Belajar Pemaknaan, Teman Tumbuh Teman Belajar

Selama ini kita keseringan berkecimpung dengan istilah parenting, fatherhood dan lain lain, yang esensinya adalah peran orangtua dalam mengasuh dan atau mendidik anak.

Tapi kita sepertinya lupa memaknai semua hal di atas sebagai sebuah “pendampingan”.

Karena, bila kita maknai mendidik sebagai mendampingi, itu sudah cukup mengCover semua hal di atas, bahkan bisa lebih dari itu, memaknai misi hidup atau penciptaan diri .

Karena dalam pendampingan, kita bisa berperan sebagai Orangtua, teman bermain, mentor, guru, fasilitator, bahkan sebagai murid dari yang kita dampingi. Tinggal mengambil pemaknaan dari sisi sebelah mana dan sebagai apa🕵😎 agar bisa terus menjaga keunikan anak sesuai maksud dan tujuan penciptaan. Itulah peran kita, sebagai teman tumbuh dan teman belajar anak.

Banyaknya informasi berakibat banjir informasi bahkan bisa menjadi tsunami informasi yang akhirnya malah merusak jalan keren yang seharusnya bisa dibangun sendiri oleh sebuah keluarga. Tentu saja jalan atau cara pendidikan rumah yang berbeda dari rumah dan keluarga lain🛣

Banyaknya teori justru membuat orangtua gagap dengan value keluarga yang seharusnya bisa dengan mudah dirasakan dengan pemaknaan ( Iqro’) perjalanan selama membersamai anak.

Turunkan ekspektasi kita terhadap anak agar tetap RILEKS dan bersyukur, serta mulailah maknai segalanya sebagai sesuatu yang baik, hanya saja belum cukup agar kita tetap OPTIMIS serta yakin dengan peran yang dibawa oleh anak-anak kita.

Apakah diperlukan indikator “angka” sebagai rujukan perkembangan? Boleh saja, tapi itu belumlah cukup, karena indikator terbaik sebaiknya ditempatkan pada tempat yang semestinya, yaitu dikembalikan kepada keunikan anak masing-masing, dan tentu saja, melalui sudut pandang si anak, bukan orangtua, agar semuanya berproses sesuai tahapannya masing-masing. Serta yang terakhir, jangan lupa memastikan agar semuanya selaras, sesuai dan sinergi dengan Qur’an dan Sunnah.

Saat BERANI duduk bersama, BERANI menjadi tokoh bersama dan BERANi berbagi keresahan bersama, maka pada dasarnya kita sudah BERANI bermimpi, menciptakan teori baru pendampingan anak yang didasarkan pada RASA kita saat tumbuh dan belajar bersama, bukan berdasarkan catatan teori yang belum tentu sesuai dan pas untuk diterapkan dengan kondisi kita di rumah.

Jangan langsung ambil tips dan trik sebagai jalan yg harus ditempuh. Tapi tempatkan hanya sebagai informasi, sebagai katalisator untuk untuk memperkaya tips dan trik yang kita RASAkan di jalan sendiri.

BERANI berkumpul bersama, BERANI menertawakan diri sendiri, dan akhirnya BERANI memulai dan bergerak. Satukan Value, Visi dan Misi bersama, lalu rapatkan barisan, jadikan sebuah gerakan peradaban, dengan berjama’ah, berkomunitas.

Semua berawal dari BERANI (MAU) dulu, agar bisa MAMPU dan akhirnya MAJU melalui jalannya masing-masing menuju peran peradaban sesuai maksud penciptaan.

Apakah anda termasuk orangtua BERANI selanjutnya?

Bogor, 23 September 2017,

Catatan pemaknaan Seri Pendidik Rumahan (SPR) episode perdana, Chapter Bogor bersama praktisi pendidikan berlingkung Achamad Ferzal (Bang Ical), Musta’ein, Susana ( Tiga dari Empat penulis buku seri Guru Berani, Teman Tumbuh Teman Belajar)

Seri Pendidik Rumahan
Data-Fakta-Realita-Rasa

 

 

 

Advertisements