Antara nobar dan bermain

Sabtu, 27 Agustus 2016 memenuhi undangan salah satu teman untuk melaksanakan NoBar film The Beginning of Life di LPIA dan GAMA UI Pondok Kopi, Jakarta Timur. Tidak seperti biasanya, kali ini kedatangan kami tidak Full Team, hanya saya dan ketiga pasukan yang selalu ceria dan seru plus ribut. Ya, istri saya masih masa recovery setelah sempat 7 hari dari 2 minggu sakitnya tidak bisa bangun dari tempat tidur. Beliau yang meminta saya untuk tetap melaksanakan NoBar.

Bapak’s time judulnya, tertawa bareng,bermain bareng, dan menjawab berbagai pertanyaan spontan yang kadang membikin diam untuk selanjutnya menjawab dengan kalimat pamungkas;”Bapak belum tahu, nanti sampe rumah kita cari tahu ya bareng bareng”. Hehehe

Sudah membawa bekal mainan, Alhamdulillaah di sana justru Bermain Bersama Alam (BBA), belajar menanam pohon tanpa ada yang membimbing. Ujug ujug (baca: tiba-tiba,_red) laporan kalo sudah berhasil menanam pohon kecil bersama satu temannya. EKPLORASI!

Eksplorasi

Nah, kembali ke NoBar, Alhamdulillaah NoBar #2 kali ini ada beberapa kejutan:

  1. Seorang manajer tak bergeming selama pemutaran film, dan di sesi akhir mengatakan bahwa filmnya “menampar” dia dan istrinya yang ternyata masih memilih “quality time” daripada “quantity time”
  2. Seorang guru menangis sepanjang pemutaran film
  3. Guru lain tersadar pola asuhnya selama ini
  4. Bujanghidin ada 3, sepakat ingin menjadi orang tua masa depan, orang tua yang memahami akan anak anaknya
Beginning of life

    Yang Pasti,

    1. Anak bukanlah kertas kosong yang harus kita tulisi
    2. Anak bukanlah gelas yang harus selalu kita isi
    3. Kenalkan anak akan sesuatu agar mereka mencintai dan akhirnya mempelajari, bukan “memaksa” mereka untuk belajar apa yang kita mau

    Jadi, perubahan terkadang harus melalui proses, tidak bisa seperti makan mie instant.

    #NoBar

    #TheBeginningOfLife

    #FasilitatorHS

    #HomeEducation

    #AyahNgangenin

    #BermainBersamaBapak(B3)

    #SaatnyaBerbagiDanBukanMeminta

    Advertisements

    Ketika Bapak Pulang

    Ada beberapa kebiasanan yang saya dan anak – anak lakukan ketika pulang kerja, salah satunya adalah curhat bebas di depan rumah. (ini terjadi kalo anak anak tahu bahwa bapak sudah di depan rumah dan mereka punya masalah untuk diceritakan).


    (Waktu kejadian: kemarin malam)

    Bayangkan, kira kira apa yang akan anda lakukan sebagai seorang Ayah ketika baru buka pager rumah, sudah diserbu anak – anak (anak saya 3 lelaki semua lho). 

    Yang gede (Mas Ozan, 7.8y) langsung curhat tadi siang ribut sama adeknya yang tengah (Mas Izzam, 6.4y). Belum selesai cerita yang sulung, Mas Izzam juga juga curhat hal yg sama (ceritanya membela diri gitu). Ini belum beres tiba tiba yang paling bungsu (Zaidan, 3.2y) minta digendong kemudian cerita juga bahwa kakinya sudah sembuh (tempo hari memang sempet jatuh). Hehehe.

    Apakah anda akan marah? Atau seneng?

    Kalo saya pasti seneng dong, berasa jadi paling penting gituh.

    Children Engagement, istilah ini yang biasanya dipakai untuk menggambarkan kedekatan kepada anak. Hal ini tentu saja tidak dapat terjadi begitu saja, perlu proses, dan saya pun masih terus berproses. Di sini saya tidak mengajari lho, hanya menceritakan pengalaman saya saja.

    Karena tema kali ini adalah curhat, maka saya pun hanya akan menceritakan pengalaman saya dengan anak tentang curhat. 

    • Saya biasa menceritakan hal hal atau kejadian yang saya lihat di jalan kepada anak anak, Misalnya; “Tau nggak mas, tadi di jalan macet karena ada kebakaran”.
    • Saya juga biasa menyampaikan alasan kenapa pulang telat, misalnya ;“Maaf yaa, Bapak pulang telat, tadi mampir dulu ke rumah Om ….). 
    • Bila malam – malam, sebelum tidur saya juga rajin nanya ke anak anak tentang kegiatan mereka sehari tadi, apakah sholat di mushola, main apa dan dengan siapa.

    Nah,dari cerita cerita yang terlihat sepele ini ternyata menimbulkan interaksi yang akhirnya membuat mereka pun akhirnya terbiasa menceritakan masalah mereka kepada bapaknya, bahkan ketika saya lagi makan malam pun anak – anak berseliweran cari perhatian.

    Indahnyaa…

    Nah, kalo anda sendiri, bagaimana? 

    #FasilitatorHS

    #ChildrenEngagement

    #AyahNgangenin

    #HomeEducation

    Bermain Bersama Bapak

    Sebagai seorang bapak, apakah anda tahu bagaimana menyenangkan anak anda?

    Apakah dengan mainan? (Mungkin)
    Atau dengan uang jajan? (Bisa jadi)

    Tapi dari yang 2 di atas ada yang lebih gampang untuk dilakukan. Tanpa modal apalagi mengeluarkan biaya.

    Yup, dengan badan anda. Semua juga sudah tahu kalo ini mah, dan saya pun juga hanya menulis saja koq hehehe.

    Badan seorang bapak itu aneh lho, bisa jadi macam macam, mau tahu?

    *Bisa jadi kuda
    *Bisa jadi gorila
    *Bisa jadi macan
    *Bisa jadi kapal
    *Bisa jadi pohon
    *Bisa jadi ayunan
    *Bisa jadi yang lain (kata cak Lontong,”Mikir!”)

    Kalo itu sih tahu lah hehe.
    Memang “hanya” seperti itu untuk menyenangkan anak. Tapi yang harus dipastikan adalah lakukan semua itu dengan senyum yang tulus, dengan muka yang ceria tanpa dibuat buat.

    Ikatan/bonding/attachment antara orangtua dan anak (dalam hal ini Bapak-Anak) seharusnya terus dilakukan agar anda menjadi seorang bapak yang “Ngangenin” bagi anak anaknya.

    Pulang telat anak nanyain dan minta telpon, atau berangkat keluar rumah belum pamitan anak nyariin.

    Mau?

    #AyahNgangenin

    #TipsParenting

    #FasilitatorHS

    Anak butuh kuantitas waktu, bukan kualitas

    “Yang penting kualitas waktu bersama anak, bukan kuantitas”

    Waah, kalo pertanyaan ini dibalik menjadi seperti di bawah ini bagaimana ya?

    “Bos, bolehkah saya bekerja 2 jam sehari di kantor tapi berkualitas?”

    Nah, kira kira apa jawaban atasan kita? Diijinkan tidak?

    Anak pun demikian, mereka butuh “kehadiran” kita sesering dan sebanyak mungkin. Bukan hanya sekedar untuk “mampir” dan “menyapa”.

    Anak tidak akan peduli bila kita (orangtuanya) adalah orang yang sangat penting, atau orang yang sangat sibuk. Anak – anak hanya peduli apakah ayah/ibu mereka berada di samping mereka, bermain bersama mereka. 

    Ketika seorang anak banyak berinteraksi dengan orangtuanya, kedekatan (engagement) itu yang akan membuat mereka kuat. Semakin sering berinteraksi dan berkomunikasi, maka akan semakin dalam serta erat ikatan tersebut yang kemudian menguatkan pribadi menjadi anak tangguh berkarakter

    Sepakat?
    #FasilitatorHS

    #HomeEducation

    #TheBeginningOfLifeMovie