukan adalah kemauan dan keberanian orangtua untuk segera melangkah, menjadi teman tumbuh teman belajar anak, saling belajar dan mengajar. Tanpa adanya kemauan, yang terjadi hanya kebingungan yang semakin akut sementara teori semakin banyak ditelan mentah-mentah.

Jadi, mari bergerak bersama, bila kita sudah MAU, pasti MAMPU untuk MAJU bersama anak. Raise yourchild, raise ourselves.

 

Assessment Anak

Apa itu assessment anak? Fungsinya apa?

Bagi saya, ini adalah sebuah milestone, dan langkah awal sebelum ke proses selanjutnya, kurikulum HE.

Assessment anak, saya pribadi lebih suka menyebutnya sebagai profiling. Saya sebut demikian karena memang fungsi dari assessment ini adalah untuk mendapatkan profile anak kita secara berkala. Maksudnya berkala di sini adalah, assesment dilakukan secara periodik, bisa 3 bulan, 6 bulan bahkan 1 tahun, dan diambil dari hasil pengamatan beberapa portofolio yang sudah ditulis. Selain sebagai catatan dokumentasi, juga untuk evaluasi tentang pencapaian dari assesment periode sebelumnya.

Memang perlu didokumentasikan ya? Karena saya adalah seorang fasilitator HS, tentu akan menjawab : perlu. Karena ini termasuk bagian dari proses yang harus dilakukan setelah dan sebelum menulis portofolio anak.

Profiling sebelum menulis portofolio digunakan untuk mendapatkan “kondisi” anak saat ini (opsional, lebih baik dilakukan). Kemudian hasilnya nanti dibandingkan dengan profiling setelah pengamatan portofolio.

Cara profiling nya bagaimana?

Ini yang menarik, sebenarnya ini erat hubungannya dengan Emisol yang dibahas kemarin, yaitu proses mengamati dan membantu memberi solusi. Hanya saja ini adalah versi dokumentasinya, jadi menulis hasil pengamatan serta menyalinnya di lembar profil anak yang sudah dibuat sebelumnya.

Sepertinya susah dilakukan ya? Apabila kita sudah menulis dan mendokumentasikan aktivitas anak ke dalam portofolio anak, maka profiling ini sebenarnya hanya “menyimpulkan” beberapa pola yang ditemukan dalam kumpulan portofolio tersebut dan menuliskan kembali ke dalam sebuah lembar assessment baru. Hal ini juga berkaitan erat dengan sejauh mana kedekatan anda dengan anak – anak, semakin erat hubungan anak dengan anda, semakin mudah profiling ini dilakukan :-).

Semakin lekat orangtua dan anak, proses profiling akan terasa semakin mudah karena hanya “memindahkan” hasil pengamatan mata, telinga, hati dan perasaan ke dalam lembaran kertas.

Ada beberapa tool yag bisa digunakan dalam usaha pendokumentasian/profiling ini; misal dengan anecdotal record, kolom isian, skema, bahkan dengan model mind mapping. Jadi, seribu jalan ke Mekkah berlaku di sini, tinggal pilih saja. Nanti akan saya sertakan contoh mind mapping untuk profiling ini agar bisa didownload beserta contohnya.

Profiling anak

Profiling kami terdiri dari 6 tema (bahasa, kemandirian, emosi, keimanan, minat, sosialisasi).

Setiap tema dibagi lagi menjadi 2 bagian: kiri (saat ini) dan kanan (penguatan aktivitas).

Sebelah kiri adalah hasil (kondisi anak) pada saat profiling. Sedangkan sebelah kanan adalah kesimpulan atau aktivitas yang direncanakan untuk mendukung hasil sebelah kiri.

Jadi, sudahkah anda tahu milestone anak anda di mana? 🙂