Design Thinking untuk anak

Makanan apa itu Design Thinking (DT)?

Tidak usah bingung, secara sederhana bisa diartikan bahwa Design Thinking (DT) adalah suatu metode memecahkan masalah yang sering digunakan dalam bisnis maupun yang lain. Titik beratnya adalah menggali informasi sedalam mungkin untuk bisa memberikan solusi terbaik dalam suatu masalah.

Prosesnya bagaimana? Bicara mengenai design thinking process, banyak metode DT yang digunakan di dunia (silahkan browsing dengan keywords: Design thinking models). Di sini saya hanya akan menjelaskan mengenai DT Emisol.

1. Tentang Emisol

Saya mengenal Emisol dari Pak Achmad Ferzal, biasa dipanggil Bang Ical. Seorang aktivis berlingkung dan kearifan lokal yang lebih suka menyebut Design Thinking ini dengan RuaNgakal, karena lebih mendekati kearifan lokal masyarakat Indonesia.

Bang Ical mempunyai slogan yang asyik: Mau-Mampu-Maju. Saya sendiri kemudian menambahkan slogan ini menjadi: Bila orangtua  MAU, pasti MAMPU untuk MAJU bersama buah hati tercinta, dalam rangka menyemangati para orang tua membersamai anak-anaknya menemukan potensi terbaiknya melalui Emisol ini.

2. Kegunaan Emisol

Jadi, Emisol ini apa? Fungsinya dalam pendidikan rumah (HE) untuk apa?

Baik, dalam khasanah dunia HE, emisol digunakan sebagai tool untuk mengamati tumbuh kembang anak beserta potensi-potensinya sehingga orangtua yang berperan sebagai fasilitator bisa memfasilitasi (baca: mengarahkan) potensi-potensi tersebut menjadi bakat yang akhirnya akan dipakai si anak berperan dalam kehidupannya. Dengan Emisol, maka bisa dirancang kegiatan yang bisa menjadi kurikulum anak yang unik. Unik di sini maksudnya adalah kurikulumnya berbeda setiap anak, dan bisa dipakai baik anak tersebut sekolah maupun tidak, karena berbasis potensi/kekuatan anak.

3. Menjalankan Emisol

Berikut adalah cara/langkah yang biasa dilakukan dalam Design Thinking menggunakan metode Emisol:

  1. Empati, adalah proses mengamati; bisa dengan pertanyaan/interview atau melihat langsung. Dalam HE, peran orangtua dalam membersamai anak sangat amat penting sekali sebagai fasilitator, oleh karena itu empati ini adalah nilai/bonus membersamai tersebut. Ketika engagement orangtua-anak sudah kuat, maka orangtua akan tahu karakteristik anaknya sendiri; baik kekuatan, kelemahan, hobi, sifat dan lainnya.Mengamati pun harus dengan hati, turunkan ego dan ambisi pribadi agar hasilnya benar. Hasil pengamatan dicatat dalam lembaran lain sebagai portofolio (akan ditulis di bagian kurikulum HE). Portofolio ini sebagai dasar merancang dan mengamati kegiatan anak selanjutnya.
  2. Imajinasi, adalah proses memikirkan/mengolah hasil empati menjadi kemungkinan – kemungkinan yang bisa dijalankan untuk mendukung potensi anak; bisa cara/konsep yang baru, alat atau bahkan metode, yang pada intinya adalah dalam rangka memastikan, menajamkan dan mengasah keterampilan anak.
  3. Solusi, ketika proses imajinasi selesai dilakukan, maka tugas kita selanjutnya sebagai fasilitator ada 2, pertama merancang kegiatan/aktivitas yang berhubungan dengan mengasah keterampilan tadi, dan hasilnya dicatat, baik dalam portofolio atau yg lain untuk di-empati kan kembali, keterampilannya meningkat atau tidak? Kedua, apabila anak sudah bisa diajak diskusi, maka bisa  menyampaikan/berdiskusi dengan anak tentang kemungkinan – kemungkinan tersebut.Kita serahkan keputusan di tangan anak, mau memakai atau tidak. Ajukan beberapa solusi. Bila ternyata solusi – solusi yang kita tawarkan ditolak, mungkin ada yang terlewat dari proses empati kita. Jadi lakukan empati sekali lagi, cari yang terlewat tersebut dan berikan solusi terbaik bagi putra putri kita.

Kegiatan ini akn terus berputar/melingkar dan mekar, mekar di sini maksudnya adalah ketika ketrampilan diasah, maka akan mekar, dan bila ditambahkan aktivitas lain yang bisa membuatnya bertambah keterampilan, inovasi, dan yang lain maka akan semakin mekar lagi. Demikian seterusnya.

Proses Design Thinking ketika solusi terbaik belum ditemukan, maka proses akan berlanjut memutar (melingkar) kembali dari awal (Empati) dan mekar.

Nah, selamat ber-emisol yaa….

 

Antara nobar dan bermain

Sabtu, 27 Agustus 2016 memenuhi undangan salah satu teman untuk melaksanakan NoBar film The Beginning of Life di LPIA dan GAMA UI Pondok Kopi, Jakarta Timur. Tidak seperti biasanya, kali ini kedatangan kami tidak Full Team, hanya saya dan ketiga pasukan yang selalu ceria dan seru plus ribut. Ya, istri saya masih masa recovery setelah sempat 7 hari dari 2 minggu sakitnya tidak bisa bangun dari tempat tidur. Beliau yang meminta saya untuk tetap melaksanakan NoBar.

Bapak’s time judulnya, tertawa bareng,bermain bareng, dan menjawab berbagai pertanyaan spontan yang kadang membikin diam untuk selanjutnya menjawab dengan kalimat pamungkas;”Bapak belum tahu, nanti sampe rumah kita cari tahu ya bareng bareng”. Hehehe

Sudah membawa bekal mainan, Alhamdulillaah di sana justru Bermain Bersama Alam (BBA), belajar menanam pohon tanpa ada yang membimbing. Ujug ujug (baca: tiba-tiba,_red) laporan kalo sudah berhasil menanam pohon kecil bersama satu temannya. EKPLORASI!

Eksplorasi

Nah, kembali ke NoBar, Alhamdulillaah NoBar #2 kali ini ada beberapa kejutan:

  1. Seorang manajer tak bergeming selama pemutaran film, dan di sesi akhir mengatakan bahwa filmnya “menampar” dia dan istrinya yang ternyata masih memilih “quality time” daripada “quantity time”
  2. Seorang guru menangis sepanjang pemutaran film
  3. Guru lain tersadar pola asuhnya selama ini
  4. Bujanghidin ada 3, sepakat ingin menjadi orang tua masa depan, orang tua yang memahami akan anak anaknya
Beginning of life

    Yang Pasti,

    1. Anak bukanlah kertas kosong yang harus kita tulisi
    2. Anak bukanlah gelas yang harus selalu kita isi
    3. Kenalkan anak akan sesuatu agar mereka mencintai dan akhirnya mempelajari, bukan “memaksa” mereka untuk belajar apa yang kita mau

    Jadi, perubahan terkadang harus melalui proses, tidak bisa seperti makan mie instant.

    #NoBar

    #TheBeginningOfLife

    #FasilitatorHS

    #HomeEducation

    #AyahNgangenin

    #BermainBersamaBapak(B3)

    #SaatnyaBerbagiDanBukanMeminta

    Community Based Education (CBE)

    Apakah Community Based Education?Dalam khasanah bahasa Indonesia, CBE diartikan sebagai Pembelajaran Berbasis Masyarakat (PBM). Community diartikan sebagai masyarakat, bukan komunitas. Tapi, karena saya orang yang aktif di komunitas maka yang saya pakai di sini adalah community sebagai komunitas.

    Ibu Septi Peni Wulandani dari Padepokan Margosari, Salatiga mendefinisikan CBE sebagai berikut

    Community Based Education (CBE) adalah sebuah proses pendidikan untuk mengembalikan fitrah anak. Fitrah di sini berarti menemani anak menemukan fitrah bakatnya tanpa menjejali dengan berbagai macam ilmu yang tidak diperlukan. CBE bisa  juga dianalogikan sebagai makanan organik bagi tubuh.

    Secara konseptual, pendidikan berbasis komunitas adalah model penyelenggaraan pendidikan yg bertumpu pada:


    “DARI komunitas,UNTUK komunitas,dan OLEH komunitas”

    Dari definisi di atas, maka berikut adalah penjelasannya.

    Pendidikan “DARI” komunitas artinya pendidikan memberikan jawaban atas kebutuhan komunitas.

    Pendidikan “UNTUK” komunitas artinya komunitas diikutsertakan dalam semua program yg dirancang untuk menjawab kebutuhan mereka sendiri.

    Pendidikan “OLEH” komunitas artinya komunitas ditempatkan sebagai subyek/pelaku pendidikan, bukan sebagai obyek pendidikan.

    Satu hal yang harus disadari bersama adalah bahwa sebuah komunitas, apalagi yang sudah mengarah ke CBE, member perlu diberdayakan, diberi peluang, dan kebebasan untuk mendesain, merencanakan, membiayai, mengelola dan menilai sendiri apa yg diperlukan secara spesifik di dalam, UNTUK dan OLEH komunitas itu sendiri.

    Berikut adalah prinsip – prinsip yang biasanya ada dalam sebuah CBE :

    1. Menentukan sendiri :

    • Kegiatan yang dilakukan komunitas
    • Kurikulum pendidikan
    • Tempat kumpul komunitas
    • Lain lain yang berhubungan dengan roadmap CBE itu sendiri
    • Dan lainnya

    2. Menolong diri sendiri :

    • Tempat
    • Biaya
    • Akomodasi
    • Mentor/Fasilitator
    • Dan lainnya

    3. Menerima perbedaan

    • Perbedaan karakter anak
    • Perbedaan karakter keluarga
    • Dan perbedaan lainnya

    4. CBE sekaligus juga sebagai tempat pengembangan kepemimpinan.

    Bagaimana memulai sebuah CBE?

    Memulai sebuah Community Based Education berarti seperti memulai membentuk sebuah keluarga baru, tidak semudah teori di atas. 

    Saya pribadi masih harus berdarah darah dalam membangun sinergitas di komunitas dalam kaitannya membangun sebuah CBE.

    Berikut adalah yang saya lakukan dalam komunitas mengenai CBE :

    Samakan persepsi:

    • Yakin bahwa HE adalah kewajiban, sekolah adalah pilihan.
    • Yakin bahwa sejatinya yg diperlukan adalah pendidikan Inside Out, bukan Outside In.
    • Yakin bahwa setiap anak adalah unik, diperlukan tambahan (bagi yg sekolah) kurikulum yg fleksibel.
    • Yakin bahwa tugas kita (orang tua) adalah menemani anak membangkitkan potensi fitrahnya.
    • Sadar bahwa terlalu berat bila menjalankan seorang diri.
    • Yakin bahwa diperlukan jejaring/komunitas yang satu visi

    Persepsi di atas bisa dibangun ketika  di sebuah komunitas, membermember yang ada di dalamnya berpartisipasi aktif dan berinteraksi sehingga mindset antar member nya menjadi sama. 

    CBE bisa terwujud ketika sebuah komunitas mempunyai visi dan misi yang sama tentang pola asuh, pendidikan anak, serta pendidikan keayahbundaan (parenthood), sehingga pola pengasuhan anak “A” sama dengan pola pengasuhan anak “B”, walaupun dari 2 keluarga yang berbeda. Hal ini akan berdampak ketika berkumpul bersama, anak – anak tidak akan merasa dibedakan ketika berinteraksi dengan keluarga lain. 

    Bagaimana caranya? Bisa dimulai dengan berdiskusi baik online (melalui grup) maupun offline, bermain bersama, dan juga berkumpul bersama.

    Terakhir, berikut saya ambilkan petikan kalimat penyemangat dari Pak Dodik: 

    “CBE (Community Based Education) itu semangatnya memberi, berbagi, BUKAN mengambil, apalagi menuntut”
    – Dodik Mariyanto –

    Nah, bagaimana dengan komunitas anda?

    Metode HS apa yang terbaik?

    Pertanyaan ini terkadang muncul di sela – sela obrolan atau diskusi tentang HS. Dan saya pun selalu menjawab dengan kalimat yang sama: Tidak ada metode HS terbaik, yang ada hanya metode HS paling sesuai dengan keluarga. 

    Mengapa bisa bisa begitu? 

    Ustadz Budi Azhari pernah menyampaikan kurang lebih seperti ini : Sebuah cincin terlihat bagus dan pantas dipakai di jari manis seseorang. Namun ketika kita coba memakainya, belum tentu terlihat bagus dan pantas, itulah  tips. 

    Begitu juga dengan metode HS ini, ada bermacam metode yang dipakai oleh para praktisi HS, setidaknya yang saya ketahui ada 4 Metode: terstruktur, tidak terstruktur, adaptasi, dan customized.

    Apa dan bagaimana metode – metode tersebut digunakan? Mari kita bahas satu per satu.

    1. Metode terstruktur, adalah metode yang bisa dibilang “school at home”, atau kalau saya bilangnya memindahkan sekolah ke rumah. Hal ini karena metode ini merujuk pada kurikulum sekolah yang ada, namun diaplikasikan di rumah, jadi hanya seperti memindahkan tempat belajar dari sekolah ke rumah saja, acuan yang dipakai adalah pelajaran sekolah, dengan semua tingkatan kelas dan pelajarannya.
    2. Metode tidak terstruktur, atau lebih dikenal dengan unschooling, menitikberatkan pada potensi/bakat anak itu sendiri. Gaya belajarnya bebas, karena pada prinsipnya semua aktivitas yang dilakukan adalah belajar. Seperti yang disampaikan pencetus unschooling sendiri, John Holt. Beliau mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara hidup dan belajar. Orangtua memahami bahwa setiap anak adalah unik dan mempunyai bakat sendiri – sendiri, tinggal dicari saja bakatnya, setelah ketemu maka orangtua akan memfasilitasi bakat tersebut menjadi sesuatu yang berguna bagi hidupnya. Tidak ada buku tertentu sebagai acuan, pedomannya hanya “membaca” potensi/bakat anak – anaknya.
    3. Metode Adaptasi, mengapa saya bilang metode adaptasi? Bukan lain karena memang metode ini mengadopsi dari praktisi pendidikan rumah yang sudah terlebih dulu menjalankan. Bisa diambil dari metode luar negeri, dalam negeri, atau agama. Metode ini banyak macamnya; seperti Montessori, Charlotte Mason (CM), kurikulum berbasis aqidah, dan sebagainya (untuk mengetahui apa dan bagaimana metode – metode tersebut, silahkan browsing dengan keyword seperti di atas)
    4. Metode Customized/Personalized, sebuah metode yang digunakan sesuai dengan kebutuhan yang membuatnya. Ciri dari metode ini adalah tidak adanya kesamaan antar yang satu dengan yang lain, atau dengan kata lain, setiap keluarga akan mempunyai metode yang berbeda. Lalu apakah sama dengan unschooling? Unschooling itu gaya belajar yang bebas, sedangkan customized sudah ditentukan di awal, apa sasaran yang dituju, caranya bagaimana, dan apa yang harus dilakukan. Semua sudah direncanakan. Memang ada benang merah antara unschooling dan customized method ini, sama sama menekankan pada potensi, namun di customized curriculum, keluarga bisa “membuat” sendiri education roadmap yang akan dijalani.

    Nah, setelah mengetahui metode – metode di atas, metode mana yang akan dipakai sebagai acuan? Silahkan rundingkan dengan keluarga anda masing – masing 🙂

    Ketika Bapak Pulang

    Ada beberapa kebiasanan yang saya dan anak – anak lakukan ketika pulang kerja, salah satunya adalah curhat bebas di depan rumah. (ini terjadi kalo anak anak tahu bahwa bapak sudah di depan rumah dan mereka punya masalah untuk diceritakan).


    (Waktu kejadian: kemarin malam)

    Bayangkan, kira kira apa yang akan anda lakukan sebagai seorang Ayah ketika baru buka pager rumah, sudah diserbu anak – anak (anak saya 3 lelaki semua lho). 

    Yang gede (Mas Ozan, 7.8y) langsung curhat tadi siang ribut sama adeknya yang tengah (Mas Izzam, 6.4y). Belum selesai cerita yang sulung, Mas Izzam juga juga curhat hal yg sama (ceritanya membela diri gitu). Ini belum beres tiba tiba yang paling bungsu (Zaidan, 3.2y) minta digendong kemudian cerita juga bahwa kakinya sudah sembuh (tempo hari memang sempet jatuh). Hehehe.

    Apakah anda akan marah? Atau seneng?

    Kalo saya pasti seneng dong, berasa jadi paling penting gituh.

    Children Engagement, istilah ini yang biasanya dipakai untuk menggambarkan kedekatan kepada anak. Hal ini tentu saja tidak dapat terjadi begitu saja, perlu proses, dan saya pun masih terus berproses. Di sini saya tidak mengajari lho, hanya menceritakan pengalaman saya saja.

    Karena tema kali ini adalah curhat, maka saya pun hanya akan menceritakan pengalaman saya dengan anak tentang curhat. 

    • Saya biasa menceritakan hal hal atau kejadian yang saya lihat di jalan kepada anak anak, Misalnya; “Tau nggak mas, tadi di jalan macet karena ada kebakaran”.
    • Saya juga biasa menyampaikan alasan kenapa pulang telat, misalnya ;“Maaf yaa, Bapak pulang telat, tadi mampir dulu ke rumah Om ….). 
    • Bila malam – malam, sebelum tidur saya juga rajin nanya ke anak anak tentang kegiatan mereka sehari tadi, apakah sholat di mushola, main apa dan dengan siapa.

    Nah,dari cerita cerita yang terlihat sepele ini ternyata menimbulkan interaksi yang akhirnya membuat mereka pun akhirnya terbiasa menceritakan masalah mereka kepada bapaknya, bahkan ketika saya lagi makan malam pun anak – anak berseliweran cari perhatian.

    Indahnyaa…

    Nah, kalo anda sendiri, bagaimana? 

    #FasilitatorHS

    #ChildrenEngagement

    #AyahNgangenin

    #HomeEducation

    Pendidikan itu…

    Pendidikan bukan hanya merupakan proses belajar mengajar yang dibatasi oleh empat dinding. Tetapi merupakan proses dimana manusia secara sadar menangkap,menyerap dan menghayati peristiwa – peristiwa alam sepanjang zaman.

    “Barangsiapa tidak terdidik oleh orangtuanya, maka akan terdidik oleh zaman”

    –Ibu Khaldun–
    Dikutip dari buku Mukadimah

    Nah, melihat kutipan kitab Mukadimah di atas, sudah seharusnya kita sebagai manusia yang diamanahi anak oleh Alloh SWT, mensyukurinya dengan mendidik anak – anak kita di rumah sesuai fitrah mereka, sesuai sifat bawaan yang sudah ditetapkan oleh – Nya. Dengan begitu, ketika mereka keluar rumah, sudah berbekal imunitas yang akan menjaga mereka dari godaan zaman yang sudah banyak melenceng dari sebelumnya.

    Dari rumah, anak – anak dipersiapkan menjadi pribadi – pribadi berkarakter kuat, pribadi yang mandiri, juga pribadi yang penuh dengan rasa iman di dada. Dan semua itu berawal dari orangtua yang senantiasa mendidik anak – anak mereka. 

    Lalu, kenapa masih bingung? 

    #BermainBersamaBapak

    #AyahNgangenin

    #FasilitatorHS

    #HomeEducation

    Bermain Bersama Bapak

    Sebagai seorang bapak, apakah anda tahu bagaimana menyenangkan anak anda?

    Apakah dengan mainan? (Mungkin)
    Atau dengan uang jajan? (Bisa jadi)

    Tapi dari yang 2 di atas ada yang lebih gampang untuk dilakukan. Tanpa modal apalagi mengeluarkan biaya.

    Yup, dengan badan anda. Semua juga sudah tahu kalo ini mah, dan saya pun juga hanya menulis saja koq hehehe.

    Badan seorang bapak itu aneh lho, bisa jadi macam macam, mau tahu?

    *Bisa jadi kuda
    *Bisa jadi gorila
    *Bisa jadi macan
    *Bisa jadi kapal
    *Bisa jadi pohon
    *Bisa jadi ayunan
    *Bisa jadi yang lain (kata cak Lontong,”Mikir!”)

    Kalo itu sih tahu lah hehe.
    Memang “hanya” seperti itu untuk menyenangkan anak. Tapi yang harus dipastikan adalah lakukan semua itu dengan senyum yang tulus, dengan muka yang ceria tanpa dibuat buat.

    Ikatan/bonding/attachment antara orangtua dan anak (dalam hal ini Bapak-Anak) seharusnya terus dilakukan agar anda menjadi seorang bapak yang “Ngangenin” bagi anak anaknya.

    Pulang telat anak nanyain dan minta telpon, atau berangkat keluar rumah belum pamitan anak nyariin.

    Mau?

    #AyahNgangenin

    #TipsParenting

    #FasilitatorHS

    Anak butuh kuantitas waktu, bukan kualitas

    “Yang penting kualitas waktu bersama anak, bukan kuantitas”

    Waah, kalo pertanyaan ini dibalik menjadi seperti di bawah ini bagaimana ya?

    “Bos, bolehkah saya bekerja 2 jam sehari di kantor tapi berkualitas?”

    Nah, kira kira apa jawaban atasan kita? Diijinkan tidak?

    Anak pun demikian, mereka butuh “kehadiran” kita sesering dan sebanyak mungkin. Bukan hanya sekedar untuk “mampir” dan “menyapa”.

    Anak tidak akan peduli bila kita (orangtuanya) adalah orang yang sangat penting, atau orang yang sangat sibuk. Anak – anak hanya peduli apakah ayah/ibu mereka berada di samping mereka, bermain bersama mereka. 

    Ketika seorang anak banyak berinteraksi dengan orangtuanya, kedekatan (engagement) itu yang akan membuat mereka kuat. Semakin sering berinteraksi dan berkomunikasi, maka akan semakin dalam serta erat ikatan tersebut yang kemudian menguatkan pribadi menjadi anak tangguh berkarakter

    Sepakat?
    #FasilitatorHS

    #HomeEducation

    #TheBeginningOfLifeMovie

    HE, kenapa bukan HS?

    Sering saya ditanya,bedanya HE (Home Education) dan HS (Home Schooling) apa?

    Ada yang berpendapat bahwa Homeschooling (HS) dan Home Education (HE) sama, hanya beda di penggunaan kata.

    Ada juga yang berpendapat bahwa Homeschooling (HS) dan Home Education (HE) adalah 2 pengertian yang berbeda.

    Saya pribadi memilih pendapat yang kedua, bahwa Home Education dan Homeschooling itu berbeda, walaupun keduanya memiliki benang merah yang saling terkait. 

    Kemudian, letak perbedaannya di bagian mana?

    Home Education (HE) adalah peran kesejatian setiap orang tua dalam mendidik anak-anaknya di rumah, terlepas anak – anaknya tersebut sekolah maupun tidak. Pendidikan ini dilakukan bahkan sejak seseorang memilih pasangan hidup, kemudian saat (ibu) mengandung, sampai kemudian merawat anak – anaknya dari bayi sampai menjadi seorang mukallaf.

    Di mana benang merahnya? Hubungan antara HE dan HS sinergi ketika anak mencapai usia sekolah, ketika anak tidak mengikuti (masuk) pendidikan terstruktur (sekolah), maka dinamakan Homeschooling

    Dalam HE, sekolah adalah pilihan, karena pada prinsipnya, HE adalah Iqro’ dan tholabul ‘ilmi, “belajar”, bukan sekolah. Belajar bisa dilakukan di mana saja, kapan saja dan oleh siapa saja. Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa HS adalah bagian dari HE

    Pertanyaan terakhir, kenapa sebutnya fasilitator HS? Haha, sudah tahu kan jawabannya? 🙂

    #FasilitatorHS

    #AyahNgangenin

    #BelajarBersamaBapak

    #HomeEducation