Pembelajar Mandiri

Dalam sebuah presentasinya, Profesor Sugata Mitra bercerita tentang penelitian yang dilakukan di pedalaman India, dinamakan Hole in the wall (lubang dalam dinding).

Penelitian pertama dilakukan di dekat kantor beliau yang bersinggungan langsung dengan daerah pinggiran dan bisa dibilang tidak mengenal teknologi semacam komputer. Kantor dan kawasan ini hanya dipisahkan oleh tembok. Profesor Sugata kemudian menggunakan sarana tembok ini sebagai media penelitian. Tembok dilubangi dan dipajang sebuah komputer dengan posisi monitor menempel serta menghadap ke kawasan tersebut, dan diberikan touchpad untuk menggerakkan pointer (inilah asal nama hole in the wall). Komputer tersebut diberikan akses internet, dan dibuka browser dengan mesin pencari sebagai halaman utama.sugata

Apa yang terjadi? Dalam waktu tidak sampai sehari, ternyata anak-anak sudah bisa menggunakan komputer tersebut, dalam arti berselancar dengan mesin pencari, bahkan sudah bisa saling mengajarkan cara menggunakan dan atau saling bercerita. Apakah ini kebetulan? Atau memang karena daerah itu bersebelahan dengan kantor maka bisa saja anak-anak tersebut bertanya ke staf kantornya? Bila memang begitu, kita lihat penelitian kedua.

Penelitian kedua menggunakan metode yang sama, hole in the wall, tapi kali ini ditempatkan lebih jauh lagi di pedalaman. Apa yang terjadi? Tidak ada perbedaan, dalam hitungan jam sudah ada anak yang bisa mengajarkan teman-temannya bagaimana cara menggunakan komputer tersebut. Penelitian ini berlanjut ke penelitian-penelitian selanjutnya, dimana hasilnya mempunyai kesamaan satu sama lain.

Ada yang menarik dari hasil penelitian yang dilakukan profesor ini, bahwa anak-anak akan bisa belajar sendiri tanpa guru saat mereka ada dalam sebuah kelompok, satu anak di depan monitor sebagai operator, yang lain di belakang sambil “sok tahu” memberi instruksi, apapun hasilnya, mereka ternyata belajar banyak, misalnya: bahasa asing (inggris),bahkan ada yang bisa membuat sebuah video,  juga bisa membuat rekaman audio setelah beberapa jam berinteraksi dengan benda asing ini.

hole-in-the-wall1

Bukti lain bahwa anak-anak ini belajar mandiri, saat profesor meninggalkan sebuah komputer disertai bermacam kepingan CD program dan game berbahasa Inggris di situ (karena di daerah tersebut kebetulan tidak ada internet). Setelah beberapa waktu kembali dan didapati anak-anak sudah mahir bermain, bahkan salah seorang mengatakan bahwa prosesor komputer tersebut perlu ditambah, dan mouse perlu diganti. Saat ditanya dari mana bisa tahu, mereka menunjukkan kumpulan CD yang beberapa waktu lalu ditinggalkan. Ada juga cerita saat anak-anak belajar bioteknologi tanpa guru (lain kali saya tulis ceritanya)

Jadi, jika masih banyak yang beranggapan bahwa anak-anak tidak belajar bila tidak duduk diam di kelas, segera ubah mindset anda. Anak adalah pembelajar mandiri, mereka bisa belajar sendiri bila diberi kesempatan, apalagi bila bersama teman-temannya. Yang harus orangtua lakukan adalah memberikan kepercayaan kepada mereka karena sebenarnya mampu. Karena pada dasarnya, anak-anak akan belajar dengan sendirinya saat mereka menemukan sesuatu dan penasaran terhadapnya, tidak perlu dijejalkan dengan berbagai pengetahuan yang sebenarnya tidak dibutuhkan dalam kehidupan mereka sehari hari.

Anak-anak bisa bebas belajar mengenai apapaun bila diberikan kesempatan. belajar sendiri secara berkelompok dalam sebuah komunitas. Yup, sekolah komunitas.

Advertisements