Merancang Kegiatan Rumahan

Apakah kegiatan bersama anak itu harus selalu direncanakan/dirancang?

Pertanyaan seperti ini sering sekali diajukan, dan selalu ada lanjutan pertanyaan; bila rancangan tidak sesuai dengan hasil, bagaimana?

Sebenarnya merancang boleh-boleh saja,bahkan dianjurkan, karena bagaimana pun sesuatu harus ada ukuran sebagai acuan. Tapi yang harus diingat adalah jangan sampai spaneng dan terobsesi hehe, dalam arti jangan menjadikan rancangan sebagai sebuah kewajiban yang harus berjalan lurus sesuai track yang diinginkan, karena hanya akan mengganggu kreatifitas saja, bikin sewot bila tidak sesuai dengan yang diinginkan. Setelah rancangan kita buat, yang harus dilakukan kemudian adalah mendampingi anak-anak berkegiatan agar bisa memaknai setiap keunikan dan kejadian yang dilakukan anak, lalu mendokumentasikan dalam jurnal, dan terakhir memfasilitasi kegiatan lanjutan yang selaras dengan apa yang sudah dimaknai tersebut agar terus melingkar dan mekar menjadikan anak memiliki kekuatan berdasarkan bakat, kelimuan dan ketrampilan yang sudah diasah tadi.

Merancang diperlukan agar kita memahami aktivitas atau kegiatan yang akan kita lakukan dengan anak. Memahami apa saja makna yang bisa diambil dari kegiatan-kegiatan tersebut, baik berupa pemahaman anak, ketrampilan maupun sikap yang mungkin bisa tumbuh dari kegiatan yang akan dilaksanakan. Merancang juga bisa sebagai dokumentasi kegiatan, karena di dalamnya ada evaluasi kegiatan yang bisa ditindaklanjuti ke step berikutnya, apakah perlu peningkatan fasilitas, atau keragaman bahkan modifikasi.

Bagaimana bila ternyata kondisi aktual tidak sesuai rancangan? Tidak usah khawatir, poin terpentingnya adalah anak-anak dapat berkegiatan dengan riang gembira, berbinar dan bisa tertawa lepas. Ambil setiap makna yang didapat, entah itu sesuai dengan rancangan atau justru menemukan “makna-makna” lain yang ternyata bisa membuat kita berseru “AHA” , ternyata…!

Sepertinya mudah yaa? Atau malah tidak terbayangkan?:p

Studi Kasus

Beberapa waktu yang lalu saya diminta oleh guru dan sahabat saya Bunda Rita Riswayati untuk membuat template dokumentasi perjalanan anak-anak komunitas HEbAT Priangan Timur ke Bandung (Boscha), dengan melewati atau mampir ke Saung Udjo.

Ada yang menarik di sini, pertama karena saya tidak ikut terlibat di dalamnya baik secara online apalagi offline. Kedua, saya harus bisa membahasakan template saya sehingga mudah digunakan siapa saja, karena bagaimanapun ini adalah karya saya, yang secara otomatis memang saya buat untuk kepentingan sehari hari di rumah.

Ada 2 template di sini, pertama adalah template merancang kegiatan dan mini jurnal kegiatan, yang kedua khusus jurnal kegiatan anak

Saya berusaha agar semua mudah dipahami, berikut penampakan kedua template yang saya maksud bersama contoh pengisian masing-masing :

1. Merancang dan Mendokumentasikan Kegiatan Rumahan

Merancang Kegiatan
Contoh merancang kegiatan rumahan

Kolom 1

Berisi nama kegiatan beserta penjelasan singkatnya :

Penjelasan/deskripsi bisa sekaligus menjelaskan kondisi anak dan fasilitatornya

Misalnya kita akan isi dengan perjalanan di atas:

Field Trip to Bandung (sebagai judul)

Pada tanggal 11-12 Agustus 2017  Fauzan (8 th) didampingi oleh Bapak ikut serta dalam acara EduTrip ke Bosscha Bandung yang diselenggarakan oleh HEbAT Priangan Timur yang melewati Saung Udjo.

Jangan lupa karena ini termasuk eksplorasi maka yang dicentang adalah Jelajah Sekitar

Kolom 2

Alat dan Bahan serta Lokasi

Alat yang perlu dipersiapkan dalam kegiatan ini apa saja?

Alat yang dibawa : 

  • Pulpen
  • Buku Tulis
  • Baju Ganti
  • Kamera
  • Makanan ringan

Lokasi : Saung Udjo dan Boscha

Kolom 3

Terhubung ke pelajaran/materi/tema :

Perjalanan ini akan terhubung ke pelajaran apa saja?

  • Science
  • Kebudayaan
  • Sejarah
Merancang Kegiatan
Contoh merancang kegiatan rumahan

Kolom 4

Pokok Pikiran (Goal)

Apa saja kira kira hikmah yang bisa dimaknai dari kegiatan ini?

Yang akan dipahami anak:

  • Budaya
  • Teknologi
  • Sejarah

Ketrampilan :

  • Berkomunikasi/sosialisasi
  • Manajemen Perjalanan
  • Berkendaraan

Sikap yang (mungkin bisa) tumbuh :

  • Mandiri
  • Sabar
  • Kecintaan kepada Indonesia
  • Kecintaan akan Alloh SWT

Kolom 5

Skenario Kegiatan

Ada 6 kotak di sana, terserah berapa kotak yang akan diisi, yang penting, sebaiknya menyangkut 3 hal : Persiapan – Aksi Utama – Penutupan

Kotak pertama :

Persiapan : Persiapkan alat : Tas, ATK, baju ganti, kamera 

Kotak kedua :

Pergi dan kumpul di Banjar : Menggunakan kereta kemudian angkot sampai berkumpul di titik temu

Kotak ketiga:

Transit di Saung Udjo, melihat pertunjukan wayang 

Kotak ke empat : Pergi ke Boscha, melihat bintang

Kotak ke lima:

Penutupan: mengisi jurnal

Kotak ke enam:

Pulang ke rumah

Merancang Kegiatan
Contoh merancang kegiatan rumahan

Kolom 6

Evaluasi dan Jurnal Kegiatan

Refleksi dari kegiatan yang sudah dilakukan, bandingkan antara goal dan hasilnya, sama atau tidak sama, yang penting hepi haha, juga jangan lupa apakah kegiatan ini berguna dalam keidupan sehari hari?

Goal tidak sama, ternyata anak lebih suka lari larian daripada antri.

Untuk khidupan sehari hari, anak-anak jadi paham bahwa bintang-bintang di langit itu sebenarnya tidak terlihat sekecil itu, dan semakin memahami Alloh Sang Pencipta. Imaji positipnya terpenuhi.

Kolom 7

Mini Jurnal Kegiatan

Berisi catatan kisah di balik perjalanan yang berhasil dimaknai oleh pendamping (orangtua)

Mas Ozan terbukti sabar, dan mau berbagai dengan teman temannya, terbukti saat ada seorang anak yang merengek minta roti padahal posisi lagi di dalam gedung, dengan antusias menyodorkan bungkusan snacknya yang kebetulan masih ada. Anaknya juga gaul. Dalam perjalanan terlihat mas Ozan antusias melihat beberapa mobil di jalan, terutama bila melihat mobil alat berat, langsung teriak kegirangan.

Kolom 8

Aksi Lanjutan

Melihat mas Ozan yang seperti terpesona dengan sang Supir, sepertinya perlu diGaendakan next trip yang berhubungan dengan kendaraan alat berat

2. Jurnal Kegiatan Anak

Berikut adalah contoh jurnal kegiatan anak yang lepas tanpa rancangan kegiatan, hanya mengamati sifat, sikap dan karakater anak,untuk kemudian dieksplorasi what’s next nya. Sudah sekalian diisi

Bila memang sudah memahami peta bakat, bagian yang dalam kotak bisa diisi dengan tema bakat terkait.

File template silahkan bila ingin digunakan dan atau dioprek sesuai dengan kebutuhan :

Merancang kegiatan rumahan bisa diunduh di sini

Jurnal Kegiatan anak bisa diunduh di sini

Demikian edisi kali ini, semoga tetap bingung hahaha.

Template – template dan tulisan saya terinspirasi oleh True Creative Aid yang digawangi oleh para guru dan inspirator saya: Achmad Ferzal (bang Ical), Musta’ien (Pak Stein), Kalih (Pak Kalih), Bu Veyida (bu Ida), juga bu Susana.

Jadilah Teman Tumbuh Teman Belajar

Jadilah Teman Tumbuh Teman Belajar
(Seri Guru Berani, Teman Tumbuh Teman Belajar)

Saya bukan seorang guru, bila kata “guru” diartikan sebagai seseorang yang berprofesi mengajar sekumpulan anak anak sekolah.

Saya juga bukan seorang guru, bila kata “guru” diartikan sebagai seseorang yang bertugas dengan cara berdiri di depan kelas dalam proses mengajarnya.

Saya akan menyebut diri saya seorang guru, terutama untuk anak–anak saya bila kata “guru” diartikan sebagai seseorang yang bisa menempatkan diri sebagai teman tumbuh teman belajar mereka, sebagai pendamping mereka belajar hidup, saling belajar dan mengajar, saling memahami dan mengerti satu sama lain.

Itulah yang saya pahami dan sadari sejak membaca buku Seri Guru Berani, Teman Tumbuh Teman Belajar, bahkan sebelum sampai di halaman akhir.

Ya, saat ini masih banyak sekali orang yang berpikir bahwa tugas guru adalah “mengajarkan” ilmu. Dan sayangnya, “mengajarkan” di sini pun masih disamakan artinya dengan “menjejalkan” pengetahuan sebanyak mungkin ke anak dengan harapan si anak menjadi seseorang yang sama dengan apa yang diajarkan (dijejalkan) tersebut. Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah hasilnya sesuai dengan yang diinginkan? Mari sejenak kita renungkan bersama!

Memegang buku setebal hampir 500 halaman ini seakan tidak mau berhenti membaca, saya bawa ke manapun untuk dibuka dan dicorat coret atau dicatat sesuatu yang “baru” untuk saya, yang saya anggap “out of the box” padahal itu sesuatu yang memang sudah sewajarnya.

Penjelasan-penjelasan yang dihadirkan bersama kisah nyata pendampingan membuka mata saya, seorang Bapak yang mempunyai anak HS tentang bagaimana menjadi seorang fasilitator atau pendamping bagi anak-anak saya.

Walaupun isinya adalah tentang cerita pendampingan guru di sekolah, tapi sejatinya bersifat umum karena esensinya adalah menempatkan definisi guru pada tempat semestinya, sebagai seorang teman yang bertugas menumbuhkan kekuatan atau potensi anak didiknya dari dalam. Yah seperti semboyan dari True Creative Aid itu sendiri, Helping people with their own power.

Alhamdulillaah saya berkesempatan untuk bertemu dan berdiskusi dengan sebagaian penulisnya (3 dari 4 penulis buku) walaupun dengan cara-cara yang aneh. Bertemu dan mendiskusikan isi buku yang saya korelasikan dengan kehidupan sehari hari. Waktu seperti cepat sekali berjalan bila bersama mereka. Bang Ical (Achmad Ferzal), Pak Stein (Musta’ein), dan Pak Kalih Raksasewu, tiga sosok yang selalu membuat saya manggut-manggut terdiam mendengarkan antara takjub dan bingung hehehe.

Buku ini berisi catatan pendampingan yang mereka lakukan di pedalaman Nias, Poso, Keerom, dan Boven Digul.

Sebuah Best Practice, bagaimana belajar memanfaatkan kearifan lokal, bagaimana bersinergi dan mengambil hikmah dari alam, dan bagaimana membangkitkan potensi para guru menjadi sosok-sosok inspirator dan inovator bagi sekolah serta lingkungannya.

Pendampingan, bukan pelatihan. Menumbuhkan, bukan menjejali dengan limpahan pengetahuan dan ketrampilan yang bahkan tidak dapat mereka gunakan. Karena pada dasarnya, keterampilan diasah dengan gerakan/kegiatan, bukan dengan duduk dan mendengarkan, sikap ditumbuhkan dari kegiatan yang bersentuhan dengan aktivitas sehari-hari, bukan dengan teori dan hapalan. Tugas pendamping adalah menambahkan sedikit pengetahuan yang berguna sebagai bumbu pelengkap dan diberikan bila diperlukan saja, saat semuanya sesuai dengan koridor yang ada maka biarkan tumbuh meninggi untuk kemudian berkembang indah.

Semboyan yang dianut adalah, MAU-MAMPU-MAJU. Jadi yang harus diselesaikan/dibangkitkan dahulu adalah rasa MAU melakukan, baik sebagai guru maupun orangtua. Ketika hal ini sudah dilalui maka dengan sendirinya akan MAMPU berbuat dan akhrnya MAJU dengan sendirinya.

Menggunakan kearifan lokal sebagai bahan pembelajaran membuat kurikulum nasional bisa diterapkan tanpa kesulitan berarti, bahkan dijadikan sebagai rujukan membuat kurikulum baru, hal ini justru terjadi di daerah yang katanya “jauh di sana”. Pada episode ini, pembaca (khususnya saya) disajikan cara untuk membuat Kurikulum Personal, kurikulum yang khusus dirancang untuk kebutuhan pribadi atau suatu kelompok tertentu, di daerah tertentu karena prinsipnya menggunakan apa yang ada, bukan mengada-adakan, apalagi menunggu semuanya ada.

Di buku ini juga dijelaskan tentang mendengar, yang ternyata bukan hanya sebuah proses “memasang telinga”, tapi suatu cara menyerap masalah dan mengolah informasi yang digunakan untuk menemukan solusi. Disajikan dalam tulisan yang mudah dipahami.

Saya adalah seorang praktisi Home Education, juga fasilitator anak saya yang saat ini memilih jalur Homeschooling (HS). Dan buku ini adalah jawaban-jawaban dari apa yang selama banyak dicari oleh praktisi seperti saya, khususnya yang berkenaan dengan how to.

tttb
Teman Tumbuh Teman Belajar

Tumbuhkan agar kuat dan mengakar, lalu tambahkan agar semakin manis berbuah. Kenikmatan yg akan diingat ada pada proses saat tumbuh bersama, bukan pada hasilnya.
Jangan dibalik, jejalkan dan berharap kuat mencengkeram, terlihat berisi padahal kosong, terlihat tenang padahal riak bergelombang

Bekasi, Februari 2017

Pembelajar Mandiri

Dalam sebuah presentasinya, Profesor Sugata Mitra bercerita tentang penelitian yang dilakukan di pedalaman India, dinamakan Hole in the wall (lubang dalam dinding).

Penelitian pertama dilakukan di dekat kantor beliau yang bersinggungan langsung dengan daerah pinggiran dan bisa dibilang tidak mengenal teknologi semacam komputer. Kantor dan kawasan ini hanya dipisahkan oleh tembok. Profesor Sugata kemudian menggunakan sarana tembok ini sebagai media penelitian. Tembok dilubangi dan dipajang sebuah komputer dengan posisi monitor menempel serta menghadap ke kawasan tersebut, dan diberikan touchpad untuk menggerakkan pointer (inilah asal nama hole in the wall). Komputer tersebut diberikan akses internet, dan dibuka browser dengan mesin pencari sebagai halaman utama.sugata

Apa yang terjadi? Dalam waktu tidak sampai sehari, ternyata anak-anak sudah bisa menggunakan komputer tersebut, dalam arti berselancar dengan mesin pencari, bahkan sudah bisa saling mengajarkan cara menggunakan dan atau saling bercerita. Apakah ini kebetulan? Atau memang karena daerah itu bersebelahan dengan kantor maka bisa saja anak-anak tersebut bertanya ke staf kantornya? Bila memang begitu, kita lihat penelitian kedua.

Penelitian kedua menggunakan metode yang sama, hole in the wall, tapi kali ini ditempatkan lebih jauh lagi di pedalaman. Apa yang terjadi? Tidak ada perbedaan, dalam hitungan jam sudah ada anak yang bisa mengajarkan teman-temannya bagaimana cara menggunakan komputer tersebut. Penelitian ini berlanjut ke penelitian-penelitian selanjutnya, dimana hasilnya mempunyai kesamaan satu sama lain.

Ada yang menarik dari hasil penelitian yang dilakukan profesor ini, bahwa anak-anak akan bisa belajar sendiri tanpa guru saat mereka ada dalam sebuah kelompok, satu anak di depan monitor sebagai operator, yang lain di belakang sambil “sok tahu” memberi instruksi, apapun hasilnya, mereka ternyata belajar banyak, misalnya: bahasa asing (inggris),bahkan ada yang bisa membuat sebuah video,  juga bisa membuat rekaman audio setelah beberapa jam berinteraksi dengan benda asing ini.

hole-in-the-wall1

Bukti lain bahwa anak-anak ini belajar mandiri, saat profesor meninggalkan sebuah komputer disertai bermacam kepingan CD program dan game berbahasa Inggris di situ (karena di daerah tersebut kebetulan tidak ada internet). Setelah beberapa waktu kembali dan didapati anak-anak sudah mahir bermain, bahkan salah seorang mengatakan bahwa prosesor komputer tersebut perlu ditambah, dan mouse perlu diganti. Saat ditanya dari mana bisa tahu, mereka menunjukkan kumpulan CD yang beberapa waktu lalu ditinggalkan. Ada juga cerita saat anak-anak belajar bioteknologi tanpa guru (lain kali saya tulis ceritanya)

Jadi, jika masih banyak yang beranggapan bahwa anak-anak tidak belajar bila tidak duduk diam di kelas, segera ubah mindset anda. Anak adalah pembelajar mandiri, mereka bisa belajar sendiri bila diberi kesempatan, apalagi bila bersama teman-temannya. Yang harus orangtua lakukan adalah memberikan kepercayaan kepada mereka karena sebenarnya mampu. Karena pada dasarnya, anak-anak akan belajar dengan sendirinya saat mereka menemukan sesuatu dan penasaran terhadapnya, tidak perlu dijejalkan dengan berbagai pengetahuan yang sebenarnya tidak dibutuhkan dalam kehidupan mereka sehari hari.

Anak-anak bisa bebas belajar mengenai apapaun bila diberikan kesempatan. belajar sendiri secara berkelompok dalam sebuah komunitas. Yup, sekolah komunitas.

Membaca pola dalam jurnal kegiatan dan portofolio anak

pola1

Pola anak dalam sebuah portofolio dapat diketahui dengan membaca jurnal-jurnal yang sudah dikumpulkan secara periodik. Dari kumpulan jurnal (portofolio) ini, dilihat  “aktivitas atau ekspresi” berulang yang dilakukan oleh anak, baik dalam kegiatan maupun sikap/sifat keseharian. Aktivitas yang dilakukan anak dengan semangat, berbinar binar, dan selalu menanyakan kapan lagi. Atau sikap, sifat menonjol yang tampak saat anak bermain dengan teman maupun saudaranya. Pembacaan pola ini biasanya di saat anak usia 0-7 tahun, bahkan kadang bisa lebih, tergantung seberapa banyak aktivitas dan pengamatan yang dilakukan.

Contohnya bisa dilihat dalam gambar, ada beberapa bulatan yang besar dan berwarna, itulah yang saya sebut dengan pola yang harus dipahami sebagai keunikan dan potensi anak. Misalnya saat bermain bola, di posisi manakah anak merasa senang dan hebat? Atau suka mengatur, saat bermain dengan teman-temannya, apakah suka mengatur ini berlaku bila anak bermain dengan teman yang usianya lebih tua? Atau suka menghapal, ditelisik lagi; dengan gaya belajar model apa si anak bisa lebih mudah menghapal? Atau situasi bagaimana? Atau hal apa saja yang suka dihapal?, dan pertanyaan lainnya yang serupa. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang harus dilatih dalam membuat jurnal kegiatan untuk kemudian dikumpulkan dalam sebuah portofolio dengan pengamatan (profiling) periode tertentu. Atau bisa juga libatkan anak dalam membuat jurnal, bisa dengan anak menuliskan sendiri jurnalnya, atau dengan sharing, orangtua mendengarkan kemudian dicatat. Mulailah dengan yang sederhana.

Cara di atas adalah untuk membaca potensi, apakah bisa untuk mengamati yang lain? Tentu saja bisa, tinggal disesuaikan, umpamanya tentang keimanan, tentang cara berpikir dan yang lain, bisa tetap diamati dan dibandingkan dengan sebelumnya untuk mengetahui apakah ada kemajuan atau tidak, serta untuk difasilitasi apa yang dirasa kurang.

Pertanyaan yang sering diajukan kemudian adalah, what’s next? Jangan khawatir dan bingung, pola-pola yang sudah ditemukan dan ditandai tersebut bisa  diberikan kegiatan eksplorasi dan atau pengamatan yang lebih dalam  di periode berikutnya. Tugas kita sebagai fasilitator/pendamping adalah merancang dan memfasilitasi kegiatan-kegiatan anak tersebut. Bisa berbasis project ataupun hanya sebatas pengenalan.

Untuk usia di bawah 7 tahun, bisa dengan merancang kegiatan (saya sendiri lebih suka menyebut dengan merancang pengalaman) untuk memperkaya wawasan anak. Dan apabila pola sudah ditemukan, bisa dilanjut dengan merancang kurikulum personal yang bisa diterapkan untuk anak yang memilih jalur pendidikan formal (sekolah) maupun informal (Homeschooling/Home Education).

Yang diperlukan adalah kemauan dan keberanian orangtua untuk segera melangkah, menjadi teman tumbuh teman belajar anak, saling belajar dan mengajar. Tanpa adanya kemauan, yang terjadi hanya kebingungan yang semakin akut sementara teori semakin banyak ditelan mentah-mentah.

Jadi, mari bergerak bersama, bila kita sudah MAU, pasti MAMPU untuk MAJU bersama anak. Raise yourchild, raise ourselves.

 

Jadilah orangtua yang berani

Dalam sebuah diskusi online melalui Whatsapp messenger, saya bersama-sama dengan 65 member Group Surabaya HEbAT Community melakukan sebuah gerakan pembuatan jurnal kegiatan dan portofolio anak. Kegiatan yang spontan saya cetuskan sebagai bagian akhir diskusi ini saya namakan Festival Ide Portofolio. Ajang praktek hasil diskusi online menjadi sebuah “karya” unik keluarga. Hasilnya? Alhamdulillaah, dalam 3 hari (rencana awal hanya 1 hari), bertebaran ide ide berani dan unik dari keluarga-keluarga hebat. Efeknya, kuota internet dan kuota space internal memory pun langsung drop hahaha, yang penting hasilnya menggembirakan.

Sebuah festival, pameran karya dan bisa dibilang sebagai virtual workshop tentang pendokumentasian anak yang sering disebut dengan jurnal kegiatan atau malah sebuah portofolio.

Nah, pertanyaannya, kenapa ide FIP ini muncul?, kira-kira seperti ini yang saya sampaikan kemarin :

  • Dokumentasi anak itu perlu
  • Sepakat bahwa setiap anak itu unik, begitu juga keluarga, tidak ada yang sama
  • Tidak ada orangtua yg tidak kreatif asal mau bergerak memulai
  • Mulai dengan 1 kalimat, besok tambahkan menjadi 1 paragraf, dan lusa lengkapi menjadi 1 tulisan dokumentasi ala kita.
  • Membangun peradaban itu butuh berjama’ah, tidak bisa sendirian
  • Saling berbagi ide dan memberi ide sebagai wujud kebersamaan. Karena hanya dengan berbagi maka kita pun akan dibagi, dengan memberi kita pun akan diberi. Semangat saling mengisi dan saling melengkapi ide.
  • Tidak ada bentuk dokumentasi terbaik, karena memang semuanya sudah menjadi yg terbaik bagi keluarga masing-masing. Ingat!!

Mari jadi teman pertumbuhan anak anak kita, saling tumbuh, saling mengajar dan saling belajar (Yus Rusyana)

Membangun peradaban adalah pekerjaan yang terlalu besar untuk dikerjakan sendirian! (Coach Muqiet)

Dan, berikut beberapa karya luar biasa dari Ayah Bunda yang bersemangat mengikuti Festival Ide Portofolio (versi ebook berisi resume DisWap dan Dokumentasi jurnal/portofolio sedang dalam proses)

Beberapa review dari kegiatan kemarin:

  1. Karya-karya yang ditampilkan semua luar biasa, ide berani dari para orangtua yang memang sudah luar biasa, ketika sudah ada kemauan, maka 1000 ide dan jalan akan muncul. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi arsitek peradaban yg lain
  2. Minder hanya sebuah kata yang harusnya dibuang jauh-jauh, karena sebenarnya orangtua sudah kreatif, jadi tidak usah kaget dicap sebagai orang yang “beda” atau unik, karena memang keluarga kita sudah beda dari sononya koq. Soalnya bila semua keluarga mempnyai karya yang sama, lalu apa yang membuat kita “lebih” dari yang lain?.
  3. Yang pasti,tidak ada bentuk dokumentasi paling bagus, yang ada semua unik dan terbaik bagi setiap keluarga
  4. Lihat keluarga lain boleh, kepengen dan mau nyontoh silahkan, tapi kalo terobsesi yo jangan, ngEman tenagane.
  5. Bangga dengan tulisan dan karya kita sendiri, karena itu membuktikan bahwa keluarga kita berbeda dengan keluarga lain
  6. Beranilah memulai menjadi arsitek peradaban, selanjutnya rileks dan optimis (Ust. Harry Santosa)

Nah, apakah anda berani masuk barisan ini?

Salam Mau Mampu Maju

Catatan Harian Anak (CHA) dan Catatan Project Anak (CPA)

Definisi mengenai portofolio sudah saya bahas di artikel sebelumnya. Di sini saya hanya akan memberikan contoh portofolio yang saya gunakan sehari hari, ada 2 catatan aktivitas dan 1 profiling. Saya hanya akan membahas CHA dan CPA yang saya gunakan. Ingat, ini adalah format portofolio yang saya gunakan, jadi bentuk dan isinya sesuai dengan kebutuhan saya. Silahkan bila ingin menggunakan, atau bisa juga disesuaikan dengan selera saja.

Catatan Harian Anak (CHA)

Adalah sebuah catatan berbentuk anecdotal record yang saya buat untuk mencatat aktivitas anak – anak saya di rumah. Hal yang saya catat adalah aktivitas individual yang berkesan dan berkenaan dengan fitrahnya; contoh saat anak menanyakan Alloh (fitrah keimanan), atau saat si bungsu suka sekali perform (fitrah bakat), si sulung suka sekali bongkar pasang lego, si tengah yang sering beraktivitas dengan fisiknya.

CHA terdiri dari 2 kolom kiri dan kanan, dengan header yang berisi informasi mengenai :

  • Nama anak (Nama anak yang melakukan aktivitas)
  • Tanggal lahir/umur (untuk mendapatkan informasi diri anak, tanggal lahir dan usia)
  • Waktu/Tempat (untuk mendapatkan informasi mengenai tempat kejadian)
  • Fasilitator (untuk memberikan informasi mengenai fasilitator yang menemani saat itu)
  • No CHA (untuk memberikan identitas CHA agar lebih mudah dalam administrasi)

catatan-harian

Kolom sebelah kiri adalah kolom deskripsi aktivitas anak, ada field Fitrah yang berisi kategori aktivitas yang dilakukan berdasarkan fitrahnya. Juga tools yang digunakan (bila ada) untuk melakukan aktivitas tersebut (misalnya spidol, pensil, buku iqro’ dan lainnya). Dan apabila ada dokumentasi, cantumkan di situ. Bisa berupa foto yang ditempel atau disimpan di folder/tempat lain.

Kolom sebelah kanan adalah feedback dari fasilitator, bisa berupa tanggapan, kesimpulan, catatan kecil, hal yang mungkin perlu ditingkatkan dan lainnya, pada intinya adalah sebagai komentar atas kegiatan anak tadi.

Nomor CHA adalah sebagai pengingat apabila aktivitas tersebut menghasilkan sesuatu, contohnya menggambar, maka hasil gambar bisa ditambahkan no CHA nya sebagai pengingat (apabila disimpan di tempat lain), atau apabila dokumentasi (foto) disimpan di tempat lain, untuk mudah mencarinya maka dokumentasi (foto) tersebut diberikan tanda nomor CHA. Bisa juga hasil dan foto sekalian disatukan dengan dokumen CHA tersebut.

 

Catatan Project Anak (CPA)

Adalah sebuah catatan berbentuk anecdotal record yang saya buat untuk mencatat aktivitas anak – anak saya di rumah yang berkaitan dengan project yang mereka kerjakan, baik yang dilakukan secara sendiri maupun bersama-sama. Bisa dibilang bahwa CPA ini catatan kegiatan anak yang menggunakan konsep Project Based Learning (PBL).

CPA terdiri dari 2 kolom kiri dan kanan, dengan header yang berisi informasi mengenai:

  • Nama/Judul Project (untuk menjelaskan project yang dilakukan)
  • Tempat/Tanggal/Jam (untuk menjelaskan waktu kejadian)
  • Dilakukan oleh (untuk menjelaskan anak yang melakukan)
  • Tools yang digunakan (alat/media yang digunakan dalam project)
  • Fasilitator (untuk memberikan informasi mengenai fasilitator yang menemani saat itu)
  • CPA No (untuk memberikan identitas CPA agar lebih mudah dalam administrasi)

 

catatan-project

Kolom sebelah kiri adalah kolom yang menerangkan tentang kegiatan (project) yang dilakukan anak, bisa dengan step yang dilakukan, atau singkatnya bisa dikatakan sebagai kronologis kejadian.

Kolom sebelah kanan kolom feedback fasilitator, berisi hasil pengamatan fasilitator atas :

  • Pemahaman: Seberapa baik tingkat pemahaman anak terhadap project yang dikerjakan
  • Argumentasi: Seberapa baik alasan yang diberikan anak dalam menjelaskan persoalan-persoalan dalam project yang dikerjakan
  • Kejelasan Hasil  (tersusun denngan baik, terbentuk dengan baik)
  • Catatan Fasilitator : Menjelaskan catatan (bisa kesimpulan) dari fasilitator mengenai hasil project tersebut (bisa dengan kesimpulan bahwa kerjasama anak-anak dalam melakukan project sudah bagus, si A ternyata bagus di command dan lainnya.

Contoh CPA yang sudah diisi bisa dilihat di sini

Sedangkan template CHA dan CPA bisa diunduh di sini

Demikian tulisan saya terkait portofolio yang saya gunakan dalam membersamai anak-anak di rumah. Semoga bermanfaat dan selamat membuat portofolio anak anda sendiri 🙂

Menit-menit berharga

Saya yakin yang membaca sudah kenal atau familiar dengan nama Septi Peni Wulandani, jadi saya tidak akan membahas tentang “siapa” ibu hebat ini. Saya hanya akan menulis tentang pengalaman singkat saya bertemu dengan beliau.

Tidak ada yang kebetulan, semua sudah diatur

Alhamdulillah kemarin saya diberi kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan Bu Septi. Hal ini tidak pernah terpikirkan sebelumnya karena kesempatan yang saya jadwalkan adalah bulan Desember, saat IIP Bekasi mengadakan acara milad IIP dengan mengundang keluarga beliau. 

Namun ternyata Alloh menentukan lain, di saat saya kebingungan dengan CBE yang saya inisiasi di Bekasi, Alloh memberikan kesempatan itu lebih awal dari jadwal. Dan dalam satu hari itu saya mendapatkan 3 pelajaran moral : 

  1. Tidak ada yang kebetulan, Alloh sudah mengatur dan mempersiapkan semuanya.
  2. Guru/ilmu akan hadir/datang ketika murid sudah siap, tentu saja ada ikhtiar dan doa yang berperan di sini
  3. Jadwalkan prioritas, bukan prioritaskan jadwal.

Ketiga pelajaran moral di atas memang benar saya rasakan. Kemarin sebenarnya ada 3 agenda yang sudah terjadwal. Kegiatan IIP di rumah, bertepatan juga dengan event  sahabat launching project keluarganya dengan mengundang Bu Septi untuk datang ke Bekasi, juga agenda lama yang tertunda untuk menengok saudara yang melahirkan.Tapi qodarulloh kegiatan di rumah batal, tinggal 2 agenda, dan akhirnya saya memilih untuk menemui Bu Septi dengan 2 tujuan; pertama untuk sharing CBE, yang kedua memfasilitasi istri mengadakan pre-meeting milad IIP bulan Desember, karena kebetulan dia ditunjuk sebagai ketua pelaksana. Nah, bukankah semua sudah diatur rapi? 🙂

Kuliah singkat penuh makna 

Diskusi dengan Bu Septi seperti mengalir begitu saja. Banyak hal yang ternyata saya lewatkan selama ini terbuka di situ, terutama masalah komunitas dan mengerucut lagi tentang CBE. 

Walaupun tidak ikut acara KAMTASIA yang diselenggarakan Padepokan Margosari, tapi saya berasa di sana melalui pemaparan beliau yang sangat teknis tapi detil dan terstruktur sekali. Berikut adalah 3 poin CBE yang saya dapatkan langsung dari Bu Septi untuk menambah dan menambal tulisan sebelumnya :

  • Member engagement adalah yang utama, karena dari sinilah titik awal sebuah komunitas menuju kesamaan misi dan visi, hal ini bisa dilakukan dengan melakukan banyak aktivitas bersama, minimal sering berkumpul.
  • Member engagement ini biarkan berjalan apa adanya dulu, dimulai dengan jumlah keluarga seadanya. Seiring berjalannya waktu dan banyaknya aktivitas bersama, akan terbentuk rasa saling terikat dan membutuhkan satu sama lain. 
  • Komunitas bukan society, karena itu gunakan jejaring terdekat untuk memulai.

    Bila melihat poin-poin di atas, member engagement memang sangat ditekankan beliau, karena dari sini akan membentuk komunitas yang “sehati” itu sendiri yang pada akhirnya bisa bersinergi. It takes a village to raise a child, tidak akan terjadi tanpa adanya keterikatan dan tanpa adanya interaksi yang intens satu sama lain. Ketika semua sudah kenal, akan ter-mapping dengan sendirinya kekuatan dan keunikan dari masing-masing keluarga. Di situlah komunitas ini bisa disebut CBE.

    Apakah hanya itu saja? Dalam masalah CBE, memang hanya seperti itu. Tapi beberapa poin tentang keluarga pun ikut disinggung yang pada intinya hampir sama, seperti:

    • Misi keluarga, seperti halnya komunitas tidak bisa ditentukan dengan mudah. Perlu waktu untuk memetakannya. Dalam hal ini saya teringat seorang Coach yang mengatakan bahwa sebuah misi bisa ditentukan ketika sudah mengenal diri sendiri.
    • Merujuk poin di atas, cara-cara mengenai management keluarga juga bisa menjadi topik diskusi (manajemennya saja, bukan berarti kemudian ghibah tentang “dapur” keluarga masing-masing).

    Itulah sedikit banyak ilmu yang saya dapatkan dari sekitar 15 menit berdiskusi (atau lebih tepatnya kuliah) dengan bu Septi Peni Wulandani. Ya, 15 menit yang berharga

    Portofolio anak

    Kata portofolio bisa diartikan beberapa macam tergantung bidang keilmuan yang memakainya. Di sini saya tulis sebagai kumpulan catatan/dokumentasi yang berisi aktifitas perkembangan anak, yang berguna sebagai tool untuk evaluasi dan pengamatan pola; bakat, minat, karakter dll. Bisa juga sebagai catatan/kumpulan hasil karya yang digunakan dalam menyusun sebuah curriculum  vitae. Tapi di sini kita fokus membahas portofolio anak saja yaa

    Portofolio ini suatu saat akan berguna ketika anak sudah mulai besar, dimana dengan melihat catatan-catatan yang terkumpul, akan didapati pola yang berulang dan bisa jadi semakin lama semakin bagus dilakukan oleh anak tersebut. Pola ini bisa jadi adalah gaya belajar, juga  potensi/kekuatan atau yang sering dibilang sebagai bakat anak. Walau tidak menutup diri bahwa ada banyak anak yang sudah terlihat bakatnya dari kecil.

    Bentuk portofolio tidak ada yg baku, karena modelnya adalah Customized, jadi disesuaikan dengan keunikan setiap keluarga/orangtua. Disesuaikan di sini maksudnya adalah “cara penulisan/pencatatan/penyimpanannya” :

    1. Konvensional
    • Anecdotal record
    • Sistem kolom kiri-kanan
    • Model bisnis kanvas
    • Album Foto (bernarasi)
    1. Digital
    • Digital photo
    • Blog/website
    • Softcopy/File document
    • Media Sosial
    • Video

    Orangtua menyesuaikan, mana yang sekiranya “lebih nyaman” digunakan, yg pada intinya orang lain yg melihat pun tidak akan kesulitan.

    Berikut adalah isi/content yang seharusnya ada dari sebuah portofolio  :

    • Tanggal dan waktu kejadian,
    • Tempat/lokasi,
    • Usia anak pd saat itu,
    • Deskripsi/kronologis kejadian,
    • Feedback (penilaian) ortu dan lain yg sejenis.
    • Barang bukti, (bila ada)

    Bila orangtua tidak biasa menulis, portofolio bisa juga dengan menambahkan narasi di bagian obyek/hasil karya anak, sedikit narasi tentang waktu kejadian dan deskripsinya. Atau paling tidak, bisa menggunakan foto yang ada watermark waktunya (tanggal/bulan/tahun), sehingga ketika fasilitator melihat poto tersebut, langsung dapat mengingat waktu kejadiannya. Hasil karya anak ini bisa juga ditempelkan di dinding sebagai bentuk apresiasi dan pengingat kepada karya anak.

    Yang dicatat apakah setiap hari?

    Dikembalikan ke ortunya, kalo mau silahkan saja :).

    Lebih baik catat kejadian-kejadian yg berkesan, nanti dikasih feedback/catatan oleh fasilitator.

    Perlu kesabaran, ketelatenan dan tentu saja pengamatan ekstra untuk mendapatkan pola/potensi anak, tapi walau bagaimanapun sebagai fasililtator yang banyak berinterakasi dengan anak tentu akan ketemu jalannya.

    Sebagai contoh, berikut saya lampirkan portofolio anak saya Fauzan (7 y) dari hasil mengamati capung yang kebetulan masuk ke rumah.

    Badan Capung

    Dan aktivitas di atas saya bukukan dalam Catatan Project Anak (CPA). 

    Catatan Project Anak

    Nah, sebenarnya mudah bukan? Bentuk dokumentasi terserah bagaimana kita saja, namanya juga customized, jadi sesuai cita rasa dan selera masing – masing keluarga. Satu hal yang pasti bahwa setiap anak, begitu juga setiap keluarga adalah unik.

    Terakhir, berikut saya kutip ucapan salah satu dari 4 Khalifah,

    “Jika kalian melihat anakmu berbuat baik, maka puji dan catatlah, apabila anakmu berbuat buruk, tegur dan jangan pernah engkau mencatatnya.” (Umar Bin Khattab)

     

    Nah, semangad mencatat!!

    Deschooling

    Suatu ketika ada teman “curhat” tentang anaknya yang ingin sekolah di rumah (HS), tapi ketika sudah mulai dan diberikan jadwal belajar, anaknya berontak tidak mau sehingga teman saya ini pun bingung.Saya hanya bilang bahwa anaknya lagi fase deschooling. Apa itu deschooling? 

    1. Definisi Deschooling

    Setidaknya ada 2 definisi deschooling yang saya tahu; yang pertama menyebutkan bahwa deschooling adalah sebuah proses peralihan dari pola pendidikan terstruktur (sekolah) menuju pola tidak terstruktur (homeschooling). Yang kedua mengatakan bahwa deschooling  merupakan proses memperbaiki dan atau menjalin/mempererat komunikasi dan engagement antara orangtua dan anak. Tidak ada perbedaan sebenarnya, bahkan keduanya seperti saling melengkapi.

    Pada fase ini seharusnya orangtua membiarkan/membebaskan anak dari rutinitas sebelumya supaya bisa beradaptasi terhadap pola yang baru.

    Jadi, anaknya tidak belajar dong?

    Tunggu dulu, jangan buru – buru menyimpulkan. Belajar apa maksudnya? Apakah belajar mata pelajaran? Bila yang dimaksud adalah belajar mata pelajaran sesuai dengan yang diajarkan saat sekolah sebelumnya, maka ini salah. Tetapi bila dikatakan bahwa anak belajar tentang “gaya belajar” dan kehidupan (karakter, kemandirian) dan lainnya, ini baru benar.

    Deschooling, biasa juga disebut dengan masa detox  (mengeluarkan racun, dalam hal ini pola belajar terstruktur) pada dasarnya diperlukan bagi anak dan orangtua yang memulai HS. Seorang anak, bila sudah pernah merasakan sekolah, kemudian melanjutkan HS tentu harus beradaptasi dulu mengenai pola belajarnya, karena HS mempunyai prinsip dalam hal “kebebasan” belajar. Dari yang biasanya terstruktur dan terjadwal menjadi bebas dan sesuka hati (walau tentu sesuai pola/gaya masing – masing)

    Demikian juga dengan orang tua, harus ikut menyesuaikan dengan kebiasaan baru. Jangan sampai orangtua kaget dan justru kebingungan ketika memulai HS yang akhirnya membuat semua berantakan. Kaget yang saya maksud adalah orangtua menjadi tidak percaya diri dengan kemampuannya menjadi fasilitator anak, yang kemudian diaplikasikan dengan cara salah;contoh membuat jadwal belajar tanpa berdiskusi dulu dengan anaknya. Bila ini yang terjadi, maka mindset orangtualah yang sebenarnya butuh deschooling

    2. Proses Deschooling

    Saat proses deschooling berlangsung, yang dibutuhkan orangtua dan anaknya adalah banyak melakukan kegiatan bersama sama agar ikatan (bonding/engagement)  semakin kuat. Dalam waktu membersamai inilah nanti diharapkan orangtua dapat “lebih” mengenal karakter anaknya, khususnya dalam hal gaya belajar. Ketika hal ini (orangtua menemukan/mengenali) gaya belajar anak, maka bisa dikatakan bahwa proses deschooling sudah selesai.

    3. Berapa lama deschooling berlangsung?

    Pak Aar dari rumah inspirasi menulis bahwa lama proses deschooling bisa dihitung dari lama masa sekolah yang sudah dijalani, dengan n tahun sekolah = n bulan deschooling, misalkan sudah menjalani sekolah selama 7 tahun, maka masa/proses deschooling sekitar 7 bulan. 

    Bu Septi Peni Wulandani mengatakan, untuk memperkuat bonding/engagement antara ibu dan anak diperlukan sekitar 90 hari berinteraksi dengan melakukan banyak aktifitas bersama.Di sini yang ditekankan adalah penguatan bonding/engagement sehingga pada akhirnya orangtua dan anak menemukan pola belajar tertentu.

    Bahkan ada pula yang tanpa mengalami deschooling sehingga langsung berproses. 

    Nah, apakah ada di antara anda atau anak anda pernah atau sedang mengalami deschooling ini?