Community Based Education (CBE)

Apakah Community Based Education?Dalam khasanah bahasa Indonesia, CBE diartikan sebagai Pembelajaran Berbasis Masyarakat (PBM). Community diartikan sebagai masyarakat, bukan komunitas. Tapi, karena saya orang yang aktif di komunitas maka yang saya pakai di sini adalah community sebagai komunitas.

Ibu Septi Peni Wulandani dari Padepokan Margosari, Salatiga mendefinisikan CBE sebagai berikut

Community Based Education (CBE) adalah sebuah proses pendidikan untuk mengembalikan fitrah anak. Fitrah di sini berarti menemani anak menemukan fitrah bakatnya tanpa menjejali dengan berbagai macam ilmu yang tidak diperlukan. CBE bisa  juga dianalogikan sebagai makanan organik bagi tubuh.

Secara konseptual, pendidikan berbasis komunitas adalah model penyelenggaraan pendidikan yg bertumpu pada:


“DARI komunitas,UNTUK komunitas,dan OLEH komunitas”

Dari definisi di atas, maka berikut adalah penjelasannya.

Pendidikan “DARI” komunitas artinya pendidikan memberikan jawaban atas kebutuhan komunitas.

Pendidikan “UNTUK” komunitas artinya komunitas diikutsertakan dalam semua program yg dirancang untuk menjawab kebutuhan mereka sendiri.

Pendidikan “OLEH” komunitas artinya komunitas ditempatkan sebagai subyek/pelaku pendidikan, bukan sebagai obyek pendidikan.

Satu hal yang harus disadari bersama adalah bahwa sebuah komunitas, apalagi yang sudah mengarah ke CBE, member perlu diberdayakan, diberi peluang, dan kebebasan untuk mendesain, merencanakan, membiayai, mengelola dan menilai sendiri apa yg diperlukan secara spesifik di dalam, UNTUK dan OLEH komunitas itu sendiri.

Berikut adalah prinsip – prinsip yang biasanya ada dalam sebuah CBE :

1. Menentukan sendiri :

  • Kegiatan yang dilakukan komunitas
  • Kurikulum pendidikan
  • Tempat kumpul komunitas
  • Lain lain yang berhubungan dengan roadmap CBE itu sendiri
  • Dan lainnya

2. Menolong diri sendiri :

  • Tempat
  • Biaya
  • Akomodasi
  • Mentor/Fasilitator
  • Dan lainnya

3. Menerima perbedaan

  • Perbedaan karakter anak
  • Perbedaan karakter keluarga
  • Dan perbedaan lainnya

4. CBE sekaligus juga sebagai tempat pengembangan kepemimpinan.

Bagaimana memulai sebuah CBE?

Memulai sebuah Community Based Education berarti seperti memulai membentuk sebuah keluarga baru, tidak semudah teori di atas. 

Saya pribadi masih harus berdarah darah dalam membangun sinergitas di komunitas dalam kaitannya membangun sebuah CBE.

Berikut adalah yang saya lakukan dalam komunitas mengenai CBE :

Samakan persepsi:

  • Yakin bahwa HE adalah kewajiban, sekolah adalah pilihan.
  • Yakin bahwa sejatinya yg diperlukan adalah pendidikan Inside Out, bukan Outside In.
  • Yakin bahwa setiap anak adalah unik, diperlukan tambahan (bagi yg sekolah) kurikulum yg fleksibel.
  • Yakin bahwa tugas kita (orang tua) adalah menemani anak membangkitkan potensi fitrahnya.
  • Sadar bahwa terlalu berat bila menjalankan seorang diri.
  • Yakin bahwa diperlukan jejaring/komunitas yang satu visi

Persepsi di atas bisa dibangun ketika  di sebuah komunitas, membermember yang ada di dalamnya berpartisipasi aktif dan berinteraksi sehingga mindset antar member nya menjadi sama. 

CBE bisa terwujud ketika sebuah komunitas mempunyai visi dan misi yang sama tentang pola asuh, pendidikan anak, serta pendidikan keayahbundaan (parenthood), sehingga pola pengasuhan anak “A” sama dengan pola pengasuhan anak “B”, walaupun dari 2 keluarga yang berbeda. Hal ini akan berdampak ketika berkumpul bersama, anak – anak tidak akan merasa dibedakan ketika berinteraksi dengan keluarga lain. 

Bagaimana caranya? Bisa dimulai dengan berdiskusi baik online (melalui grup) maupun offline, bermain bersama, dan juga berkumpul bersama.

Terakhir, berikut saya ambilkan petikan kalimat penyemangat dari Pak Dodik: 

“CBE (Community Based Education) itu semangatnya memberi, berbagi, BUKAN mengambil, apalagi menuntut”
– Dodik Mariyanto –

Nah, bagaimana dengan komunitas anda?

Advertisements

Metode HS apa yang terbaik?

Pertanyaan ini terkadang muncul di sela – sela obrolan atau diskusi tentang HS. Dan saya pun selalu menjawab dengan kalimat yang sama: Tidak ada metode HS terbaik, yang ada hanya metode HS paling sesuai dengan keluarga. 

Mengapa bisa bisa begitu? 

Ustadz Budi Azhari pernah menyampaikan kurang lebih seperti ini : Sebuah cincin terlihat bagus dan pantas dipakai di jari manis seseorang. Namun ketika kita coba memakainya, belum tentu terlihat bagus dan pantas, itulah  tips. 

Begitu juga dengan metode HS ini, ada bermacam metode yang dipakai oleh para praktisi HS, setidaknya yang saya ketahui ada 4 Metode: terstruktur, tidak terstruktur, adaptasi, dan customized.

Apa dan bagaimana metode – metode tersebut digunakan? Mari kita bahas satu per satu.

  1. Metode terstruktur, adalah metode yang bisa dibilang “school at home”, atau kalau saya bilangnya memindahkan sekolah ke rumah. Hal ini karena metode ini merujuk pada kurikulum sekolah yang ada, namun diaplikasikan di rumah, jadi hanya seperti memindahkan tempat belajar dari sekolah ke rumah saja, acuan yang dipakai adalah pelajaran sekolah, dengan semua tingkatan kelas dan pelajarannya.
  2. Metode tidak terstruktur, atau lebih dikenal dengan unschooling, menitikberatkan pada potensi/bakat anak itu sendiri. Gaya belajarnya bebas, karena pada prinsipnya semua aktivitas yang dilakukan adalah belajar. Seperti yang disampaikan pencetus unschooling sendiri, John Holt. Beliau mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara hidup dan belajar. Orangtua memahami bahwa setiap anak adalah unik dan mempunyai bakat sendiri – sendiri, tinggal dicari saja bakatnya, setelah ketemu maka orangtua akan memfasilitasi bakat tersebut menjadi sesuatu yang berguna bagi hidupnya. Tidak ada buku tertentu sebagai acuan, pedomannya hanya “membaca” potensi/bakat anak – anaknya.
  3. Metode Adaptasi, mengapa saya bilang metode adaptasi? Bukan lain karena memang metode ini mengadopsi dari praktisi pendidikan rumah yang sudah terlebih dulu menjalankan. Bisa diambil dari metode luar negeri, dalam negeri, atau agama. Metode ini banyak macamnya; seperti Montessori, Charlotte Mason (CM), kurikulum berbasis aqidah, dan sebagainya (untuk mengetahui apa dan bagaimana metode – metode tersebut, silahkan browsing dengan keyword seperti di atas)
  4. Metode Customized/Personalized, sebuah metode yang digunakan sesuai dengan kebutuhan yang membuatnya. Ciri dari metode ini adalah tidak adanya kesamaan antar yang satu dengan yang lain, atau dengan kata lain, setiap keluarga akan mempunyai metode yang berbeda. Lalu apakah sama dengan unschooling? Unschooling itu gaya belajar yang bebas, sedangkan customized sudah ditentukan di awal, apa sasaran yang dituju, caranya bagaimana, dan apa yang harus dilakukan. Semua sudah direncanakan. Memang ada benang merah antara unschooling dan customized method ini, sama sama menekankan pada potensi, namun di customized curriculum, keluarga bisa “membuat” sendiri education roadmap yang akan dijalani.

Nah, setelah mengetahui metode – metode di atas, metode mana yang akan dipakai sebagai acuan? Silahkan rundingkan dengan keluarga anda masing – masing 🙂