Ketika Bapak Pulang

Ada beberapa kebiasanan yang saya dan anak – anak lakukan ketika pulang kerja, salah satunya adalah curhat bebas di depan rumah. (ini terjadi kalo anak anak tahu bahwa bapak sudah di depan rumah dan mereka punya masalah untuk diceritakan).


(Waktu kejadian: kemarin malam)

Bayangkan, kira kira apa yang akan anda lakukan sebagai seorang Ayah ketika baru buka pager rumah, sudah diserbu anak – anak (anak saya 3 lelaki semua lho). 

Yang gede (Mas Ozan, 7.8y) langsung curhat tadi siang ribut sama adeknya yang tengah (Mas Izzam, 6.4y). Belum selesai cerita yang sulung, Mas Izzam juga juga curhat hal yg sama (ceritanya membela diri gitu). Ini belum beres tiba tiba yang paling bungsu (Zaidan, 3.2y) minta digendong kemudian cerita juga bahwa kakinya sudah sembuh (tempo hari memang sempet jatuh). Hehehe.

Apakah anda akan marah? Atau seneng?

Kalo saya pasti seneng dong, berasa jadi paling penting gituh.

Children Engagement, istilah ini yang biasanya dipakai untuk menggambarkan kedekatan kepada anak. Hal ini tentu saja tidak dapat terjadi begitu saja, perlu proses, dan saya pun masih terus berproses. Di sini saya tidak mengajari lho, hanya menceritakan pengalaman saya saja.

Karena tema kali ini adalah curhat, maka saya pun hanya akan menceritakan pengalaman saya dengan anak tentang curhat. 

  • Saya biasa menceritakan hal hal atau kejadian yang saya lihat di jalan kepada anak anak, Misalnya; “Tau nggak mas, tadi di jalan macet karena ada kebakaran”.
  • Saya juga biasa menyampaikan alasan kenapa pulang telat, misalnya ;“Maaf yaa, Bapak pulang telat, tadi mampir dulu ke rumah Om ….). 
  • Bila malam – malam, sebelum tidur saya juga rajin nanya ke anak anak tentang kegiatan mereka sehari tadi, apakah sholat di mushola, main apa dan dengan siapa.

Nah,dari cerita cerita yang terlihat sepele ini ternyata menimbulkan interaksi yang akhirnya membuat mereka pun akhirnya terbiasa menceritakan masalah mereka kepada bapaknya, bahkan ketika saya lagi makan malam pun anak – anak berseliweran cari perhatian.

Indahnyaa…

Nah, kalo anda sendiri, bagaimana? 

#FasilitatorHS

#ChildrenEngagement

#AyahNgangenin

#HomeEducation

Pendidikan itu…

Pendidikan bukan hanya merupakan proses belajar mengajar yang dibatasi oleh empat dinding. Tetapi merupakan proses dimana manusia secara sadar menangkap,menyerap dan menghayati peristiwa – peristiwa alam sepanjang zaman.

“Barangsiapa tidak terdidik oleh orangtuanya, maka akan terdidik oleh zaman”

–Ibu Khaldun–
Dikutip dari buku Mukadimah

Nah, melihat kutipan kitab Mukadimah di atas, sudah seharusnya kita sebagai manusia yang diamanahi anak oleh Alloh SWT, mensyukurinya dengan mendidik anak – anak kita di rumah sesuai fitrah mereka, sesuai sifat bawaan yang sudah ditetapkan oleh – Nya. Dengan begitu, ketika mereka keluar rumah, sudah berbekal imunitas yang akan menjaga mereka dari godaan zaman yang sudah banyak melenceng dari sebelumnya.

Dari rumah, anak – anak dipersiapkan menjadi pribadi – pribadi berkarakter kuat, pribadi yang mandiri, juga pribadi yang penuh dengan rasa iman di dada. Dan semua itu berawal dari orangtua yang senantiasa mendidik anak – anak mereka. 

Lalu, kenapa masih bingung? 

#BermainBersamaBapak

#AyahNgangenin

#FasilitatorHS

#HomeEducation

Bermain Bersama Bapak

Sebagai seorang bapak, apakah anda tahu bagaimana menyenangkan anak anda?

Apakah dengan mainan? (Mungkin)
Atau dengan uang jajan? (Bisa jadi)

Tapi dari yang 2 di atas ada yang lebih gampang untuk dilakukan. Tanpa modal apalagi mengeluarkan biaya.

Yup, dengan badan anda. Semua juga sudah tahu kalo ini mah, dan saya pun juga hanya menulis saja koq hehehe.

Badan seorang bapak itu aneh lho, bisa jadi macam macam, mau tahu?

*Bisa jadi kuda
*Bisa jadi gorila
*Bisa jadi macan
*Bisa jadi kapal
*Bisa jadi pohon
*Bisa jadi ayunan
*Bisa jadi yang lain (kata cak Lontong,”Mikir!”)

Kalo itu sih tahu lah hehe.
Memang “hanya” seperti itu untuk menyenangkan anak. Tapi yang harus dipastikan adalah lakukan semua itu dengan senyum yang tulus, dengan muka yang ceria tanpa dibuat buat.

Ikatan/bonding/attachment antara orangtua dan anak (dalam hal ini Bapak-Anak) seharusnya terus dilakukan agar anda menjadi seorang bapak yang “Ngangenin” bagi anak anaknya.

Pulang telat anak nanyain dan minta telpon, atau berangkat keluar rumah belum pamitan anak nyariin.

Mau?

#AyahNgangenin

#TipsParenting

#FasilitatorHS

Anak butuh kuantitas waktu, bukan kualitas

“Yang penting kualitas waktu bersama anak, bukan kuantitas”

Waah, kalo pertanyaan ini dibalik menjadi seperti di bawah ini bagaimana ya?

“Bos, bolehkah saya bekerja 2 jam sehari di kantor tapi berkualitas?”

Nah, kira kira apa jawaban atasan kita? Diijinkan tidak?

Anak pun demikian, mereka butuh “kehadiran” kita sesering dan sebanyak mungkin. Bukan hanya sekedar untuk “mampir” dan “menyapa”.

Anak tidak akan peduli bila kita (orangtuanya) adalah orang yang sangat penting, atau orang yang sangat sibuk. Anak – anak hanya peduli apakah ayah/ibu mereka berada di samping mereka, bermain bersama mereka. 

Ketika seorang anak banyak berinteraksi dengan orangtuanya, kedekatan (engagement) itu yang akan membuat mereka kuat. Semakin sering berinteraksi dan berkomunikasi, maka akan semakin dalam serta erat ikatan tersebut yang kemudian menguatkan pribadi menjadi anak tangguh berkarakter

Sepakat?
#FasilitatorHS

#HomeEducation

#TheBeginningOfLifeMovie

HE, kenapa bukan HS?

Sering saya ditanya,bedanya HE (Home Education) dan HS (Home Schooling) apa?

Ada yang berpendapat bahwa Homeschooling (HS) dan Home Education (HE) sama, hanya beda di penggunaan kata.

Ada juga yang berpendapat bahwa Homeschooling (HS) dan Home Education (HE) adalah 2 pengertian yang berbeda.

Saya pribadi memilih pendapat yang kedua, bahwa Home Education dan Homeschooling itu berbeda, walaupun keduanya memiliki benang merah yang saling terkait. 

Kemudian, letak perbedaannya di bagian mana?

Home Education (HE) adalah peran kesejatian setiap orang tua dalam mendidik anak-anaknya di rumah, terlepas anak – anaknya tersebut sekolah maupun tidak. Pendidikan ini dilakukan bahkan sejak seseorang memilih pasangan hidup, kemudian saat (ibu) mengandung, sampai kemudian merawat anak – anaknya dari bayi sampai menjadi seorang mukallaf.

Di mana benang merahnya? Hubungan antara HE dan HS sinergi ketika anak mencapai usia sekolah, ketika anak tidak mengikuti (masuk) pendidikan terstruktur (sekolah), maka dinamakan Homeschooling

Dalam HE, sekolah adalah pilihan, karena pada prinsipnya, HE adalah Iqro’ dan tholabul ‘ilmi, “belajar”, bukan sekolah. Belajar bisa dilakukan di mana saja, kapan saja dan oleh siapa saja. Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa HS adalah bagian dari HE

Pertanyaan terakhir, kenapa sebutnya fasilitator HS? Haha, sudah tahu kan jawabannya? 🙂

#FasilitatorHS

#AyahNgangenin

#BelajarBersamaBapak

#HomeEducation